Lapisan Baru Generasi Musik di Lombok

Sesuatu yang mengejutkan sedang terjadi di Lombok. Bagaikan bola salju, generasi baru musik di Lombok lahir setiap hari dan membesar. Mungkin kita akan berpikir, bagaimana bisa hal itu terjadi manakala gelombang pandemi belum kunjung surut. Mengingat, segala hal, termasuk yang berkaitan dengan laku-laku di panggung kesenian mestilah juga terhambat karenanya.

Keresahan itu tentu terbaca dengan jelas oleh kawan-kawan skena musik di Lombok. Alhasil, siasat kolektif perlu dimaksimalkan agar segala sesuatunya dapat menemukan semacam titik terang. Harapan pada titik terang inilah yang kemudian membuat musisi seperti Kang Ary Juliyant mengapresiasi semangat skena musik Lombok atas keproduktivitasannya.

Skena musik yang sedang memanas inilah kemudian memunculkan musisi-musisi Lombok dengan berbagai karakternya yang tak bisa dipungkiri, membawa angin segar ke telinga penonton. Seperti Paris Hasan, Abhy Summer, Pamela Paganini, No Big Deal, Sundancer, Eggie Ross, Tangan Kiri, Roll With The Punch, Lavie, Sidzia Madvox, Sisasa, dan lain-lain yang rasanya masih banyak belum saya sebutkan.

Semenjak pulang ke Lombok pada awal 2020 setelah menempuh lelahnya kehidupan kampus selama empat tahun sebelumnya, banyak hal, sangat banyak hal yang ingin saya ceritakan. Terutama tentang bagaimana genealogi kebangkitan skena musik di Lombok dari yang saya ketahui. Meski apa yang akan saya sampaikan – mungkin – bukanlah satu-satunya perspektif yang bisa anda terima.

Konskuensi daerah yang jauh dari Jakarta membuat skena musik di Lombok, sejak dulu, sudah berdiri secara independen. Katakanlah bila atmosfer musik bisa terbentuk seperti sekarang, sebagian besar berkat peran dari gerakan-gerakan kolektif komunitas-komunitas yang bahkan tidak hanya berasal dari latar belakang musik alih-alih dukungan industri kreatif. Sastra misalnya.

Di Lombok, orang-orang tidak akan asing dengan sebuah komunitas bernama Akarpohon Mataram. Komunitas ini sebagian banyak berkegiatan di wilayah sastra. Setiap tahunnya, setidaknya lima tahun terakhir ini, ada dua program Akarpohon yang turut berkontribusi membangun kehidupan musik di Lombok, yakni: perayaan buku dan microfest.

Perayaan Buku adalah suatu program bulanan dari Akarpohon yang dimaksudkan untuk mengapresiasi kelahiran buku dari seorang penulis. Di program ini pula, Akarpohon akan mengundang musisi tertentu untuk melakukan respons terhadap karya si penulis tersebut. Semacam upaya transformasi teks sastra menjadi teks musik.

Tidak jauh berbeda dengan Perayaan Buku, Microfest juga memiliki konsep yang hampir sama. Hanya saja, di dalam Microfest, melibatkan lebih banyak penulis sastra dan musisi untuk melakukan presentasi karya. Sehingga acara ini bisa berlangsung hingga selama seminggu. Karenanya tidak seperti Perayaan Buku yang digelar bisa sekali dalam sebulan, Microfest justru menunggu waktu yang lebih lama; yakni sekali dalam setahun – di samping juga melibatkan banyak komunitas dalam gelarannya.

Sementara itu, di luar dari Komunitas Akarpohon, kita juga akan mengenal tiga kantung lain dengan semangat yang sama. Adalah Teman Baca, Erkaem, Aroo Creative Space. Ketiga komunitas ini, masing-masing memiliki ruang yang selalu berdetak setiap minggunya, dan tentu saja dengan program mereka yang berbeda-beda. Kesemuanya – meski banyak lagi yang belum saya sebutkan – memiliki caranya tersendiri dalam merangkai panggung-panggung kesenian.

Respons-respons yang memunculkan ruang alternatif ini sebenarnya terjadi bukan tanpa alasan. Ini bermula ketika Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, yang dalam bayangan anda mungkin akan menjadi ruang arus utama dalam mengekspresikan karya seni, justru malah kelewat sulit untuk diakses. Adanya kesulitan ini sebenarnya tidak dilakukan secara terang-terangan. Namun, rumitnya administrasi, alur birokrasi, dan biaya sewa yang tinggi membuat para seniman mesti berpikir ulang untuk menggelar kegiatan kekaryaan di tempat tersebut – di sisi lain volume apresiator belum terlalu kuat.

Atas dasar keresahan itulah, muncul kemudian ruang-ruang alternatif dan gerakan-gerakan “klandestin” seperti yang saya sebutkan di atas. Beruntungnya, para musisi berhasil memanfaatkan situasi terbatas itu sebagai kesempatan untuk mempertebal eksistensi kekaryaan mereka. Dan benar saja, sejak dulu, apresiator kesenian – terutama musik – di Lombok yang semulanya bisa dihitung jari, dan setelah munculnya berbagai hal yang saya sebutkan tadi, kini telah berhasil menjadi rantai ekosistem yang utuh dan ramai di saat bersamaan.

Maka, nanti, bila anda berkesempatan berkunjung ke Lombok. Jangan ragu untuk melakukan wisata musik. Dan jangan terkejut, bila nanti musik-musik yang anda temukan bisa memiliki berbagai corak; dari Folk, Folk Rock, Hiphop, Reggae, Ska, Blues, Jazz, hingga Grunge. Sebab saat ini, wilayah yang penuh dengan suara, nada dan tempo itu sedang bergeliat secara masif.

 

Teks: Robbyan Abel Ramdhon lahir dan besar di Lombok. Alumnus Ilmu Komunikasi, FISIP, Unair. Kini menjadi manager program di Aroo Creative Space dan pimpinan redaksi di Lasingan.ID

Media Sosial: Robbyan Abel R (FB) / @Robbyanabel (Twitter/Instagram) 

Visual: Arsip dari Robbyan Ramdon

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading

Koil Rilis Digital EP Lagu Hujan

Band rock industrial asal Bandung, Koil resmi merilis album mini terbaru berjudul Lagu Hujan dalam format digital (22/7) diseluruh layanan streaming musik. Perilisan ini merupakan milestone lanjutan dari Otongkoil (vokal),...

Keep Reading