Lelang Online: Solusi Terbaik Penjualan Karya Seni

Rumah lelang internasional Sotheby’s telah mengumumkan pendapatannya untuk tahun 2020 sejauh ini, laporan tersebut adalah penjualan sebesar $ 2,5 milyar USD hingga akhir Juli kemarin. Namun sebagai catatan penting mereka, jumlah ini turun 25% dari periode yang sama di tahun lalu, hal tersebut secara langsung juga memperlihatkan angka yang lebih baik dari perkiraan terhadap gangguan yang disebabkan oleh Covid-19 dan mereka terus menunggu langkah-langkah apa yang akan diambil oleh pemerintah selanjutnya. Salah satu kekuatan pendorong di balik kinerja ini adalah peningkatan penjualan online di sepanjang tahun. Dengan lebih dari 180 penjualan online, dan juga volume naik hingga 540%, Sotheby membawa lebih dari $ 285 juta USD melalui saluran ini, untuk pertama kalinya ini adalah sebuah hal yang menakjubkan di mana penjualan online bisa menghasilkan lebih dari 10% dari total penjualan.

Ketika pandemi yang saat ini melanda dan kemudian mendatangkan malapetaka di dunia, dan menyebabkan banyak negara dengan terpaksa untuk menerapkan tindakan penguncian yang dimulai sekitar bulan Maret, banyak pasar seni dan rumah lelang menjadi was-was terhadap keadaan yang ada. Namun, Sotheby dengan cepat mulai meningkatkan kegiatan lelang online mereka. Antara 1 Januari dan 31 Juli, lebih dari 180 lelang online telah diadakan yang melibatkan 44 kategori lelang yang berbeda, dari sana, mereka menghasilkan kenaikan 540 persen dalam penjualan online bila dibandingkan dengan 2019. Lelang online berkisar dari penjualan barang tunggal, seperti halnyasepasang Air Jordan 1s tahun 1985, ditandatangani dan dipakai oleh Michael Jordan, dan dijual seharga $ 560.000 (~ £ 430.000), untuk acara pelelangan besar. Mengumumkan hasilnya, CEO Sotheby Charles Stewart mengatakan, “Tim kami berhasil mengambil keadaan beberapa bulan terakhir dan mengubahnya menjadi peluang, yang memajukan banyak inisiatif yang kemungkinan akan mengubah bisnis kami selamanya.”

Sotheby's

“Pasar seni telah terbukti sangatlah banyak peminatnya, dan permintaan untuk barang berkualitas di seluruh kategori tidak berkurang.” Kata Charles Stewart, CEO Sotheby, dalam siaran pers. Menurut Pi-eX (sebuah perusahaan analisis pasar seni di London), meskipun mereka menunjukkan kinerja penjualan online yang kuat, penurunan pendapatan keseluruhan ini disebabkan oleh penurunan 42 persen dalam penjualan lelang secara langsung, yang sejauh tahun ini hanya menghasilkan $ 1,6 miliar (£ 1,2 miliar). Sebagian besar keberhasilan Sotheby dalam mensukseskan program lelang di tahun yang sangat berat ini dihubungkan dengan inovasi yang memungkinkan mereka untuk lebih mudah beradaptasi, tetapi sebenarnya pendapatan dari lelang secara langsung tetaplah menjadi pemegang kunci dalam keberhasilan rumah lelang di seluruh dunia.

Selain keberhasilan penjualan virtual, Sotheby juga memperkenalkan inisiatif baru untuk penjualan, seperti Sotheby’s Gallery Network. Aliran pendapatan baru ini adalah bagian penting dari strategi Sotheby untuk menarik kolektor seni yang baru dan yang lebih muda. Bersamaan dengan inisiatif baru tersebut, Sotheby juga mengadakan dua lelang global secara langsung. Secara keseluruhan, nilai lot rata-rata untuk penjualan digital dan langsung lebih dari $ 20.000 USD, dua kali lipat lebih besar sejak 2019. “Meskipun didorong oleh kebutuhan, jelas bahwa minat dan kepercayaan klien kami terhadap teknologi telah berubah secara mendasar,” kata Stewart.

Industri pasar seni, seperti halnya sebagian besar industri ekonomi global lainnya, saat ini jelas sangat terpuruk akibat pengaruh adanya wabah Covid-19. Banyak pameran seni dan lelang telah dibatalkan atau dikonversi ke format ‘hanya’ online. Wabah virus corona yang menyebar di seluruh dunia tentu saja telah memaksa banyak museum dan galeri untuk mengevaluasi kembali bagaimana karya seni dan para seniman agar dapat ditampilkan secara online kepada khalayak yang lebih luas. Beberapa waktu kemarin, Museum Seni Online Virtual (VOMA) akan menjadi museum virtual interaktif pertama di dunia. Dikuratori oleh Direktur Museum Lee Cavaliere dan dibangun oleh seniman Stuart Semple, VOMA akan menghadirkan karya-karya dari beberapa institusi paling bergengsi di dunia, termasuk Musée d’Orsay, Museum Seni Amerika Whitney, Museum Seni Modern, Museum Seni Modern, New York dan Institut Seni Chicago. Yang terpenting, siapa pun di dunia dapat mengakses pameran ini secara gratis.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip Sotheby’s

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading