Kolaborasi Musisi Melawan Corona

Aktivitas kecil apa yang paling sering kalian lakukan selama beberapa bulan kebelakang? Salah satunya pasti cuci tangan kan?  Ya, pandemi memang menuntut kita untuk lebih menjaga kebersihan guna mencegah terinfeksi virus yang menyebalkan ini. Namun terkadang masih saja masyarakat kita abai dengan kebersihan. Nah baru-baru ini 70 musisi lintas generasi membuat sebuah  garapan yang luar biasa, yakni membuat album kompilasi bernama #20DetikCuciCorona. Musisi yang terlibat di dalamnya termasuk dan puluhan musisi lainnya.

Selama pandemi berlangsung, puluhan musisi termasuk Jason Ranti, Diskopantera, /riff, Robi ‘Navicula’ ini melakukan sebuah proyek yang relevan dengan keadaan sekarang. Dalam album #20DetikCuciCorona ini setiap musisi yang terlibat membuat satu lagu berdurasi pendek, rata-rata hanya 20 detik. Durasi dari lagu tersebut sesuai dengan kampanye cuci tangan menggunakan sabun minimal 20 detik. Karya musik ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar semakin rajin untuk mencucitangan sebagai langkah pencegahan virus Covid-19.

Album kompilasi yang berisi 70 lagu ini sudah tersedia di platform Bandcamp dengan dibagi ke dalam 7 volume. Nantinya 70 lagu ini juga akan dikumpulkan ke dalam playlist di beberapa platform digital agar bisa didengarkan oleh masyarakat lebih luas. Yang tak kalah penting adalah album ini juga dituangkan ke dalam format fisik, piringan hitam. Seperti kita ketahui, piringan hitam merupakan format yang paling awet jika dibandingkan dengan format fisik lainya, bahkan bisa sampai 500 tahun.

“Kita yakin musisi karena kecintaannya akan musik pasti akan menjaga (piringan hitam). Kalau nggak salah vinyl awet sampai 100 tahu, itu kalau nggak dirawat, kalau dirawat bisa sampai 500 tahun,” terang Dhani Hargo inisiator gerakan #20DetikCuciCorona.

Tak bisa dipungkiri, musik adalah salah satu cara komunikasi yang efektif dan mudah diterima oleh masyarakat, terlebih dengan lagu yang durasinya pendek dan langsung mengarah  ke hal yang ingin disampaikan. Komunikasi lewat musik ini akhirnya dapat membuat sebuah pesan menjadi lebih sederhana dan menyenangkan. Dhani menyebutkan pada masa awal-awal pandemi isu dan istilah seputar corona hanya sampai di kalangan menengah ke atas. Salah satu cara agar pesan tentang bahaya corona ini bisa sampai ke semua lapisan masyarakat adalah dengan musik.

“Kenapa pakai musik? Karena waktu itu bahasa-bahasa di awal pandemi itu susah, social distancing lah, lockdown lah. Jadi masih bingung semua. Jadi saya coba bikin itu. Alhamdulillah teman-teman musikusnya juga cepat. Sampai sekarang sudah terkumpul 70 lagu, dari Sumatera ada, Jawa ada, Maluku. Bahkan berbagai aliran, punk sampai dangdut. Kami kumpulkan jadi vinyl” lanjut Dhani.

Piringan hitam #20DetikCuciCorona diserahkan kepada pihak Satgas Penanganan Covid-19 dan beberapa badan arsip yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Irama Nusantara. Diwakili oleh Renovan Reza, pihak Irama Nusantara menyambut baik dan mengucapkan terimakasih kepada para musisi juga para inisiator karena telah memberikan piringan hitam ini untuk diarsipkan di Irama Nusantara. Menurutnya menyimpan karya musik gerakan #20DetikCuciCorona ke dalam piringan hitam merupakan sebuah upaya yang luar biasa juga sebagai penanda zaman.

“Terima kasih telah mempercayakan satu piringan hitam ini untuk disimpan di Irama Nusantara, semoga dapat menjadi saksi sejarah. Mungkin sekarang dilihatnya belum menjadi apa-apa, cuma 20 tahun lagi kita lihat, oh, 20 tahun lalu ada fenomena yang cukup menggemparkan,” ungkap Renovan

Untuk mendengarkan musiknya kalian bisa mengaksesnya di sini.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip 20 Detik Cuci Corona

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading