Kisah-kisah Kecil di Karya Terbaru Ease

Ease baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Forgot That We’re Once” bersama Anoa Records.  Terbentuk pada 2015, Ease terdiri dari Dinda Wibowo (vokal dan synth), Muhammad Rizky Fade (bass), Ryoichi Watanabe (gitar), Ilham Kurniawan (gitar), dan Rizky Handiko (drum). Berangkat dari kampus yang sama di Jakarta Barat, Binus, Ease meracik hal-hal mereka sukai dalam musik mereka. Tahun 2017, mereka merilis sesi rekaman pertama dengan 3 track bertitel I, II, dan V (instrumental).

“Sesi ini pernah kami rilis dalam bentuk CD dan habis terjual dalam stok terbatas,” kata Dinda.

Setahun kemudian Ease mulai merekam beberapa lagu hingga pandemi pun hadir, mereka masih berkutat untuk produksi rekaman materi terbaru.

”Proses rekaman dan pos-produksi memakan waktu yang cukup lama dari saat itu, beranjak dua tahun dan kami akan mulai dengan merilis track Forgot That We’re Once alias rekaman ulang dengan formasi terbaru untuk track kami yang berjudul I bersama Anoa Records,” kata Ryoichi yang juga gitaris di Lowpink.

Kekuatan Ease sendiri bagi skena yang sudah mengetahui keberadaan Ease sejak lama adalah bagaimana kekhasan dari polesan noisepop ata shoegaze yang mereka bangun.

“Berangkat dari Shoegaze, Britpop, Jazz, Post-Punk, Alternatif Lokal Indonesia, Math-rock sampai Metal bisa dibilang akar kami dalam progresi nada. Dengan Ease kami tidak terlalu banyak memikirkan mau terdengar seperti siapa, melainkan masing-masing membuat nada saja, dan menuangkan isi hati dengan instrumen yang kita sedikitnya bisa,” kata Dinda lagi.

Sistem oper-operan ide lagu menjadi resep utama Ease. ”Siapa yang menulis rif utama bisa kami kulik juga maksud aslinya dan, orang selanjutnya bantu menerjemahkan dengan instrumen dan dalam persepsinya sendiri dengan apa yang dia ingin ceritakan,” tambah Ryoichi.

Mereka mengamini jika dengan menggeluti berbagai macam genre, ditambah manusia-manusia yang berada cukup dekat disekitar Ease sangat mempengaruhi pendalaman perspektif mereka.

“Ease berangkat dari kisah-kisah nyata yang tertuang dalam kata dan suara. Sebagai sebuah kesatuan, sifat kami yang tidak semudahnya nyaman menyampaikan segala sesuatu dengan harafiah, masih terfleksikan dalam cara kami menyampaikan pesan lewat lagu, namun, semua itu adalah usaha, dan cara terbaik kami menerima satu sama lain juga,” kata Dinda.

Visual: Arsip dari Anoa Records

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading