“Gue gak ngerti ya indie atau apa, yang gue pahami adalah ketika kita mau maju sama-sama, ayo bergerak bareng.”

Label rekaman semakin hari semakin banyak jumlahnya. Ada yang hadir secara terstruktur, profesional dan penuh pertimbangan bisnis. Tapi ada juga yang membangun label rekaman dengan semangat untuk membantu orang dan bersenang-senang.

LaMunai, untuk sekarang, bisa dikategorikan yang membantu orang dan bersenang-senang. Tentu, tidak konyol secara ekonomis. Ada neraca yang dipertahankan untuk menjaga napas. Sejak dua tahun terakhir, mereka konsisten merilis karya-karya bagus. Nama-nama menarik seperti Rub on Rub, The Paps, Hello Benji and the Cobra, The Panturas dan sederet nama lain ada di dalam deretan rilisan. Itu yang band-band hari ini, yang sempat menghebohkan adalah ketika LaMunai Records merilis kembali album Philosopy Gang dari Harry Roesli di 2017 lalu.

Selain merilis sejumlah karya, LaMunai juga berinisiatif membuat sejumlah pertunjukan, juga dalam kerangka bersenang-senang. Kami mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan Rendi Pratama, pendiri sekaligus pemilik label ini.

Bagaimana cerita terbentuknya LaMunai?

Awalnya mulanya jualan plat pas gue masih kuliah di Bandung sekitar tahun 2009 atau 2010. Awal mulanya itu nama buat jualan online. Iseng-iseng dulu pas masih kuliah.

Tranfromasi dari jualan plat menjadi label?

Itu usulan teman-teman, gue ngobrol dengan teman-teman dan banyak dapat masukan. Ketika itu gue udah menetap di Jakarta. Idenya sekitar tahun 20015 atau 2016 gitu, gue lupa persisnya. Sekitar awal 2017, kami merilis EP Rileksnya Bangku Taman. Oh ya, mengenai pemakaian nama LaMunai, tadinya untuk label gue nggak pengen pakai nama yang sama. Karena kan itu cuma buat jualan dulu dibikinnyakan. Terus teman-teman bilang, nggak usah cari nama lain, mending tetap pakai nama LaMunai, kan orang udah pada tahu.

 

Proses kurasinya bagaimana untuk pemilihan musisi yang dirilis?

Ini standar banget, yang gue suka saja, bodo amat (Tertawa). Kalau secara genre sebenarnya apa saja, karena yang udah dirilis kebanyakan rock tapi yang nggak setipe, itu karena ingin seru-seruan.

Subjektiflah ya.

Ya, emang subjektif. Pertama emang karena gue suka rock. Tapi juga rocknya nggak jelas, yang penting asyik saja.

Tahun lalu, kan LaMunai cukup menghebohkan dengan merilis kembali album legendaris PhIlosopy Gang dari Harry Roesly, kenapa bisa tercetus ide itu?

Jadi begini, awal muncul ide itu waktu gue selesai kuliah di Bandung dan kemudian menetap di Jakarta. Waktu itu teman-teman ada yang merilis kembali album-album musisi Indonesia, reissuelah lebih tepatnya. Kebanyakan yang direissue adalah band-band yang 90’s. Gue juga kepikiran, kepengen nih untuk itu. Jadi gue dapat ide, kayaknya band tua aja nih yang gue rilis. Bayangan yang langsung keluar di kepala gue ya albumnya Harry Roesli. Kalau Koes Plus, Panbers atau yang lain kan sudah ada cd-nya. Nah itu, Harry Roesli menarik di mata gue, walaupun dulu banget gue nggak tahu seberapa kerennya dia. Gue cuma tahu dia itu juri AFI di Indosiar ( Tertawa). Tapi ide untuk merilis kembali album dia, itu udah lama banget ada. Sebelum label ada.

Merilis plat kalau secara ekonomi bagaimana sih?

Sejauh yang gue rilis, lebih menarik plat. Gue pengen coba nanti semua catalog ada juga versi plat nya.

Tidak semua rilisan dari LaMunai berbentuk plat kan?

Pengennya sih kedepan, iya. Kami berharap 75% dirilis dalam bentuk plat. Gue berharap sampai kapanpun orang akan beli fisik.

Untuk mereka (musisi), yang ingin dirilis oleh LaMunai bagaimana prosedurnya?

Ya gue mau banget, terbuka saja. Kembali ke yang tadi, apa saja yang penting gue suka (Tertawa). Ada banyak sih yang sudah mengirim. Tapi kadang-kadang gue bingung karena kebanyakan. Takutnya nanti malah nggak fokus dan nanti terkesan menelantarkan. Tapi nggak menutup kemungkinan nanti gue seperti label yang lain, bikin ini dan bikin itu. Gue mau. Sampai hari ini gue masih belajar untuk itu.

Harapan lo ke depan untuk LaMunai?

Gue ingin selalu merilis karya yang bagus. Karya yang akan selalu diingat orang. Terlepas laku atau tidak laku, yang penting karyanya bagus. Di zaman sekarang, yang jelek pun bisa terkenal. Nah, alangkah lebih baiknya yang dirilis itu bagus dan terkenal (Tertawa).

 

Wawancara/ teks: Rio Jo Werry
Foto: Dok. LaMunai Records