Kopi Lokal Bercita Rasa Death Metal

Tak bisa dipungkiri, di Indonesia kopi merupakan komoditas utama. Gunung yang bertengger dengan suhu udara yang terbilang stabil bisa menjadikan pelbagai varietas tanaman kopi ini tumbuh subur dengan kualitas terbaik. Selain itu Indonesia adalah salah satu negara penghasil biji kopi terbesar di dunia. Di masa pandemi seperti sekarang, olahan biji kopi Nusantara mampu menjadi solusi nyata akan pertahanan ekonomi berbasis kerakyatan. Melihat  potensi yang ada, Dark Ages Coffee yang bermarkas di Yogyakarta mencoba untuk menyesap segala semangat yang ada di baliknya. Tak hanya sebagai ladang usaha semata, namun lebih jauh lagi mereka menjalankan bisnis ini dengan semangat kolaborasi.

Pada 12 Desember kemarin, Dark Ages Coffee meluncurkan sebuah signature series kopinya yang perdana, dengan menggaet unit death metal asal Yogyakata, Death Vomit sebagai kolaboratornya. Di wilayah artistik, Dark Age Coffee juga menggaet pentolan unit grindcore asal Bandung, yakni Morght dari Rajasinga untuk eksekusi desain produknya. Bagi yang mengikuti selingkar artwork musik metal di Indonesia, tentu tak akan asing dengan nama ini. Pasalnya banyak  dari  artwork band musik ekstrim yang telah Morrght garap.

Diceritakan melalui siaran pers yang kami terima.  Bagi Morrgth, beans Death Vomit ini, berkonsep tentang “Pengabdian”. Secara personal, Death Vomit merupakan band yang menjadi referensi Death Metal  diawal mendalami musik Underground. Ketika mendapatkan kesempatan membuat visual produk band yang bersangkutan, Sejatinya adalah saling memberi dan menerima, begitupun halnya di Dark Ages Coffee ini, Morrg merasa spirit yang diberi disini adalah sebuah apresiasi, teruji dengan eksistensial Death Vomit di kancah musik indonesia, attitude dan tetap berada didalamnya.

Di wilayah proses kopinya sendiri, Dark Ages Coffee berkolaborasi untuk mengangkat kearifan lokal Nusantara melalui biji kopi Robusta yang diproses secara alami ( Dry / natural ) yang biji kopinya diambil langsung dari tangan para petani desa Jlegong Bejen – Temanggung Jawa Tengah. Robusta lebih pahit dan punya efek lebih kuat. Kadar kafein pada kopi Robusta mencapai 1,5 – 3,3% atau dua kali lebih kuat ketimbang jenis lainnya. Robusta juga merupakan jenis biji kopi yang mampu tumbuh di dataran rendah dalam cuaca lebih panas.

“Rasa robusta yang dihasilkan dari temanggung desa Jlegong Bejen dengan proses Natural (Dry Process) yang kita rilis untuk Death Vomit ini sendiri terbilang unik. Karena memiliki tekstur rasa yang manis seperti buah cherry. Jika di campur dengan susu kental manis atau gula, rasanya sangat mirip dengan Black Forest Cake,” terang Devo saat dihubungi.

Dalam pejalanan karirnya selama 25 tahun di belantara industri musik Indonesia, Death Vomit yang diisi oleh Sofyan Hadi (gitar, vokal), Oki Haribowo (bass), dan Roy Agus (drum) sudah menorehkan banyak karya dan menjadi salah satu unit yang banyak mempengaruhi talenta muda pegiat musik keras, khususnya di Indonesia. Maka tak aneh jika kemudian Dark Ages Coffee mengajak  mereka untuk berkolaborasi melahirkan signature kopinya sendiri.

“Kolaborasi ini diharapkan mampu mendekatkan teman-teman penyuka musik keras dengan sedikit pesan bahwa Pandemi bukan suatu alasan untuk kita berhenti untuk membuat sesuatu, merajut lagi silaturahmi walau harus berbagi jarak, tetap berbagi dan memberikan api semangat bagi kita semua kearah yang lebih baik lagi,” terang pihak Dark Ages Coffee

Jika ditelisik lebih jauh, produk olahan Dark Ages Coffee ini sendiri memiliki kecocokan dengan citra maupun semangat yang diemban oleh Death Vomit. Khususnya dari materi album terbaru Death Vomit “Dominion Over Creation” yang memiliki kadar tegangan musik tinggi dan panas layaknya bara api. Dark Ages Coffee X Death Vomit bisa dibilang sebuah representasi dari Kopi Robusta itu sendiri.

Hubungan kopi dengan musik ekstrim memang bukan suatu hal yang asing. Di luar negeri sendiri, banyak band metal yang memiliki signature series kopinya sendiri dan berkolaborasi dengan para pengolah kopi. Semisal Lamb of God yang pernah merilis kopi Memento Mori. Kegandrungan metalhead pada kopi bukan lagi rahasia semata.

“Musik extreme tidak hanya dimiliki para pecinta beer dan alkohol, nyatanya juga menjamur para metalhead yang mana adalah pecinta kopi. Dan maraknya berbagai kopi yang ada saat ini menjadi alasan kami untuk muncul menghadirkan specialty coffee,” ungkap Morrght ihwal hubungan kopi dengan musik ekstrim

“Dorongan yang ngebuat gue ingin melakukan perubahan adalah, karena gue sering menemukan adanya berbagai toxic-circle yang memaksa orang-orang di suatu tongkrongan harus minum alkohol dan juga kebiasaan generasi muda yang semakin memprihatinkan atas persepsi yang menganggap diri mereka keren kalau minum alkohol, ini bukan soal untuk menjadi paling keren di tongkrongan, ini soal untuk menjadi diri sendiri. Hal itu yang membuat gue tergerak untuk serius bergelut di bidang kopi. Karena menurut gue, kopi adalah salah satu minuman yang eksistensinya dapat melawan persepsi yang salah seperti yang sudah dijelaskan di awal,” timpal Adrian salah satu founder Dark Ages Coffee

Dark Ages Coffee sendiri merupakan salah satu kolektif pecinta musik ekstrim di Indonesia. Bermula dari Mulky gitaris dari band grindcore Tyranny di tahun 2018 berupaya untuk merealisasikan wadah komunikasi teman-temannya yang sesama pecinta musik dengan memberanikan diri membuat Dark Ages Coffe Shop. Menekuni bisnis pengolahan biji kopi akhirnya membawa ke jejaring bisnis itu lebih luas lagi hingga ke daerah Jawa Tengah. Menurut Dark Ages Coffee, hampir sebagian besar musisi  adalah penyuka kopi, terlepas dari tren pasar tentang kopi itu sendiri, ada kesamaan antara musik dan kopi yaitu sama-sama menjadi elemen dari hangatnya suatu kebersamaan.

Dark Ages Coffee X Death Vomit kini resmi sudah bisa kalian didapatkan melalui website : www.darkagescoffee.com atau dapat dipesan melalui aplikasi e-commerce tokopedia: Dark Ages Empire.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Dark Ages Empire

Mari Rayakan Akhir Pekan Di M Bloc Fest 2022

M Bloc Space merayakan ulang tahunnya yang ke-3 dengan membuat beragam keriaan: The Writers Festival (24 – 25 September), M Bloc Music Week (25 September – 2 Oktober), Pasar Wastra...

Keep Reading

Sad But True Menggurat Kisah Sedih

Kuartet Sad But True, unit heavy pop-punk, kini solid digawangi oleh Anisham (vokal), Hery (Gitar), Ryan Fakk (Bass), dan Kicot (Drum) tidak ingin berlama-lama untuk menjadi pasif. Langkah konkret yang...

Keep Reading

Persembahan Dhira Bongs Pasca Pandemi

Dhira Bongs, solois pop asal Bandung yang makin melebarkan gaung dengan merilis album studio baru bertajuk A Tiny Bit of Gold in The Dark Ocean. Album penuh ketiga setelah My...

Keep Reading

Kejutan Dari Bas Boi Yang Menggandeng Feel Koplo

Melangkah tanpa henti, Basboi kembali merilis materi yang sudah beberapa kali iya bawakan sebagai kejutan di konser-konsernya berjudul U DA BEST. Sebelumnya, solois ini sukses menggelar tur albumnya di enam...

Keep Reading