Albert Gerson Unfinit merasa perlu untuk keluar dari lingkungan asalnya demi mengembangkan ketertarikannya pada musik. Jalan satu-satunya yang diketahui adalah pergi ke Pulau Jawa. Perjalanan panjangnya dimulai tahun 2002 ketika memutuskan untuk hijrah dari Maumere, kota asalnya, ke Surabaya dan kemudian Jogjakarta.

Ia menggunakan modus banyak anak muda yang pindah ke Jogjakarta untuk menjalani pendidikan lanjut. Dalam kasus Gerson, ia hanya kuat setahun sekolah dan kemudian mendedikasikan diri untuk bermain musik.

Cerita terbentuknya Black Finit, nama panggung yang ia gunakan, bisa dibilang panjang.

Tahun 2004, Gerson yang kala itu sering nongkrong di studio My Mom di area bawah Jembatan Layang Janti, Jogjakarta, menemukan gairah bermusiknya. “Waktu itu tahun 2004 bikin band melodic punk namanya St. Jimmy, jadi vokalis. Itu era awal pas melodic punk lagi trend, Endank Soekamti mulai naik daun,” kenangnya. St. Jimmy sempat merekam lagu berjudul Revolution yang masuk ke kompilasi Studio My Mom, kompilasi yang sampai saat ini tidak pernah terlihat wujudnya.

Di studio ini bertemulah Gerson dengan grup reggae, Marapu, kebetulan karena ia dan band ini sering berbagi tempat latihan. Dari beberapa obrolan, kemudian lahirlah Revolution, band bernapas reggae yang diisi oleh kawan-kawan seperantauan dari Maumere. Bersama Revolution, Gerson sempat merekam demo empat lagu di mana satu lagu mereka, Love is Spread Out sempat dikirim ke beberapa radio lokal yang punya ruang untuk karya-karya band independen.

Selanjutnya, di tahun 2009, jalur hubungan Gerson dengan geng Shaggy Dog terbuka. Secara serabutan, ia bekerja untuk Doggy House, rumah milik Shaggy Dog. Heruwa, vokalis band itu, merasa Gerson punya potensi dan kemudian menyarankannya untuk membentuk band dan bermain reguler di kafe-kafe yang berjamuran di Jogjakarta. Jadilah Black Finit di tahun 2010. Awalnya Black Finit berbentuk band yang kemudian berubah format menjadi proyek solo. “Aku merasa capek bermain sebagai band, ribet,” jelasnya singkat.

Setahun kemudian, pada 25 November 2011, Black Finit merilis Kiri Kanan, mini album yang berisi enam buah lagu yang garis besarnya berkisah bahwa di kehidupan ini, tidak ada yang salah dan benar. Debut mini album itu dirilis secara mandiri lewat label yang ia dirikan sendiri, Gong Waning Production.

Beberapa tahun kemudian, di tahun 2015, Digiyo Digiye, album penuh perdana Black Finit dirilis. Album berisi sebelas lagu itu, sayangnya tidak menemukan pasar yang cocok. Cap sebagai penyanyi kafe terlanjut melekat di dalam sosok Black Finit. Kisah yang tidak sukses itu, tidak juga membuatnya berhenti.

Di tahun 2017 Gerson diajak berkolaborasi oleh produser Grayce Soba yang saat itu baru saja membuka studio musik, Soba Studio. “Saat itu bertemu Soba di Kafe Bintang (sebuah kafe backpacker di area Sosrowijayan -ed) setelah aku selesai maen reguleran. Dia langsung aja ngajak kolaborasi, ya sudah ku iyakan aja,” kenangnya.

Kolaborasi tersebut menghasilkan beberapa komposisi bergenre EDM (Electronic Dance Music) di mana Gerson memainkan gitar serta bernyanyi. Beberapa single diantaranya Mims, No Rule dan Pink Dinner, lahir dari kolaborasi ini.

Di tahun yang sama pula, Black Finit memulai proses rekaman album kedua yang diberi judul Tana. Di sela proses rekaman tersebut muncul tawaran dari DoggyHouse Records untuk merilis single serta bergabung di unit manajemen band mereka. Gayung pun bersambut. Kemudian, dirilislah single Bukan Puisi yang dipenuhi campur tangan nama-nama yang sudah tidak asing lagi di dunia seni Indonesia. Komposisi lagu Bukan Puisi diciptakan oleh seniman fotografi, Angki Purbandono, lalu diproduseri oleh Heruwa serta diperkuat oleh Agan Harahap pada departemen desain dan fotografi. Upaya kolaboratif ini mencoba mengangkat Black Finit kembali ke permukaan dan masuk ke radar orang banyak.

Tahun 2018 merupakan tahun yang penuh kegiatan bagi Gerson. Ia mengajar Bahasa Indonesia untuk orang asing, membuka workshop melukis juga menginisiasi sebuah program bagus bertajuk Keliling Indonesia. Proyek ini membuatnya berkeliling di beberapa asrama mahasiswa daerah yang berada di Jogjakarta untuk mengajak para penghuni menampilkan kesenian tradisional daerah asalnya dalam konsep pertunjukan populer di mana mereka yang nonton duduk melingkari para pemain. Secara khusus, Keliling Indonesia adalah responnya melihat banyak kegiatan mahasiswa penghuni asrama yang singkat; pergi ke kampus dan pulang ke asrama saja. Gerson mengajak mereka untuk memainkan konser musik dan tari tradisional daerah mereka di luar asrama.

Bulan November lalu, Gerson juga kembali membuat proyek musik baru bersama Soba, Danish pada drum (FSTVLST) dan DJ Valdes dari Denmark yang diberi nama Soba Studio. Musik yang mereka mainkan Drum n’ Bass. Lika-liku kisahnya yang punya cabang, seolah menunjukkan ia punya energi besar untuk terus bergerak. Yang paling baru dan bisa dinikmati bersama adalah single Damai Natal yang sudah mulai beredar menyambut periode natal tahun ini.

Yang paling penting, semoga album keduanya bisa segera selesai dan membawanya masuk ke radar orang banyak, sesuai harapan. (*)

Teks: Indra Menus
Foto: Dok. DoggyHouse Records