Lusi Pakan Sumbi; Sebuah Pertunjukan Instalasi Tekstil

LUSI PAKAN SUMBI: FAILURE DE COUTURE adalah sebuah pertunjukan instalasi tekstil/textile installation performance, yang merujuk pada ragam tatapan atas tekstil, baik kekhususan materialitasnya, politik keruangan dari wilayah industri tekstil. Jejak dan hal-hal yang dianggap cacat dan gagal akibat semesta tekstil. Sebuah kunjungan kritis atas busana dan pakaian yang biasa kita kenakan.

Sutradara Taufik Darwis salah seorang pendiri dari Bandung Performing Arts Forum (B.PA.F) yang dikenali dengan praktik artistiknya yang melintas antara teater, tari, seni pertunjukan dan penelitian pertunjukan. Bekerjasama dengan Widi Asari yang sehari-hari bekerja sebagai desainer fesyen dan tekstil, saling mempertukarkan bahasa antara seni pertunjukan dan dunia fesyen yang bergerak diantara skenografi runaway, koreografi – langkah berjalan, ruang depan dan ruang belakang, front stage dan backstage, hingga isu material dan isu tubuh. Pertukaran teknis tersebut dimaksudkan sebagai perangkat kepengrajinan untuk membongkar ulang ide pasti yang kadung kita terima atas gagasan soal pakaian.

Lusi Pakan Sumbi: Failure De Couture merujuk kepada dua hal, yaitu: alat tenun tradisional dari khazanah kepengrajinan kain, yang juga dikaitkan dengan satu momen legenda di Jawa Barat saat jatuhnya gulungan benang pakan dari tangan Sumbi saat menenun Boeh Rarang. Siapapun yang dapat mengambil gulungan benang tersebut akan mendapatkan imbalan. Tumang, anjing jantan penjaganya Sumbi, yang membawakan benang tersebut pada akhirnya menjadi suami dari Sumbi.

Tumang yang kemudian menjadi suami memiliki banyak perluasan makna, anjing menjadi pengkelasan dari semesta antroposen kisah-kisah mitos, manusia sebagai pemilik kuasa. Anjing, sang pesuruh yang berjasa kemudian menyeberang menjadi setara dengan manusia adalah cara-cara kritik, aturan, ejekan sekaligus medium aturan dari alam masyarakat agrikultur pra-Islam.

Tumang dalam proyek seni ini, kemudian dijadikan landasan melihat antara kekuasaan dan pesuruh, labourship, dan kerentanan masalah di sekitar semesta “gulungan benang”, yaitu: tekstil. Masalah tak selesai saat Tumang memberikan gulungan benang kepada Dayang Sumbi. Hari ini gulungan benang kemudian menjelma menjadi “peradaban tekstil” yang rumit dan berlapis, mulai dari hulu produksi (pabrik dan manufaktur) hingga hilir presentasi (fashion show).

Pada momen seperti apa sebuah peradaban tekstil dirasa gagal. Peradaban yang telah menghidupi daya ekonomi dari ruang Cigondewah, baik sebagai peranti sehari-hari maupun yang telah mengalami pencanggihan di ruang “fashion show”. Pertunjukan ini mencoba meminjam “hautue couture”/ “adibusana” terhadap para perancang busana yang dianggap menghasilkan karya unik dan desain di Le Chambre Syndicale de la Haute Couture, penamaan ini berdasarkan/ejekan/kritik terhadap budaya mode tinggi yang justru menghasilkan pengkelasan atas tubuh sempurna dan tidak sempurna, rezim pengukuran di dunia busana tinggi. Tegangan berbudaya dan tidak berbudaya, kegagalan ekologi, kegagalan keselamatan pekerja, kegagalan kesejahteraan sosial, bias dan jejak dari perubahan lanskap yang tak sempurna.

Alih-alih menggunakan bahan jadi, pertunjukan ini sepenuhnya melakukan swa- desain dengan sisa- sisa material yang tersebar. Swa- desain atas busana, ruang, suara, tubuh dan jejak-jejak pengalaman tak sempurna akibat industri tekstil.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Lusi Pakan Sumbi

Semeti Medley, MV The Dare Besutan Allan Soebakir

Pantai! Lombok! Apa yang pertama terlintas di benak kita mendengar dua kata diatas. Tentunya hamparan garis pantai nan panjang lengkap dengan pasir putih, ombak yang riang dan air laut yang...

Keep Reading

Morgensoll Luncurkan Nomor Ganda “NT/M(o)” dan “Till I’m Forgiven”

Unit post-metal Jakarta, Morgensoll baru-baru ini telah memperkenalkan karya teranyanyar. Kali ini mereka datang dengan nomor ganda “NT/M(o)” dan “Till I’m Forgiven” yang sudah bisa dinikamti di semua kanal musik...

Keep Reading

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading