Nama Yoyon Sukaryono dan Klepto Opera, tidak bisa dipisahkan dari sejarah scene musik independen Surabaya. Nama band itu legendaris, selalu dikenang karena kiprah penting mereka di scene music grunge. Tapi, ada kisah menarik lainnya di luar musik dari Yoyon.

Yoyon punya nama panggung Tokoh Antagonis. Ia juga merupakan pendiri komunitas Boneka Tanah yang lahir pada 1999 lewat proyek pertamanya, acara musik Alternative Parade 99.

Boneka Tanah berkembang menjadi organizer sekaligus juga menjadi label rekaman dan retail. Gig, pada waktu itu, terjadi seminggu sekali bekerjasama dengan kampus atau sekolahan serta komunitas-komunitas lain. Sementara, label rekaman Boneka Tanah sempat merilis beberapa band Surabaya antara lain Crucial Conflict, The Riot, Klepto Opera dan sejumlah kompilasi lain.

“Ada ungkapan satir di antara kami. Kami sering menyebut diri waktu itu second class UG (underground). Itu olok-olok, mengingat waktu itu hanya band-band tertentu saja yang sering tampil di gig-gig. Dan kami berupaya semaksimal mungkin agar semuanya bisa sering tampil,” ujar laki-laki yang pekerjaan utamanya adalah seorang sipir balai pemasyarakatan in

Sehari-hari, Yoyok berdinas di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Surabaya. Ia bertugas mengurusi kenakalan remaja, termasuk anak-anak punk. “Saya sampai sekarang menganggap itu karma yang harus diterima, tidak semua karma itu buruk. Apa yang dialami oleh anak-anak ini, keinginan untuk melakukan hal-hal jahat, ketakutan, keterasingan, itu semua saya alami di masa muda. Saya jadi begitu mudah memahami apa yang anak-anak ini inginkan dan perlukan. Anak-anak masih mudah untuk berubah menuju ke hal-hal yang lebih positif, tinggal bagaimana mengarahkannya, terutama saat-saat mereka terpuruk,” ceritanya tentang keseharian yang ia temukan.

Kendati berkategori aparat, bapak dua anak ini masih aktif bermusik. Itu sekaligus merobohkan stigma kalau fase berkeluarga datang, otomatis musik harus dihentikan.

Dari tetap dekatnya ia dengan scene musik, Yoyon bisa hidup di dua alam pengalaman yang berbeda. Ada banyak hal yang telah berubah menjadi lebih baik.

“Yang sudah pasti media dan sarana, beberapa waktu lalu ada gig reuni Boneka Tanah dan juga reuni Patua Youth Crew. Saya menyaksikan betapa berubahnya band-band era dulu dibandingkan sekarang, terutama dalam hal profesionalisme dan kematangan panggung. Sungguh perkembangan yang signifikan ke arah yang lebih bagus,” katanya membandingkan.

Bersama istrinya, Yoyon membuat Ballerina’s Killer. Band indierock yang dibentuk tahun 2006 di sebuah lembaga pemasyarakatan narkotika di Lampung ini unik karena merupakan sebuah jalinan pertemanan antara sipir dengan narapidana. Menurutnya, itu merupakan sebuah proyek percontohan.

“Bermusik itu tidak perlu hal-hal ribet, cukup colok gitar, genjrang-genjreng, suara fals gak masalah, urusan panggung juga tidak perlu diribetkan, bahkan tidak perlu latihan juga bisa, chordnya open, jadi ngawur aja juga bisa,” katanya tentang Ballerina’s Killer. “Ballerina’s Killer itu lebih ke sarana rekreasi dibandingkan dengan real band,” lanjutnya.

Selain musik dan pengorganisasian, Yoyon juga merambah puisi dan prosa. “(Pada dasarnya) Saya suka menulis, apa saja,” ujarnya. Puisi bagi Yoyon, adalah cara menuliskan simbolisasi yang memang tidak bsia diurai lebih detail atau dijelaskan lebih jauh. Misalnya tafsir-tafsir mimpi, kiasan, yang kalau dijelaskan ke dalam kata-kata biasa akan kehilangan makna.

Sementara prosa, menurutnya, “Saya menyukainya karena ketika kita akan menuliskan sebuah kisah, kita tidak perlu menuruti hal-hal baku dalam penulisan, cerpen misalnya, dalam prosa, kisah bisa terbebaskan.”

Seni rupa pun tidak luput dari jamahannya. Bersama beberapa kawan, Yoyon membuat Melawan Kebisingan Kota (MKK), yang didirikan pada 2012. MKK, menurutnya, adalah keprihatinan tentang Surabaya yang miskin simbol yang bisa dibanggakan, sehingga membuatnya memutar otak tentang apa yang bisa dimunculkan dari Surabaya.

“Pertama kita harus memahami Surabaya tidak memiliki tempat-tempat dengan pemandangan indah. Surabaya karakter kotanya panas, keras, industri dan berisi kaum urban beserta kaum miskin kota. Kita memikirkan bentuk kesenian apa yang sesuai dengan karakter Surabaya tersebut, hingga secara bertahap terbentuklah MKK melalui proses yang panjang,” ceritanya tentang proses terbentuknya MKK.

MKK menjalankan praktek seni rupa yang berupaya untuk menerjemahkan ulang kisah-kisah dalam kitab suci yang dibenturkan dengan kenyataan sampah-sampah kota Surabaya.

“Pada saat di Jakarta Biennale 2015, MKK mengusung tema Kebisingan adalah Sarapan, di mana mengadaptasi meja dengan susunan ala the Last Supper. Dan kita memancing audience untuk ‘seharusnya’ berfoto dengan meja tersebut dan menganggap dirinya berada dalam kisah the Last Supper. Namun publik lebih menganggapnya sebagai tempat berpose untuk keperluan Instagram,” terangnya tentang pengalaman partisipasi MKK di Jakarta Biennale 2015.

MKK juga pernah diundang sebagai peserta Art with Purpose 2016 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, yang diadakan PBB untuk merayakan ulang tahunnya ke-71. Di acara tersebut MKK mengangkat tema Noah Project yang mengadaptasi kisah Bahtera Nuh.

Bahtera Nuh diganti dengan kapal selam yang terbuat dari potongan tabung freon dengan memakai lensa cctv bekas. “Tabung freon sendiri adalah penyelamat sementara untuk mendinginkan gedung-gedung dan ruang-ruang, namun pada tingkat pemakaian yang berlebihan dia justru berbahaya bagi lingkungan,” jelasnya tentang karya MKK tersebut.

Banyak hal yang bisa diceritakan dari sosok Yoyon. Yang terakhir adalah kiprahnya sebagai penulis buku.

Salah satu buku tulisan pertamanya yang paling kontroversial adalah Apostolik. Apostolik berupa potongan-potongan yang kemudian disambungkan sehingga membentuk cerita tanpa alur tentang dimensi paralel dan chaos, serta penyalahgunaan kitab suci.

Buku itu dicetak dan diterbitkan sendiri, namun pada saat proses distribusinya terhambat karena tidak ada yang mau dititip jual. “Waktu itu hanya ada dua toko buku yang bersedia dititipi; Omunium dan Tobucil. Lainnya menolak. Website juga down beberapa hari setelah dirilis,” kenangnya mengenai pemasaran novel yang diterbitkan FelixCulpa Semesta pada 2004 lalu.

Tulisannya yang kedua adalah Panduan untuk Memulai Band Indie yang terinspirasi dari hobinya bermain di band. Buku ketiganya berjudul Grunge Indonesia: Catatan Seorang Pecundang.

Buku ini bercerita mengenai subkultur musik grunge di matanya sebagai seorang gitaris band yang memainkan jenis musik tersebut

Saat ini, Yoyon sedang menyiapkan buku keempat dengan tema horor yang berkolaborasi dengan Garna Raditya, gitaris band AK-47 (Semarang) yang kini menetap di Amerika Serikat.

Hidup Yoyon, memang punya banyak cabang. (*)

Teks: Indra Menus/ Foto: Arsip Yoyon Sukaryono