Maharani Mancanagara: Hikayat Wanatentrem Belum Selesai

Ada banyak peristiwa di masa lalu yang barangkali sudah terlupakan atau sengaja dilupakan. Melalui karya-karyanya, Maharani Mancanagara secara artistik kerap membangkitkan ingatan para audiens untuk kembali menilik pelbagai peristiwa itu, termasuk mengajak untuk menggali kembali babak sejarah peristiwa 1965. Melalui karyanya yang bertajuk “Hikayat  Wanatentrem” Maharani hendak menarasikan kisah-kisah kecil yang belum umum diketahui oleh khalayak banyak tentang bagaimana para tahanan politik yang diasingkan ke Pulau  Buru dapat bertahan, termasuk cerita dari sang kakek yang tertuang apik dalam buku hariannya.

Ada banyak cerita di balik sosok dan karya Maharani, diantaranya adalah mengenai perjalanannya menyusuri pelbagai daerah untuk menggali lebih dalam tentang catatan yang dibuat oleh kakeknya, tentang metode berkarya juga bagaimana mengemas isu sensitif menjadi suatu hal yang sangat layak untuk diterima dan diapresiasi oleh semua kalangan –seperti yang ditampilkan dalam program Agenda Seniman (AMAN)-nya Goethe Institut Bandung yang digelar secara virtual (07/11), dimana Maharani merefleksikan kisah tahanan politik 1965 ke dalam sebuah pentas shadow puppet bertajuk Parodi Partikelir.

Bermula dari penggalian identitas diri sampai bermuara kepada silsilah keluarga. Seorang seniman perempuan yang bermukim di Bandung ini menceritakan segala sesuatu yang melingkupi sosok dan karyanya. Berikut percakapan kami yang dilakukan di kediamannya, di antara sejuknya udara daerah Dago juga tumpukan kayu bekas peti kemas yang siap diolah menjadi sebuah karya.

Hallo Maharani. Boleh perkenalan dulu?

Hallo gue Maharani Mancanagara, gue seorang seniman yang tinggal dan aktif berkarya di Bandung. Tahun 2008 kemaren sempat menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Seni Grafis.

Selama berkarya fokus mu lebih kemana? Sepertinya selalu beririsan dengan isu-isu di masa lalu

Untuk perjalanan karir saya mungkin bisa fokus ke sejarah, banyak membahas tentang periode-periode sejarah Indonesia. Dalam babak karya saya, yang pertama itu saya banyak membahas pendidikan di Indonesia kemudian sekarang babak kedua itu saya lebih banyak membahas di periode peristiwa 1965. Kalau dalam karya saya memang banyak menggunakan medium kayu, dan  kayunya itu adalah kayu-kayunya peti kemas dan saya olah lagi menjadi sesuatu yang baru.

Bagaimana cara kamu berdaptasi di tengah pandemi sekarang agar terus bisa produktif berkarya?

Kalau dalam proses berkarya kan biasanya saya memang banyak melakukan perjalanan, berkeliling ketemu orang, ngobrol langsung, melakukan wawancara, ataupun ngambil-ngambil data, foto atau dokumen gitu. Cuman memang selama pandemi ini tentunya memang jadi ada keterbatasan untuk traveling apalagi ketemu sama orang, terutama orang yang memang sudah lebih sepuh gitu. Di situ pun akhirnya supaya karya tetap jalan memang sangat terbantu dengan telepon jarak jauh, video call, dan apapun yang berubah ke ranah digital dan virtual ini, termasuk pameran pun banyak yang bermigrasi ke online exhibition gitu. Sebetulnya memang sebuah movement yang cukup baik, supaya karya seniman tetap bisa terdistribusikan dengan baik ya. Tapi tetap sih kalo dari saya sendiri rasanya tuh kalo ga lihat (pameran) langsung kurang ngeunah gitu hahaha. Tapi memang ya virtual exhibition sangat membantu seniman sih.

Pun juga dalam proses berkarya sebetulnya saya memang ada perencanaan untuk membuat sebuah pementasan. Tapi dengan adanya pandemi ini juga ya akhirnya kita migrasi juga ke online gitu, dengan kemarin melakukan pementasan online shadow puppet kolaborasi dengan teman saya, Misha Ahmad Azizia.

Sekarang sedang mengerjakan apa?

Saat ini saya lagi ngerjain beberapa karya untuk pameran, karena memang awal-awal pandemi itu banyak banget kan tiba-tiba pameran dibatalin, pameran nggak jadi atau apa, tapi memang bikin karya mah tetap terus sih. Tiba-tiba dari tengah tahun ke belakangan ini jadi tiba-tiba banyak yang ngajakin pameran. Nah sekarang tuh sebenarnya lagi ngerjain karya-karya untuk di tahun ini dan tahun depan, pun juga persiapan untuk residensi yang tertunda. Kalo karya sendiri sih sebetulnya memang saya lagi ada long term project kolaborasi juga sama Misha dan Rio, kami memang sedang mengembangkan karya lain yang ingin didistribusikan secara publik berupa world game.

(BTS Pariodi Partikelir. Doc: Kemala Montesa/Saturasi Moments)

Ketika membuat sebuah karya, biasanya sumber inspirasinya dari mana? Oia barangkali bisa diceritakan juga tentang buku harian sang kakek?

Kalau inspirasi atau trigger awal dari berkarya, ketika waktu kuliah ngobrol sama Pak Tisna Sanjaya –dosen saya juga yang waktu itu ikut membimbing waktu kuliah, beliau sempet kayak ngobrol gitu terus beliau bilang; “setiap seniman tuh kalo berkarya harus jujur, apa yang dialami, kamu harus mengenal diri kamu sendiri dan asal usulmu,” dari situlah saya coba cari tahu siapa sih orang di belakang saya, di belakangnya lagi dan di belakangnya lagi. Nah dari situ berhenti di ‘kok saya gak mengenal kakek saya ya’, memang gak pernah ketemu, karena beliau sudah dipanggil oleh maha kuasa duluan sebelum saya sempat lahir dan saya berusaha mengenal beliau, ngobrol dengan ayah saya, pakde-pakde saya yang kemudian akhirnya salah seorang pakde saya memberikan –menurut saya sih itu harta karun banget- satu box, “nih buku harian kakek silahkan kamu baca untuk kamu bisa tahu siapa kakek kamu dulu,” gitu. Dari situlah perjalanan saya dimulai sebetulnya, bagaimana saya mengenal beliau melalui buku harian tersebut dan melalui periode-periode yang beliau catatkan di buku harian tersebut. Terus di situ pun jadi ada semacam cerminan gitu; “oh periode segini beliau sempat segitunya banget ingin membuat sekolah, memperjuangkan pendidikan bagi pribumi.” Di situ jadi cerminan juga buat saya: umur segini saya masih bolos sekolah, masih cabut-cabutan, ini itu dan segala macam. Dari situlah membandingkan apa yang beliau lakukan dulu dengan apa yang saya lakukann saat ini. Nah kemudian saya jadi tertarik membahas sistem/pola pendidikan di Indonesia dari era Belanda hingga era yang saya alami –kebijakan-kebijakannya seperti apa.

Kemudian ada babak baru di buku harian beliau yang juga baru saya ketahui ketika saya kuliah, bahwa beliau pernah dibawa ke Pulau Buru bersama dengan kawan-kawan lainnya, dan bilangnya sih dilatih di pulau tersebut untuk menjadi manusia Indonesia yang lebih baik. Kemudian dari rasa penasaran saya muncul; “kok apa yang dituliskan di buku harian kakek berbeda dengan apa yang saya pelajari di sekolah dulu tentang peristiwa tahun 1965.” Lalu mulai saya mencoba napak tilas, beliau awalnya ditangkap di mana, saya datang ke lokasi di situ, kemudian dipindahkan ke mana, saya coba datangi. Memang belum sempat saya sampai menelusuri semua periode perjalanan beliau, tapi dari situlah temuan-temuan itu yang kemudian saya coba olah menjadi beberapa karya yang masih saya jalankan saat ini.

Di Indonesia, peristiwa 1965 masih terbilang isu yang sensitif. Bagaimana kamu mengemas isu yang sensitif itu agar bisa diterima oleh khalayak luas, ada metode tertentu mungkin?

Setelah trigger-nya dari situ kemudian mengumpulkan cerita-cerita partikelir, cerita yang memang tidak tercatat atau tidak banyak muncul di permukaan. Nah akhirnya dari situ menjadi landasan saya untuk mengolah cerita-cerita, narasi-narasi tersebut ke bentuk yang lain. Salah satunya di tahun 2018 kemaren saya membuat sebuah dongeng. Mungkin lebih sederhana degan penokohannya itu saya memetaforkan tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut, saya metaforkan menjadi hewan-hewan yang memang juga sering kita jumpai di Indonesia.

Di tahun 2018, di pameran tunggal saya di galeri Soemardja dengan tajuk ‘Zero Sum Game’ di situ saya kali pertama membuat output itu menjadi sebuah dongeng. Bentuknya yang pertama tuh ada cerita bergambar kayak buku dan cerita narasi yang saat ini memang telah ditranslasikan ke dalam beberapa bahasa. Terus ada sebuah instalasi pulau, yang saya sebut pulau ‘Wanatentrem’ itu di mana ketika kancil dibawa ke pulau itu dan mulai dipekerjakan oleh awak perompak gitu. Terus ada lagi pementasan, pementasannya itu memang diperankan oleh rekan saya, Misha Ahmad Azizia, beliau membawakan naskah yang sudah saya buat di buku cerita itu menjadi sebuah  pementasan Shadow Puppet, itu diperuntukkan bagi siapapun sih sebetulnya, supaya bisa diterima dari anak kecil hingga yang dewasa.

Terus outputnya lagi sebetulnya saya long term perpanjangan dari si Hikayat Wanatentrem ini menjadi sebuah game-game papan- yang juga turunan dari kisah yang ingin saya ceritakan supaya memang bisa lebih dinikmati oleh orang banyak gitu. Kalau untuk tujuan dan landasan saya membuat karya ini memang bagi saya hal-hal ini –mungkin juga buat kawan kawan lainnya- yang memang pernah terlibat atau beririsan dengan peristiwa 1965 ini mungkin ada yang sudah selesai atau tidak ingin mengingat itu kembali ataupun memang ada juga yang memang masih berharap untuk ada penyelesaian setelah dari International People Tribunal di Den Haag tahun 2015 gitu. Nah bagi saya menyuarakan hal ini (peristiwa 1965) terus menerus itu penting. Ya mungkin untuk temen-temen juga bisa dapet khazanah baru supaya memang bisa melihat peristiwa ini tuh juga gak cuma dalam satu pintu aja –nah ini ada beberapa cerita lainnya yang memang jadi kayak semacam yang gak tahu bisa jadi tahu, yang tahu juga bisa jadi “oh ini apakah sudah selesai atau belum” dan bagi saya sih harapannya supaya permasalahan ini juga bisa diselesaikan sih oleh negara tentunya.

(Hikayat Wanatentrem. Doc: David Maru)

Apa yang paling berkesan atau menyenangkan dari project yang kamu buat ini?

Dari project sekarang yang masih berjalan juga dari tema ini pun, saya sih sangat senang sekali karena memang jadi terbuka kesempatan untuk bertemu orang-orang baru, bertemu dengan para penyintas, kemudian dengan narasumber-narasumber sejarawan, itu sih yang menurut saya sangat berharga dalam project ini. Sebenernya sih yang paling senang adalah ketika saya melakukan perjalanan karena memang banyak menemukan hal baru, bisa jadi tempat baru, orang baru, temuan-temuan baru sih.

Kenangan yang paling diingat selama perjalanan?

Banyak sih sebetulnya hahaha

Karena memang ketika ketemu sama orang baru dan itu rata-rata biasanya saya sendiri sih, melakukan perjalanan di tempat baru dengan bermodalkan Google maps dan sewa kendaraan. Yaudah bermodalkan itu saya ketemu orang punten-punten menceritakan background saya dan kemudian jadi ada masukan baru gitu. Yang paling berkesan sih ketika di Surabaya ketemu  bersama salah seorang narasumber, namanya pak Oei Hiem Hwie, beliau adalah founder dari perpustakaan Medayu Agung, beliau juga seorang penyintas yang memang ditangkap mungkin karena beliau juga seorang Soekarnois dengan background seorang jurnalis di harian Terompet Masyarakat, nah dari situlah saya mendengar banyak cerita, dan beliau cukup familiar dengan kakek saya. Dari situ saya merasa seperti ngobrol sama kakek sendiri sih dan cukup miris ketika apa yang ia ceritakan dan saya bayangkan itu terjadi juga pada leluhur saya

Pas melakukan perjalanan itu apakah riset dulu atau impulsif aja?

Awalnya sih dari si buku harian itu. Kan di buku harian ada tertulis bahwa ditangkap di mana, dibawa ke penjara mana, tanggal berapa, nah dari situ jadi clue-nya. Cuman memang yang paling saya masih penasaran –mungkin udah dijelaskan sama Pak Hwie ini ya- bahwa bagaimana cara kakek saya bisa menyelundupkan buku harian yang ketika beliau tulis itu –banyak loh (buku) saya dapatnya satu dus dan tipis-tipis- itu dia bilang caranya ditaro di paha atau di kaki kemudian diikat pake karet gelang, aku sudah agak-agak lupa ya kayak metode pemeriksaannya bagian mana-mana saja yang diperiksa (oleh petugas kamp Pulau Buru) cuman si bagian itu yang dikaretin itu yang memang nggak dipegang.

Itu cukup seru sih ketika mendengar cerita-cerita pak Hwie bagaimana dia berjuang untuk bikin si tali tint mesin tik supaya bisa dipake lagi sama Pramoedya Ananta Toer gitu. Terus bagaimana mereka ngebersihin si tintanya, bagaimana mereka menyelamatkan naskah-naskahnya Pramoedya ataupun bagaimana menyelundupkan naskah supaya bisa keluar dari pulau itu –dititipkan ke pastor atau pendeta yang datangkah atau bagaimana- itu sih yang membuat saya wow...

(Hikayat Wanatentrem. Doc: David Maru)

Berarti berawal dari buku harian terus menelusuri dan menemukan hal-hal baru lagi

Sebetulnya memang kalo dari akut si karyanya itu memang tidak melulu menceritakan tentang apa yang dilakukan oleh kakek saya ataupun apa yang dituliskan itu. Buku harian itu yang membawa saya “oke ke sini dulu” nah dari situlah saya mendapatkan cerita-cerita dari orang-orang baru sih yang akhirnya membuka dan membuka ke orang-orang yang lain juga.

Statement apa yang ingin kamu sampaikan ke khalayak ramai melalui karya mu ini?

Kalau pedoman bagi saya sih, dalam segala hal kayak manusia bisa berencana tapi Tuhan dan manusia yang menentukan, bukan Tuhan doang tapi kita juga harus berusaha.

Mau dikembangin kemana lagi nih selanjutnya dari project yang sekarang kamu jalanin?

Sebetulnya memang dongeng tentang Hikayat Wanatentrem ini pun sebetulnya belum selesai, masih ada seri-seri selanjutnya, masih akan ada cerita-cerita tambahan berikutnya karena memang saya banyak banget pengen gitu ingin menuangkan tapi memang gak bisa semuanya gitu. Kemarin terakhir lewat pementasan Puppet Shadow itu ingin mencoba ngeluarin satu seri narasi yang akan kepengennya sih diteruskan dengan narasi-narasi yang lain.

Ada harapan tertentu kepada mereka (audience) yang melihat karyamu in?

Kalo bagi saya pribadi sih dengan karya ini yang saya harapkan dari audience adalah bisa lebih, balik lagi sih kenapa saya mengangkat ini karena memang ketika saya tahu permasalahan ini, mencari tahu tentang kakek dan mencari tahu lebih dalam lewat cerita-cerita yang beredar dan saya pun ngobrol dengan generasi-generasi, atas ataupun bawah saya sebenarnya nggak terlalu banyak yang tahu ataupun nggak terlalu peduli dengan hal ini, sedangkan bagi saya ini tuh penting banget. Dengan menyuarakan ini terus menerus bagi saya sih memang jadi cara supaya orang tuh juga mau tahu apa sih yang sedang saya kerjain dan kenapa sih saya bikin ini. Nah dari situlah bagi saya jadi cara bagaimana tetap menyuarakan dan menganggap hal-hal ini pun penting.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Maharani Mancanagara

Nada Siasat: Bermimpi di Ujung Maret

Memasuki bulan Maret, pertunjukan musik secara langsung kini sudah diberi lampu hijau oleh para pemangku kebijakan. Gelaran musik dari yang skala kecil sampai skala besar kini sudah mulai muncul ke...

Keep Reading

Galeri Lorong Langsungkan Pameran Seni Bernama IN BETWEEN

Berbagai momentum di masa lalu memang kerap menjadi ingatan yang tak bisa dilupakan. Apalagi jika irisannya dengan beragam budaya yang tumbuh dengan proses pendewasaan diri. Baru-baru ini Galeri Lorong, Yogyakarta...

Keep Reading

Refleksikan Sejarah Lewat Seni, Pameran "Daulat dan Ikhtiar" Resmi Digelar

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengadakan sebuah pameran temporer bertajuk “Daulat dan Ikhtiar: Memaknai Serangan Umum 1 Maret 1949 Melalui Seni”. Pameran ini sendiri akan mengambil waktu satu bulan pelaksanaan, yakni...

Keep Reading

Ramaikan Fraksi Epos, Kolektif Seni YaPs Gelar Pameran Neodalan: Tilem Kesange

Seni tetap menjadi salah satu jawaban untuk menghidupkan dan menghangatkan kembali keadaan di masa pandemi. Untuk itu dengan gerakan gotong royong dalam ruang seni baur Fraksi Epos mengajak kolektif seni...

Keep Reading