Laporan Eksperimen Konser di Tengah Pandemi

Pandemi yang tak kunjung selesai membuat segala sesuatu menjadi sulit. Berbagai sektor industri kian padam, termasuk industri hiburan –salah satu sektor yang mungkin paling terdampak. Tak terhitung, nyaris satu tahun sejak wabah Covid-19 menerpa, sudah berapa ratus gelaran musik yang dibatalkan, dari gelaran berskala kecil sampai dengan festival berskala besar. Pelbagai upaya pun sudah dilakukan untuk menyiasati agar industri musik ini tidak mati, dari mulai festival daring sampai festival luring yang mengharuskan penonton untuk berjaga jarak, seperti konser drive-in ‘Bali Revival 2020’ atau  festival musik yang diselenggarakan oleh Virgin Money Unity di Inggris di mana penonton harus berada di dalam brikade.

Baru-baru ini sekelompok peneliti di Jerman barangkali membawa kabar baik untuk kalian yang rindu dengan konser musik. Pasalnya baru-baru ini  mereka telah merilis hasil penelitiannya yang menunjukan bahwa tingkat penyebaran virus corona di konser musik dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti memastikan ventilasi udara yang memadai, protokol kebersihan, dan kapasitas yang dibatasi, maka tingkat resiko penularannya adalah “rendah hingga sangat rendah”.

“Tidak ada alasan untuk tidak mengadakan konser seperti itu,” kata Dr. Michael Gekle, bagian dari tim di Universitas Martin Luther Halle-Wittenberg yang melakukan penelitian. Dikutip dari The New York Times ia mengatakan: “Risiko terinfeksi sangat rendah.”.

Seperti kita ketahui, sejak bulan Agustus 2020 lalu, sekelompok ilmuwan dari Jerman yang dipimpin oleh Dr. Stefan Moritz melakukan sebuah eksperimen dimana mereka mengadakan sebuah konser musik offline untuk mempelajari resiko penyebaran virus Covid-19. Selama masa percobaan, konser musik tersebut setidaknya berlangsung dalam satu hari dan didatangi oleh lebih dari 1.400 relawan sehat yang berusia antara 18 dan 50 tahun dengan menampilkan seorang musisi Jerman bernama Tim Bendzko.  Tak lain dari diadakannya konser ini bukan hanya untuk senang-senang semata, namun di sana para ilmuwan sedang menganalisis risiko yang ditimbulkan oleh acara yang dihadiri banyak orang di suatu ruangan selama pandemi.

Seperti yang dilaporkan oleh The New York Times, para peneliti  melakukan beberapa skenario dalam eksperimennya, salah satunya adalah mengenai pengaturan udara dalam ruangan melalui ventilasi. Dari hasil tersebut para peneliti menemukan bahwa ventilasi udara adalah variabel yang sangat penting dalam membatasi penyebaran virus. Kemudian para peneliti menemukan bahwa jarak sosial merupakan faktor yang sangat signifikan dalam mengurangi paparan aerosol orang yang terinfeksi. Selama penelitian tersebut bahwa waktu yang rentan terpaparnya virus adalah selama istirahat pertunjukan dan ketika penonton konser pertama kali tiba di venue.

Dari hasil penelitiannya tersebut, tim peneliti telah membuat serangkaian rekomendasi untuk dijadikan panduan keselamatan di konser musik secara offline, termasuk memasang teknologi ventilasi baru yang secara efektif dan teratur  untuk bertukar udara, kemudian istirahat makan dan minum, juga membuat masker wajib khusus dan mengarahkan peserta melalui banyak pintu masuk.

Namun masih ada beberapa peneliti yang masih meragukan dari hasil penelitian ini, terlebih dalam penerapannya secara masal. Seperti misal presiden epidemiologi dan kesehatan masyarakat Royalty Society of Medicine, Dr. Gabriel Scally mengatakan bahwa hasil dari penelitian ini berpotensi “berguna” tetapi mungkin akan sulit untuk meniru kontrol yang telah diterapkan para peneliti di banyak peristiwa kehidupan nyata.

Untuk dokumen hasil penelitian lengkapnya bisa kalian klik disini.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip The New York Times

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Adaptasi Kehidupan Digital di Koleksi Terbaru Monstore

Jenama pakaian dan gaya hidup Monstore mengumumkan koleksi terbaru mereka dengan nama “New Fictional Temptation”. Koleksi ini diluncurkan sebagai rilisan ‘solo’; non-kolaborasi dari Monstore setelah berbulan-bulan lebih fokus bekerja sama...

Keep Reading