Iksan Skuter telah berjalan jauh. Karirnya dimulai sebagai seorang gitaris band yang gagal secara komersil. Kemudian, ia terus bermusik dan mengubah arah menjadi seorang penyanyi. Yang jelas, bakat hebatnya sebagai seorang penulis lagu, ditekuni terus. Ditemani gitar akustik, ia telah menghasilkan sembilan buah album solo. Dimulai tahun 2012 sampai yang paling baru tahun 2018 ini. Dalam interval yang pendek dan dibandingkan dengan jumlah karya yang ia hasilkan, berarti dalam tahun-tahun tertentu, ia menghasilkan lebih dari satu album.

Di rangkaian launching album Kecil Itu Indah vol. 3, saya mendapatkan kesempatan untuk berbincang panjang dengannya. (*)

Karirmu sebagai musisi yang main band dan jadi penyanyi solo sudah berjalan 18 tahun. Apa yang membuat Iksan Skuter tetap berkarya sampai sekarang?

Karena selama itu, aku meniatkan diriku untuk menjadi seniman. Maka tugasku adalah membuat karya seni. Melalui apa? Melalui musik. Tugasku sebagai musisi, ya membuat karya musik. Tugas petani ya menanam. Tugas tentara, ya perang. Tugas polisi, ya menjaga masyarakat. Tugas guru, mengajar. Tugas musisi, ya membuat karya musik. Aku nggak mengerti apakah bahasa redaksinya konsistensi atau apa, ya tapi aku harus tahu tugasku. Aku seniman musik, ya membuat karya musik. Yang menjaga semangat itu adalah ketika aku sadar dengan tugasku, dengan fungsiku sebagai makhluk sosial, salah satunya adalah dengan bermain musik. Dengan musik aku bisa menyuarakan apapun.

Tentu jalannya tidak melulu mulus dong?

Sangat tidak mulus. Sampai detik ini pun sangat tidak mulus. Banyak hal yang di luar dugaan, di luar rencana, bahkan banyak yang gagal dan berakhir di meja-meja warung kopi sebatas wacana. Tidak gampang, tapi sebisa mungkin aku meyakinkan diriku jangan ngomong baik-buruk, jelek-keren, booming-nggak booming, jangan. Berulang kali ini kusampaikan bahwa tugasku membuat karya. Misal nih, aku dan kawan-kawan dalam sebulan bisa membuat tiga video live, karena tugas kita ya membuat karya. Aku sudah enggak memikirkan nanti idealnya seperti apa, standar nya kayak gimana, kita jangan ngomong seperti itu dulu. Kalau ngomong ideal tak akan pernah ada yang ideal. Hajar saja terus.

Bagaimana dengan karirmu sebagai musisi dalam sebuah band? Kamu gitu dulu toh?

Iya. Aku dari tahun 2000 sampai 2010 itu gitaris. Aku membuat band. Aku gitaris, bukan penyanyi, tapi di dalam band itu aku sebagai song writer. Seiring waktu berjalan, bandku sampai di titik yang tidak jelas. Kembali lagi , aku tetap menjalankan tugasku sebagai musisi yang membuat karya. Ada band atau tidak, aku harus tetap berjalan. Siapa yang nyanyi? Ya terpaksa aku, karena keadaan membuatku terpaksa menyanyi.

Kapan fase beralih menjadi solois?

Tahun 2010. Masa-masa gamangku itu tahun 2010 sampai 2012. Masa menjalankan diri sebagai solois dari 2012 sampai saat ini.

Apa sih yang ingin kamu sampaikan lewat musikmu?

Apapun. Hal sepele, hal remeh-temeh sampai yang serius sekalipun. Bagiku, lewat seni musik kita bisa lebih cair menyampaikan apapun. Contoh, yang sama-sama seni ya, seni rupa dengan seni musik. Musik lebih mudah ditangkap oleh manusia Indonesia. Kalau seni rupa butuh intelejensi lebih untuk mendapatkan pesan. Kalau seni musik lebih cair. Ini menurutku ya. Termasuk teater, teater itu membutuhkan apresiator yang daya intelejensinya lebih. Musik sangat lebih cair, kamu bisa ngomong apapun lewat musik.

Tapi kamu percaya musik bisa mengubah keadaan?

Indonesia Raya itu mampu mengubah keadaan lewat musik. Sebuah imperium eropa, sangat takut ketika pada suatu hari ada seorang komposer yang bernama WR Supratman. Ia membuat komposisi yang mengajak orang untuk berpikir merdeka. Komposisi yang mengajarkan rakyat Indonesia untuk menolak menjadi koloni. Imperium besar lho itu, eropa! Takut dengan sebuah lagu. Kurasa itu sudah cukup menggambarkan. Rezim orde lama, ia ketakutan dengan serangan budaya pop barat ketika itu, ngak-ngik-ngok. Orde baru pun sama, lagu Bento dan Bongkar contohnya. Lagu itu bergerak di bawah banget.

Dan kamu tidak takut jika ada anggapan Iksan Skuter dianggap terlalu politis?

Nggak. Aku selalu bilang, aku tidak berniat mengkritik. Aku hanya menyuarakan apa yang kulihat, apa yang kudengar dan apa yang kurasa. Saat aku membuat lagu, kurekam dan kusebarluaskan sampai karyaku menjadi kepingan CD dan digital, itu diakses oleh banyak orang. Ternyata respon banyak orang itu kok sama. Menjadi persepsi umum, bahwa aku menyampaikan kegelisahan banyak orang. Itu di luar ekpektasiku. Aku hanya menyuarakan apa yang ada di diriku. Walaupun pada kenyataan ketika karyaku dilempar ke publik, menjadi multitafsir. Ada yang bilang lagu kritik sosial, lagu politis, padahal kurasa semua orang berpolitik. Semua orang berpolitik dengan caranya. Cuma saat ini politik selalu diidentikkan dengan yang sifatnya praktis. Semua orang berhak mengatakan apa yang ingin dikatakan. Masalah itu politis atau tidak itu hanya perkara persepsi. Kenapa aku harus takut? Aku sebagai seniman ya harus menjalan tugasku.

Kalau dengan persepsi jangan campur-adukkan musik dengan soal kehidupan, bagaimana?

Wah, jangan. Musik itu bagiku kehidupan. Musik bisa bicara apapun, lintas dimensi dan lintas bahasa. Misal, seorang pencipta lagu ia menceritakan wilayahnya yang bernama Gangnam, lalu ia menyuarakan itu menjadi Gangnam Style. Dengan lagu berbahasa dia, yang kutangkap, ia sedang mengkritik Gangnam Style dengan berbagai cara yang sangat konyol dari si pencipta. Orang terkadang banyak terjebak euforia, tapi tak tahu isinya. Artinya kita ini sudah jadi satu antara musik dengan kehidupan. Musik menyuarakan kehidupan, kehidupan yang jadi satu dengan musik. Kalau seandainya persepsi itu masih ada, ya silahkan saja. Sah-sah saja. Aku menghormati itu. Tapi bagiku, aku bisa menceritakan masalah kehidupan ini ya lewat medium musik.

Lagu-lagu Iksan Skuter kan kadang galak dan dengan tema tertentu, tapi kok bisa ditangkap oleh anak muda yang bahkan hidupnya mungkin penuh dengan kesenangan?

Sedikit banyak aku punya pengalaman di industri musik. Industri musik itu ada sisi baik dan sisi buruk. Sisi baiknya, mereka punya pola. Itu kudapatkan di (major) label. Hanya bedanya kalau di sana kita nggak bisa menyuarakan sesuatu yang lebih lebar. Semuanya dikerucutkan. Nah, pola ini kupakai di musikku sekarang untuk menyuarakan sesuatu yang lebih lebar. Opsinya adalah orang mungkin tidak suka dengan temaku, tapi ia tak bisa lari dari nada yang kupakai. Atau orang mungkin tidak suka dengan nada dan temaku, tapi bisa saja dia suka dengan beat yang aku buat. Itu terpola dan ada triknya. Mungkin seperti pertanyaanmu tadi, siapapun akan bisa menikmati.

Makin kesini Iksan Skuter semakin kalem ya, tidak segahar dulu?

Iya, ibaratnya masa tiap hari makin sayur bayam. Bukankah itu membosankan? Apakah setiap hari kita harus berteriak-teriak? Maka sisi-sisi yang lain harus dimunculkan. Seniman itu manusia, ia punya fase. Tidak hanya seniman, bahkan filsuf-filsuf, ada Karl Marx muda dan Karl Marx tua, ada Soekarno muda dan Soekarno tua. Mereka sedang berdialektika dengan keadaan dan dirinya sendiri, sehingga muncul perbedaan. Ketika ia muda seperti apa dan ketika tua seperti apa. Bisa jadi itu faktor proses, termasuk lingkungan, usia ,keluarga dan yang lain sebagainya. Ternyata keadaan mempengaruhi seniman untuk berkarya dan bagaimana cara menyampaikannya. Yang berteriak-teriak itu ada di album ketika aku masih di Jakarta, di Malang jauh (tertawa). Mungkin tempat juga mempengaruhi karya itu lahir. Tapi sebenarnya inti yang ingin kusampaikan sama, hanya metodenya yang berbeda. Analoginya, aku kemarin jual mie goreng pedas, besoknya aku jual mie kuah campur telor, intinya tetap menjual mie juga. Seperti itu. Hanya kemasannya yang berbeda.

