Kompilasi Elektronik yang Bernama Moda Ekuator

Jika skenario terburuk dari adanya virus ini terjadi, apakah industri musik kita akan menurun drastis? Jawabannya bisa iya bisa tidak. Saat ini yang kita butuhkan adalah kesadaran kolektif agar permasalahan ini segera cepat teratasi. Ekosistem yang ada di balik industri ini pun mau tidak mau harus mengubah kebiasaan yang ada menjadi sesuatu yang baru secara perlahan. Pandemi ini memang secara nyata telah mengobrak-abrik banyak kehidupan dan ekonomi, tidak hanya di sini tapi juga secara menyeluruh di semua negara. Nilai positifnya, banyak orang yang kemudian mulai bergerak untuk menghadirkan ragam inovasi dan kreativitas.

Walaupun perlahan keadaan sudah mulai dilonggarkan, banyak tempat sudah mulai dibuka, namun pagelaran konser nyatanya masih belum diperbolehkan untuk dilangsungkan. Alasannya karena mampu mendatangkan orang banyak untuk berkumpul, tapi tempat seperti mall diperbolehkan untuk buka, klise memang, tapi mau bagaimana lagi. Peraturan tetap harus ditaati, agar kehidupan kita semua bisa kembali sehat. Dari beberapa bulan lalu hingga kini, solusi hiburan dunia permusikan berputar di podcast, radio daring, hingga konser virtual. Kini semua serba digital, wc rumahmu sekalipun bisa menjadi tempat pertunjukan bila diinginkan, tak ada batasan ruang saat ini. Tak terkecuali untuk musik elektronik. Sekarang para DJ bisa berkreasi dan tampil sesuka hati, asal ada yang senang, pesta terus jalan.

Transisi era 80-an yang eksentrik ke 90-an, ditandai dengan menjalarnya fenomena rave dari Eropa dan Amerika Serikat. Pada awalnya, budaya rave yang berkembang secara paralel dengan musik electronic/dance menemukan tempatnya di bawah tanah karena tidak sedikit aspek illegal yang berkutat di sekitarnya. Saling berkesinambungan, pengaruhnya banyak menjalar di ruang-ruang modern urban. Menular dan menjangkiti generasi millennium di seluruh dunia, budaya rave dipelihara di ekosistem club beserta aktivasinya dalam beragam skala. Selama dua dekade, energi rave cenderung menjadi lebih populer ramah dan nyaman mengakomodasi kebutuhan bisnis club kalau bukan industri hiburan.

“Moda Ekuator”, yang dibuat dan dihadirkan oleh Dead Pepaya (kolaborasi bersama Pepaya Records dan Dead Records), adalah sebuah proyek kompilasi lintas kota ini akan menampilkan musik elektronik post-club terpendam pilihan hasil produksi unit musik di scene eksperimental dan/atau alternative dance Indonesia. Album tersebut direncanakan rilis pada akhir bulan Juli 2020 atau awal Agustus 2020. 12 unit dikurasi bersama oleh Aldo Ersan (Pepaya Records) serta Aditya Prayoga dan Catra Darusman dari Dead Records. ASAM. Mahesa Almeida, Interdimension Traveler, Individual Distortion, Random Brothers, False Neutral dan Batavia Strut berasal dari Jakarta, Fraktal dan Jagajaga mewakili Bali, MXTXT yang dibentuk di Yogyakarta, Hxxmo dari Malang, dan TamaT berdomisili di Surabaya. Departemen visual dan desain ‘Moda Ekuator’ dikerjakan oleh Devi Nurgaha. 

“Kecenderungan mencari karakter dan kebebasan baru dalam lingkungan club di Indonesia sudah exist sebelumnya dalam lingkup yang kecil dan siap menyambut apapun yang akan datang. Bagi para artist dan label di atas, kreativitas dalam ‘Moda Ekuator’ tidak lepas dari masa krisis dan response terhadap pandemi COVID-19 melalui pendekatan online berupa live streaming/pre-recorded yang memberikan kesempatan bagi artist maupun penonton club-music untuk lebih memikirkan dan berkontemplasi dengan telinga. Post-club kami menyebutnya.” Terang kedua belah pihak.

Sembari menunggu album kompilasi ini rilis, silahkan dengar track sepanjang 12 menit sebagai gerbang awal untuk menuju ke-12 track yang hadi menjadi satu.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Dead Pepaya

Rayakan Dua Rilisan Baru, Extreme Decay Siapkan Pertunjukan Spesial

Sebagai pesta perayaan atas dua rilisan anyar mereka. Sekaligus mengajak Dazzle, TamaT, dan To Die untuk ikut menggerinda di kota Malang. Extreme Decay bersama Gembira Lokaria mempersembahkan konser showcase spesial...

Keep Reading

Disaster Records Rilis Album Debut Perunggu dalam Format CD

Pandemi yang sudah berlangsung selama lebih dari dua tahun ini memang membuat segala recana menjadi sulit terwujud. Namun bukan berarti berbagai kendala yang ada menyurutkan semangat para musisi untuk terus...

Keep Reading

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading