Kios Ojokeos adalah ruang bersama yang baru diresmikan pada awal Mei 2018. Tempat ini merupakan perwujudan mimpi lama para personil Efek Rumah Kaca yang ingin memiliki kantor dan ruang bersama untuk berbagai macam aktivitas.

Dengan sendirinya, ruang yang terbuka lebar untuk berbagai macam kepentingan ini, mempertemukan pula banyak orang yang punya motif berbeda-beda.

Efek Rumah Kaca, sebagai sebuah kolektif musik, sedang mempraktekkan bagaimana inspirasi bisa diberikan lebih jauh dari sekedar gugusan nada yang diberi bumbu fanatisme, cinta dan loyalitas multi dimensi.

Ada banyak hal bergulir dari tempat di pinggir Jakarta Selatan ini. Kami berbincang dengan Asranur, salah satu orang yang bertanggung jawab untuk operasi keseluruhan Kios Ojokeos. Oh, Asranur juga merupakan pemain kibor Efek Rumah Kaca.

Bisa diceritakan sejarah awalnya Kios Ojokeos?

Sejarah pastinya, gue terus terang nggak tahu. Yang gue tahu ketika anak-anak, Cholil (Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca –ed) dan Irma (Irma Hidayana, salah satu penyanyi latar Efek Rumah Kaca yang juga merupakan istri Cholil Mahmud –ed) bilang mau buat toko buku. Kita juga ingin punya kantor sekalian menaruh barang-barang yang kita punya. Plus, jadi tempat ngumpul lah. Selama ini kita kalau mau pergi ke luar kota, ngumpulnya di halte bus Citos (Cilandak Town Square, salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan –ed). Haha. Nah, kebetulan ada teman dari PUSAD (Pusat Studi Agama dan Demokrasi) Yayasan Wakaf Paramadina menawarkan tempat di Lebak Bulus. Ya sudah, pas. Cholil dan Irma itu kan pembaca dan punya banyak buku, sayang saja kalau tempat sebesar ini kosong. Jadilah kita menjual buku. Selain itu kita menjual kopi juga, karena Dika yang biasa main terompet di Efek Rumah Kaca, dulu sempat punya kedai kopi. Merchandise seperti cd dan kaos band juga kita jual. Semua itu buat menopang operasional lah. Bagaiamanapun, walaupun ini ruang bersama, tentu harus memikirkan sisi finansial agar terus berjalan. Kita belajar dari teman-teman yang lebih dulu mempunyai tempat sejenis.

Jadi, tempat ini sebenarnya toko buku yang sekaligus menjual kopi, atau malah sebaliknya, kedai kopi yang menjual buku?

Sebenarnya Kios Ojokeos adalah toko buku yang menjual kopi. Karena kita lebih mengusahakannya di buku. Tapi, secara hitungan bisnis, margin yang paling besar itu dari kopi. Sedangkan buku tidak terlalu besar. Misalnya kita dapat diskon dari penerbit nih, sebagian diskon tersebut kita kembalikan lagi ke pembeli. Hampir semua buku yang kita jual dikasih 10% ke pembeli.

Proses kurasi bukunya kayak gimana untuk menentukan apakah bisa dijual di Kios Ojokeos atau tidak?

Kurasi buku kebanyakan dari Cholil. Bisa dibilang 95% lah.

Buku-buku yang seperti apa?

Kebanyakan sosial politik, filsafat, sastra Indonesia dan juga barat. Banyak juga sastra dari Amerika Latin, dan juga terjemahan sastra India. Kalau sastra mungkin arahnya lebih ke sastra alternatif ya.

Menjadi toko buku berarti menjadi pilihan sekaligus konsekuensi logis bagi Kios Ojokeos karena selama ini Efek Rumah Kaca membawakan isu-isu sosial dan berkutat di wacana intelektual. Begitu ya?

Ya, salah satu alasannya karena Efek Rumah Kaca merasa tidak cukup hanya dengan lagu-lagu yang dinyanyikan untuk bisa menyebarkan nilai-nilai yang dipercaya. Perlu suatu ruang bersama yang orang bisa datang baik sekedar ngobrol atau diskusi. Kalau selama ini kan ketemu Efek Rumah Kaca pasti habis manggung, foto-foto dan salaman, sudah gitu saja. Tapi dengan adanya Kios Ojokeos, mereka datang, ngobrol dan tahu apa yang dibicarakan Efek Rumah Kaca. Mudah-mudahan mereka bisa tertular nilai-nilai itu.

Ada juga yang bilang, semangat Kios Ojokeos guna membantu manajemen Efek Rumah Kaca ketika Cholil hidup di luar negeri ya?

Ya, banyak manfaatnya sih dengan adanya Kios Ojokeos. Buat keluarga besar Efek Rumah Kaca, baik itu personil, manajemen dan tim produksi. Kita bisa tetap mendapatkan pendapatan walaupun mungkin tidak besar ketika Efek Rumah Kaca sedang vakum karena Cholil di Amerika.

Kalau kegiatan, spesifiknya apa sih? Kan kadang ada acara musik, diskusi, stand up comedy dll.?

Kita sih ingin membuka kesempatan buat orang-orang. Karena selama ini kita lihat banyak orang, seperti mahasiswa susah mencari tempat untuk sekedar diskusi, membuat pertunjukan musik, bedah buku atau bedah lagu. Nah, makanya kita membuka kesempatan untuk itu, tapi tetap dikurasi. Poin pentingnya adalah bagaimana kita bisa memberi mereka tempat. Selagi itu mempunyai semangat dan manfaat yang bagus, ayo saja.

Berarti semangatnya Kios Ojokeos berjalan seiring dengan semangatnya Efek Rumah Kaca ya?

Iya, jelas. Dari semua sisi. Contohnya kayak tadi, pengembalian diskon ke ke pembeli itu sejalan dengan nilai-nilai yang dianut Efek Rumah Kaca. Contoh lain yang bisa dilihat secara kasat mata adalah harga kaos Efek Rumah Kaca yang ada disini, harganya lumayan murah dibandingingkan yang lain-lain. Kami menjual kaos 110 ribu, band-band lain rata-rata berkisar di harga 145 ribu atau lebih. Gini lho, Efek Rumah Kaca tidak mau menyusahkan orang. Kalau keuntunganya hanya segini, ya segini saja, tidak berlebihan. Kalau dengan 110 ribu bisa untung, ya sudah segitu saja. Nggak perlu lebih. Begitupula dengan yang lain, yang kami jual di sini. Harga Kopi juga begitu, misalnya kita menjual Cappucino cuma 20 ribu. Kalau di tempat lain lebih dari segitu. Itu sesuai dengan prinsip Efek Rumah Kaca.

Pemilihan tempat di pinggiran Jakarta, itu karena motif ekonomi atau ada alasan lain?

Karena itu tadi, ditawarin teman. Harga miring dan cocok. Selain itu, kita diberitahu sama teman kita bahwa di sini tidak ada ormas yang mengganggu. Kita tahu sendirilah gimana menggangunya ormas yang kadang-kadang minta uang ke kafe atau usaha lain. Sedangkan berapa banyak sih tempat yang banyak untungnya? Apalagi kalau yang niatnya seperti Kios Ojo Keos yang niatnya membuka ruang untuk orang-orang.

Siapapun bisa ya membuat kegiatan di Kios Ojokeos?

Bisa, selama sesuai dengan nilai-nilai Efek Rumah Kaca dan kita kurasi juga. Isinya harus bagus dan memberi manfaat buat orang.

Apa harapan yang digantungkan buat tempat ini ke depannya?

Aduh, harapan ya? Kita baru buka enam bulan dan kita sadar masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi, mudah-mudahan kita menjadi lebih baik dan memberikan banyak manfaat. (*)

 

Teks dan wawancara: Rio Jo Werry
Foto: Dok. Kios Ojokeos