Kutukan yang Candu dari Raisa Untukmu

Butuh waktu beberapa menit untuk memulai sebuah kalimat pembuka ketika menulis tentang apa yang sangat melekat dan terjadi bertahun-tahun. Saya memutuskan kalimat tadi adalah kalimat pembuka walaupun biasa saja namun sangat berkeringat dan menggebu-gebu. Saya tidak terbiasa menulis menye-menye, namun ketika disuruh merasakan dan menulis ulang mengenai “kutukan Cinta Pertama” baiklah, saya bersedia di garda depan, seperti tentara yang menunggu musuh pertama datang. 

Ada beberapa jenis kutukan jika melihat dari beberapa varian, kutukan yang membuat kamu akan menyesal karena pernah melakukan, dan kutukan yang memberikan efek candu karena saking seringnya pernah dirasakan. Jenis varian kedua lah yang membuat kutukan itu akan sangat aneh jika kita sudah tidak berada dalam kutukan itu sendiri.

Manusiawi mungkin ketika kamu sudah terlanjur klik dengan lirik sebuah lagu, kamu akan melupakan sementara unsur-unsur lain yang ada di dalamnya, seperti aransemen, artistik dan lainnya, nanti dulu ya, saya mau menceritakan ulang apa yang dirasa ketika mendengar dan membaca lagu Raisa terbaru Kutukan Cinta Pertama. 

“Cuma aku belum puas tersakiti” sebuah penggalan lirik yang berperan sebagai gate selamat datang bagi kaum tersakiti namun menikmati untuk bertualang lebih lanjut ke dalam lagu yang ditulis selama masa pandemic ini, jika saja Raisa bertujuan satire dalam lagu ini, katakanlah ia berhasil membuat (setidaknya) saya merasa malu seperti ditelanjangi, namun jika saja Raisa memang menyuarakan semangat menikmati rasa sakit karena perasaan pertama yang tidak mungkin jadi yang kedua atau ketiga, katakanlah ia juga berhasil membuat (setidaknya) saya mengingat, dan membuka lagi Gooogle photo, dan tertampar bahwa rasa sakit yang dihasilkan kutukan cinta pertama memang berada di etalase yang terawat dan rapi, Energi yang dihasilkan dari lagu ini tidak membuat saya berfikir “Siapa sih mantan pertama Raisa?” tapi malah mengatakan “Oh mantan pertamaku, silahkan sakiti aku lagi semaumu”.

Ini adalah pertama kali saya terlibat secara  emosional di karya Raisa karena mengemas lagunya dengan sangat apik, apik yang bener-bener apik seperti Raisa yang coba mengenalkan sisi lainnya, bayangkan saja lirik yang bisa membuat orang seketika berhenti dari laju motor ketika mendengarkan liriknya namun dibalut dengan suguhan visual penuh dengan ekspresi senang, bahagia, marah dengan latar 60 atau 70 an hasil garapan Aji Yudistira.

Tidak hanya itu, dengan musik berbalut  groove yang dibantu tim produser S/EEK (Marco Steffiano, Adrian Rahmat Purwanto, Jessi Mates, dan Josh Kunze) kamu juga masih memiliki kesempatan untuk bisa berdansa sedikit, tentunya dengan tetesan air mata yang akan menggenangi lantai dansa, Rasanya seperti mendengarkan Raisa pada awal-awal kemunculannya. Meski begitu Raisa menuturkan banyak mengalami perubahan dalam sisi personal life di beberapa tahun belakang, dan ketika pandemic datang membuat Raisa memiliki perspektif baru dan kekuatan baru dalam proses kreatif. 

Sebagai penutup, saya tidak tahu harus berterimakasih kepada siapa, kepada Raisa atau Cinta pertama saya?

 

Teks: Alkadri

Visual: Arsip dari Raisa