Bagaimana rasanya menjadi sebuah band yang mendapat pengakuan internasional tapi di kota-nya sendiri masih sering tidak dianggap ada?

Terdengar familiar bukan? Dan (sayangnya) Sarana adalah salah satu dari banyak musisi di Indonesia yang harus melalui skema tersebut.

Ulasan musik mereka oleh Raymond Cummings dari VillageVoice.com sebagai March’s Best Noise Music, diundangnya Sarana untuk bermain di event bergengsi semacam RRREC Fest In The Valley, bermain di Singapura serta dua kali mendapatkan undangan bermain di Amerika (yang sayangnya keduanya tidak berjalan mulus) tidak membuat dukungan terhadap mereka otomatis meningkat di kota sendiri, Samarinda. Syukurlah hal tersebut tidak membuat iman group Noise yang resmi dibentuk pada 14 Mei 2015 ini melemah.

Trio Sarana yang sebelumnya terdiri dari Annisa Maharani, Sabrina Eka Felisiana dan Istanara Julia Saputri kini berubah menjadi duo dengan ketidakhadiran Istanara di line up terbaru mereka.

Annisa dan Sabrina sendiri mengungkapkan bahwa ketidak hadiran Istanara di Sarana karena orang tuanya menginginkan supaya ia fokus ke kuliah sampai kelar. Sementara Sarana akhir-akhir ini sering mendapatkan ajakan bermain yang dirasa sayang untuk ditolak sehingga mereka memutuskan lanjut dalam format duo.

“Dari skala 0-100% sih kayaknya cuma 10% aja Istanara bakal kembali ke Sarana,” kata Sabrina.

Ada cerita menarik tentang Sarana dan sudah disinggung di bagian awal tulisan ini; Kesempatan bermain di Amerika Serikat yang datang dua kali. Sayangnya, rencana itu tidak berjalan lancar. Sarana mengungkapkan kekecewaan sekaligus penyesalan mereka. Pertama kali mendapatkan undangan bermain di Moogfest setelah Sarana bermain interaktif di salah satu sub acara mereka (Always On) melalui saluran internet. Akan tetapi jadwal pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan serta ketidak pedean mereka membuatnya harus menolak tawaran bermain di acara musik, seni dan teknologi tahunan bergengsi itu, yang khusus dibentuk untuk menghormati Robert Moog dan penemuan musiknya ini.

Tawaran kedua muncul dari Red Bull Music Academy yang mengundang Sarana untuk bermain di New York juga berakhir gagal dengan resign-nya sang project manager yang membuat acara batal berlangsung karena Red Bull Music Academy juga tidak mau melanjutkan proyek tersebut. “Gagalnya keberangkatan kami ke acara itu, kayak karma karena penolakan kami di Moogfest sebelumnya,” cerita Sabrina sambil menghela nafas.

Kedua hal tersebut kemudian menjadi lecutan mereka untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ditawarkan di masa yang akan datang. “Kami pun kemudian merasa harus memberikan apresiasi bagi mereka yang mengapresiasi kami, karena dengan begitu kan mereka sudah menganggap bahwa Sarana itu ada,” ujar Anissa menambahkan.

Tawaran residensi “Riuh Saudara” bersama Atelier MTK (Perancis), Lab laba-Laba dan Nanolab (Jakarta) pun diterima dengan senang hati walaupun dengan konsekuensi harus melakukan residensi dan tour antar kota sambil mengerjakan tugas kantor. Setelah itu mengalir kembali kesempatan untuk melakukan salah satu program bagian dari Nusasonic di Yogyakarta.

Di Nusasonic, Sarana terlibat dalam Sonic Wilderness, sebuah program yang diinisiasi oleh seniman Antye Greie-Ripatti (AGF) yang menekankan pada interaksi, kolaborasi, dan mengeksplorasi bunyi apapun yang terdapat serta dapat diolah di alam ataupun berbagai tempat publik. Selama satu minggu, program yang juga diikuti oleh musisi wanita lainnya yaitu Asa Rahmana, Ayu Saraswati, Menstrual Synthdrone (ketiganya berbasis di Yogyakarta) dan Joee & I (Filipina) ini melakukan workshop di Teater Garasi dan beberapa alam terbuka diantaranya di kuburan, pantai dan area sawah. Hasil workshop mereka kemudian ditampilkan di rangkaian acara penutupan Nusasonic yang bertempat di Eloprogo Art Space tanggal 13 Oktober lalu.

Ketika membahas mengenai kegiatan mereka bersama musisi perempuan lain di Sonic Wilderness, Sarana merasa menemukan tantangan baru ketika melakukan kolaborasi bersama musisi yang berbeda genre sembari harus mampu menciptakan hal baru setiap harinya. Selain itu kendala jadwal Nusasonic yang padat dan bahasa juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjalani residensi tersebut. “Paling kurang tidur dan miskomunikasi aja sih yang jadi kendala. Yang satu pengennya begini, yang lainnya ingin begitu. Lainnya sih dibikin fun aja,” jelas Sabrina yang kemudian diamini oleh Anissa.

Di festival itu, Sarana berpartisipasi pada program Sonic Wilderness. Mereka merasakan lekatnya aroma feminisme, mulai dari pemilihan seniman residen hingga selalu mengawali workshop dengan memasukkan agenda berbagi mengenai isu feminisme.

“Dilihat dari sisi positifnya, sebagai seniman perempuan, kami merasa diberikan wadah yang tepat untuk pengembangan ide dan gagasan,” ungkap Sabrina. “Tapi ada sedikit rasa risih juga di beberapa hal kayak ngelarang cowok untuk berpartisipasi,” lanjutnya.

Mereka tampak tidak terlalu mengambil pusing dengan agenda feminisme yang kuat di program ini. “Kami mencoba menerima dan belajar mengenai feminisme selama program residensi karena selama ini kami pun belum banyak mempelajari hal tersebut,” terang Anissa.

“Walaupun ada beberapa hal yang tidak cocok dengan kami, untungnya orang-orang di program tersebut open minded dan mempersilahkan kami untuk tidak setuju dengan pendapat mereka,” imbuh Anissa.

Antye Greie-Ripatti sendiri sebagai inisiator Sonic Wilderness juga merupakan salah satu seniman dibalik jaringan internasional yang ber-anggotakan seniman perempuan, transgender dan non-biner di bidang musik Elektronik dan seni digital, female:pressure. Didirikan oleh Indigo Electric pada tahun 1998, female:pressure menjadi sumber informasi dan jaringan untuk meningkatkan komunikasi dan representasi anggotanya yang terdiri dari musisi, komposer dan DJ hingga seniman visual, pekerja budaya dan peneliti.

Anissa dan Sabrina menutup obrolan di malam hari dengan janji untuk lebih produktif baik dalam hal membuat lagu serta sebisa mungkin tidak menolak rejeki tawaran maen. Jangan lupa beli album Grow milik Sarana yang baru saja rilis kaset via 100.000 dan Noise Bombing tanggal 13 Oktober lalu. (*)

 

Teks: Martinus Indra Hernawan
Foto: Dok. Sarana