Kamu masih memikirkan soal genre enggak sih?

Aku tak mau terjebak itu. Ada hal yang kupelajari di industri dulu, bahwa ideologi mereka bukan genre. Ideologi industri besar itu adalah uang. Bagiku genre itu mirip seperti manusia yang dibeda-bedakan atas nama suku, agama dan ras, sehingga dia lupa menjadi manusia. Membuat kita terkotak-kotak karena perdebatan-perdebatan. Begitupula dengan genre. Aku tak peduli itu. Aku pernah bilang genreku oseng-oseng kangkung.

Apa itu?

Nggak tahu (tertawa). Intinya aku sudah tak ingin terjebak itu. Tapi kalau publik mengindetifikan diriku sebagai musisi folk, silakan. Aku tidak menyalahkan itu. Dulu pernah ada yang bilang aku folk punk, aku tidak masalah. Misal ada yang bilang aku jazz, ya hidupku sudah jazz, hidupku miring dan tak standar. Dulu aku pernah jadi openingnya band metal di Malang, ada yang bertanya, “Memang tidak apa-apa Mas Iksan solois folk bermain di event metal?” Aku jawab, “Hidupku sudah metal, kenapa aku harus bermetal-metal ria? Hidupku sudah keras. Kurang hardcore apalagi aku, lirikku jauh lebih hardcore, lihat saja lirikku yang tanpa tedeng aling-aling, to the point.” Genre itu hal yang filosofis sebenernya, bukan sekedar aransemen musik. Perdebatan yang selalu muncul itu berkutat hanya di soal-soal aransemen saja. Perdebatan itu kadang membuat musisi terpecah belah dan tidak menghasilkan apapun. Sehingga kita menjadi tidak produktif.

Kamu dikenal sangat produktif, dari 2012 sampai sekarang saja sudah sembilan album…

Sekarang gini, coba bayangkan petani tidak menanam selama dua tahun, lalu ada yang bertanya kenapa tidak menanam dan menjalankan profesinya sebagai petani, lalu petani menjawab lagi nggak mood, kan nggak asik. Petani kok enggak mood? Seharusnya dia menjalankan tugas sebagai petani yaitu menanam. Konteksnya ke diriku sebagai musisi, ya membuat lagu. Maka tidak ada alasan untuk tidak melakukan itu. Aku kadang iri dengan musisi-musisi Indonesia zaman dulu yang sangat produktif. Di saaat zaman masih sangat analog, di saat kendala untuk recording luar biasa susahnya, mereka malah ‘gila’ bisa membuat 20 album, 25 album. Zaman sekarang medianya yang digital, cenderung mudah dan murah, kok malah membuat tidak produktif? Kan konyol sekali.

Kamu tidak takut dengan banyaknya membuat karya malah terjebak dalam pengulangan-pengulang baik lirik ataupun musik?

Itu hal yang wajar bila seorang seniman membuat lagu yang mirip, karena itu dia. Koki pedagang kaki lima suatu hari disuruh membuat makanan di hotel mewah, rasanya tetap kaki lima. Itu sesuatu yang bergerak di bawah alam sadar. Tidak masalah dengan itu. Yang bermasalah bagiku itu ketika aku tidak produktif. Baru itu masalah. Bisa malu aku.

Produktifmu diukur dari setiap tahun bikin album?

Minimal satu tahun bikin album. Di tahun ini aku membuat dua album.

Sudah sembilan album, apa yang berubah dari hidup Iksan Skuter?

Tidak ada. Hanya semakin ke sini aku merasa ketakutan, suatu hari karya diterima bukan karena isinya, tapi karena popularitasnya. Karena kalau ngomong popularitas itu menjadi tujuan inti, aku sudah selesai dengan hal yang model begitu dimasa lalu ketika di label. Sudah kulewati fase itu. Sekarang tak terkenalpun tak apa-apa.

Walaupun pada kenyataannya kamu terkenal ya?

(Tertawa) Bagiku terkenal hanya soal-soal sebab-akibat. Bukan menjadi tujuan inti. Soalnya bukan hal yang mengenakkan terjebak di soal-soal popularitas. Semua yang kulakukan adalah imbas dari karyaku, beda kasus jika hanya mengejar popularitas. Aku melewati ini dengan proses, tidak instan.

Ke depan ada tidak kemungkinan bermain dalam format band?

Ada. Kemungkinan ada. Tapi begini, aku ingin cerita sedikit. Kita ada di industri showbiz yang kondisinya itu aku rasa menyedihkan. Menyedihkan karena apa? Begini, fenomena boomingnya musik yang katanya folk itu ternyata usut punya usut, entah benar atau salah, entah banyak atau sedikit, itu gara-gara menekan cost produksi yang dilakukan oleh pelaku-pelaku industri kreatif.

Apa makna penggemar/ pendengar bagi Iksan Skuter?

Mereka itu teman. Mereka itu adalah jawaban dari doa-doa yang dimana waktu itu aku melewati proses sangat berdarah-darah. Teman yang kemudian menjadi sangat mengerti apa yang kubicarakan. Aku menyebutnya “Kawan Cerdas”, karena lirikku bukan lirik yang populer sebenarnya, temanya tidak populer. Mereka yang pernah berdarah-darah pasti menemui irisan dengan karyaku. Misal, bicara laguku yang berjudul Pulang, mereka yang tidak pernah merantau tidak akan bisa merasakan lagu itu. Aku biasa saja tuh mendengar lagu itu, kata seseorang. Terus aku tanya apakah dia pernah merantau, dia jawab tidak. Nah makanya, suatu hari mungkin kamu akan bisa merasakan dan lagu itu akan menjadi soundtrack hidupmu. Atau ngomong lagu Bapak, kalau ada yang bilang lagu itu nggak ngefek tuh, suatu hari kau akan bisa merasakannya ketika kamu sudah tak bisa memeluk bapakmu.

Mengenai band lama, Putih, bagaimana ceritanya?

Putih itu band yang sampai hari ini menyatakan diri bubar. Tapi kita sudah sama-sama tahu di kondisi masing-masing kita harus memutuskan memilih jalan. Ada yang jadi pegawai dan sebagainya, sedangkan aku lanjut menjadi musisi seperti ini, itu sudah pilihan.

Apakah kamu tidak merasa malu jika ada yang bilang kamu itu mantan gitaris band pop?

Loh gak masalah. Sepultura saja pop, Megadeth dan Queen juga pop. Karena pop itu diambil dari populer art, ia itu populer. Ketika itu Putih pernah populer. Iwan fals yang waktu itu membuat lagu kritik sosial, itu menjadikannya populer.

Pengalaman di Puitih berarti membuatmu sangat memahami bagaiman pola industri populer bekerja ya?

Iya. Aku dapat di Putih. Bagaimana profesionalisme di industri itu harus dicontoh. Karena banyak sekali skena indie, mengatasnamakan indie, lalu ia seenak udelnya saja. Kan nggak bisa begitu juga, kita harus berkonsekuensi bahwa kita seniman musik. Yang muncul kadang bualan-bualan yang mengatakan bahwa aku ini sibuk dan segala macam, ya nggak bisa. Petani juga sibuk tapi ia tetap menanam. Maka itu dibutuhkan profesionalitas dan itu aku dapatkan ketika di Putih dulu. Termasuk timeline dan program kerja, label merangsang kita untuk produktif, tapi dalam cakupan yang mainstream. Nah, pola seperti itu yang kuterapkan di musikku sekarang. DIkemas dengan sistem yang baik.

Secara proses untuk membuat lagu agar diterima di pasar berarti dilakukan juga ya? Tolak ukurnya bagaimana?

Membuat lagu itu, sejarah sudah membuktikan lho bahwa lagu yang populer mau rock atau apapun kek, itu adalah lagu yang bisa dipakai nongkrong di poskamling.

Lagu itu akan top atau abadi?

Keduanya, top dan abadi. Koes Plus contohnya, lagu-lagunya dibawakan dan dinyanyikan di poskamling. Terlalu Manisnya Slank, Mr Big yang Wild World dan lain-lain. Sejarah sudah membuktikan. Aku menganalisa sejarah.

Berarti lagu Iksan Skuter lagu yang pas dibawakan di poskamling?

Iya mungkin. Kord tidak susah, temanya sehari-hari, nadanya nyaman. Seperti itu. Kamu bisa lihat Slank itu booming bukan karena lagunya yang Suit-Suit Hehe Gadis Seksi, tapi lagu Maafkan. Begitu pula dengan Jamrud, dia boomingnya bukan karena lagunya yang Go to Hell, tapi yang Terima Kasih. Maka bisa kita ambil kesimpulan, siapa saja yang ada di dalam poskamling, mungkin salah satunya ya pengamen. Poskamling mengajarkan menjadi makhluk sosial, ketika menjadi pengamen ia menjadi makhluk personal. Jadi jangan berharap lagu-lagu yang njlimet bisa abadi, mungkin bisa abadi hanya di kalangan tertentu.

Memangnya proses membuat lagu seperti apa?

Nggak bisa ditebak. Kadang aku bikin lagu, temanya dulu. Misalnya nih, aku mau bikin lagu tahu bulat, keywordnya tahu bulat nih, sampai rumah nanti aku memikirkan fenomena apa yang bisa dijabarkan soal tahu bulat. Bisa saja seperti ini, kisah tentang seseorang yang tak mau menganggur dan akhirnya berjualan tahu bulat. Lantas kordnya menyusul, lalu aransemennya menyusul. Tapi ada juga yang nadanya sudah ada di kepala, beatnya gini dan temanya mencocokkan. Tidak ada hukum baku, sama seperti seni, seni itu nggak ada ilmunya sebenarnya. Makanya acara idol-idol itu nggak pas (tertawa). Semua orang kok disuruh menyanyi lagu yang sama? Nggak bisa itu, itu fasis dalam konteks seni. Masa semua orang diseragamkan. Kayak idola cilik, anak kecil kok disuruh nyanyi lagu orang dewasa, kan fasisme itu. Tapi kan ini tidak pernah dibahas, padahal ini berbahaya, penyeragaman cara berpikir. Kita diajak berbuat yang harus itu, ya nggak bisalah. Melawan kodrat alam itu. Penyeragaman itu tidak bisa termasuk dalam konteks pengkaryaan.

Kalau pemahamanmu soal beda antara indie dengan major label?

Kalau major label itu skala produksinya besar, dia kailnya besar. Kalau indie, skalanya cenderung kecil. Bahasaku, independen musik atau indie sama dengan orang yang jualan tahu bulat menggunakan motor gerobak. Dia usaha indie itu, dia mendapatkan ide, mengkonsep ide, mengkongkritkan ide, lalu mencoba mempromosikan dan menjualnya sendiri untuk keuntungan sendiri. Ya indie ya seperti itu. Indie itu ya UKM, usaha kecil menengah. Major label seperti PT, dia manufaktur. Sama-sama usaha. Satunya kelas kecil, yang satunya kelas besar. Perdebatan indie dengan major sudah tidak relevan. Andaikata berujungnya dengan kompetisi yang baik, misal, band major label ada yang rilis karya nih, yang indie nggak mau kalah, itu sehat. Tapi kalau selesai di perdebatan yang tidak produktif, kan itu celaka. Atau major label membuat trik marketing baru, nah kita juga nyaingi yuk, bagus kalau begitu. Kembali lagi, seniman itu tugasnya membuat karya seni, mau major label atau indie, silakan. Ini juga penting untuk diketahui, major label yang besar itu tolak ukurnya adalah lagu yang sudah diproduksi harus booming karena sudah memengeluarkan cost produksi yang besar. Sedangkan anak yang ngakunya indie, kadang ada yang rekamannya di kamar sendiri dan tidak mengeluarkan banyak biaya, kenapa harus takut dengan resiko-resiko. Bikin saja dulu. Konteks lain ada juga nih seperti ini, ada yang mau bikin karya dan langsung booming, sebenarnya bukan itu poinnya. Kita disuruh konsisten dalam berkarya. Jangan sampai di debut album gagal, malah membuat buyar dan gantung gitar. Kemudian memilih menjadi pegawai negeri (Tertawa). Tuhan mungkin menyuruhmu untuk bersabar karena kamu belum matang, sebab menjadi populer tidak gampang, perlu kematangan dan konsistensi. Percaya deh, nggak ada satupun karya yang tak laku, hanya perkara waktu saja. Album pertamaku saja habis karena kubagi-bagikan saja ke orang-orang, karena tak ada yang beli. Sekarang malah dicari-cari orang. Karya itu anak kandung, dari seniman, karya itu akan laku ketika si orang tua (seniman) karya itu memperjuangkannya.

Kamu beruntung berkarir di era digital, adanya Youtube, Spotify dan media sosial jelas sangat memudahkan.

Iya. Jujur, aku sangat terbantu banget dengan teknologi itu. Aku pernah merasakan dulu di saat zaman susah untuk memperkenalkan karya. Untuk dikenal harus lewat televisi kalau zaman dulu. Sekarang, mau sehari bikin tiga konten aja bisa. Makanya aneh kalau kita tidak produktif. Kok malah konsumtif, kan itu tanda tanya besar. Aku selalu mengajak setiap orang untuk produktif dengan konteksnya. Yang bisa bikin musik ayo bikin musik, yang bisa menulis ayo bikin tulisan dan sebagainya.

Upaya untuk mencerdaskan seperti itu kan sulit.

Iya, aku yakin itu tidak mudah. Aku mencoba ketika ada momen pertunjukkan untuk membuka obrolan itu. Semoga itu bisa merangsang. Jangan hanya habis di menonton dan membeli karyaku saja, kalian harus jadi Iksan Skuter dalam konteks masing-masing.

Kamu juga membuat album untuk anak-anak, Kecil itu indah, bisa ceritakan soal album kecil itu indah?

Aku sangat percaya bahwa seni musik, dalam hal ini suara, itu sangat mempengaruhi tumbuh kembang manusia. Ketika lahir dulu, aku nggak ingat apapun, tapi yang kuyakini, bapakku menyerukan suara adzan. Mediumnya adalah suara. Maka apa yang terjad hari ini, ketika anak-anak kecil dihadapkan dengan sedikitnya opsi untuk menjadi dirinya sendiri,karena dikontrol skenario besar bahwa ia harus menjadi robot saja. Aku yang sekarang, ternyata hasil dari mendengarkan lagu-lagu dengan tematik-tematik seperti ini. Aku juga melihat fenomena lain, bahwa ada lagu-lagu yang belum saatnya dikonsumsi oleh anak-anak, aku takut suatu hari akan menjadi apa mereka. Sebab kurasa tak akan jauh beda dengan apa yang ia konsumsi hari ini. Ketika dia makan spagetti, dia pasti akan muntah spagetti. Aku mencoba meminimalisir, kalau kita tetap diam, kelak kita akan mengurusi generasi-generasi yang sangat bebal, yang nggak mau diajak berpikir, nggak mau berdialektika dan enggan berproses. Salah satu cara menyelamatkan yakni dengan musik.

Setelah berjalan sejauh ini, apakah sudah mendapatkan semua yang diinginkan?

Aku belum puas. Misal, andaikata jumlah followersku di Instagram bisa diajak berbuat sesuatu, bisa diajak bikin sekolah gratis atau apapun, pasti bisa menjadi sesuatu. Karena aku yakin pendengarku punya basic keilmuan yang memadai. Dengan musikku aku berharap bisa menjadi perantara buat mereka berbuat sesuatu di tempatnya masing-masing, di daerahnya masing-masing. Aku yakin itu akan terwujud, walaupun tidak mudah dan cepat. Nenekku suatu hari menanam pohon mangga, dia menggali dan menancapkan bibit mangga dengan keyakinan untuk anak-cucu. Bayangkan, nenekku sadar sedang menanam sesuatu yang pasti tak ia nikmati. Itu nilai filosofisnyasangat tinggi. Kalau kita berharap instan, semesta menertawai, semut menertawai.

Capek nggak menjadi populer?

Capek. Untuk kalian yang ingin populer, tolong pikirkan ulang. Tapi bukan berarti capek itu diidentikkan dengan berhenti. Aku pernah mendapatkan pertanyaan dari pendengarku, pertanyaannya gini, “Mas, kok orang-orang besar itu umurnya pendek ya?” Terus aku jawab, “Pernah nggak kamu membayangkan bagaimana rasanya jadi orang besar, yang jelas ia kurang tidur, yang kacau jadwal makannya dan hanya untuk menjalani apa yang sedang ia yakini.”

Dalam sepuluh tahun ke depan, Iksan Skuter akan menjadi apa?

Nggak tahu aku. Aku dulu tidak pernah memprediksi lho, aku bakal jadi penyanyi. Aku dulu gitaris, sampai detik inipun kadang insting gitarisku masih mucul, seperti ketika pertunjukkan Tanah-Ranti aku pegang gitar listrik, aku nyaman banget. Semua hal yang sekarang tidak pernah kuprediksi sebelumnya.

Teks: Rio Jo Werry
Foto: Dok. Iksan Skuter