Bicara musik Eksperimental dan Noise di Indonesia tentu saja tidak bisa lepas dari beberapa hal yang sedang menarik perhatian dunia saat ini. Diantaranya dari ranah per-film-an ada Bising: The Movie yang giat melakukan screening di beberapa negara, sementara dari grup musik ada duo Senyawa yang tidak bisa disanggah lagi sebagai salah satu ekspor musik terbaik dari Indonesia saat ini.

Sementara Jogja Noise Bombing sebagai kolektif Noise termasuk sukses mendorong para musisi, penikmat bahkan peneliti dan jurnalis musik Eksperimental Noise dari seluruh penjuru dunia untuk berkumpul setiap bulan Januari merayakan kebisingan lewat Jogja Noise Bombing Festival. Bukan itu saja, Indonesia juga dilirik atas karya handmade synthesizer-nya yang dibuat oleh para empu D.I.Y synth semisal Lintang Radittya (Kenali Rangkai Pakai) dan Evan (Storn System).

Yogyakarta akhir-akhir ini sering disebut sebagai salah satu rujukan skena musik Eksperimental dan Noise di Indonesia. Tentunya tanpa menampik kehadiran geliat skena di beberapa kota lain semisal Samarinda, Solo, Malang, Denpasar juga Bandung dan Jakarta yang tak pernah menolak redup.

Tidak salah rasanya apabila sebuah festival yang digadang-gadang akan menjadi sebuah festival musik Eksperimental terbesar di Asia Tenggara memilih kota Yogyakarta sebagai tempat pertama melabuhkan proyek ambisius ini. Nusasonic-Crossing Aural Geographies yang diadakan mulai tanggal 2-13 Oktober 2018 lalu merupakan sebuah proyek multi tahunan yang mencoba menyelami keberagaman budaya bunyi dan musik Eksperimental di Asia Tenggara.

Hasil kolaborasi antara CTM Festival for Adventurous Music & Art (Berlin), Yes No Klub (Yogyakarta), WSK Festival of the Recently Possible (Manila) dan Playfreely/BlackKaji (Singapore) ini juga mencoba untuk membuka dialog yang lebih luas mengenai budaya bunyi dan musik Eksperimental di Asia Tenggara dengan Eropa serta negara lainnya.

Rentang waktu festival yang diprakarsai oleh Goethe Institut dan sejumlah kolektif ini terasa cukup lama dan dimulai dengan kegiatan laboratorium di mana beberapa musisi diundang melakukan kolaborasi dan bermain bersama untuk menciptakan karya baru.

Ada Kombo yang diprakarsai oleh Rully Shabara (Senyawa), yang selama ini memfasilitasi pengembangan skena musik improvisasi dengan menguji metode pendekatan alternatif atas eksplorasi dan komposisi bunyi yang dihasilkan para musisi yang ikut bergabung. Pada program ini, Kombo menjembatani musisi Indonesia untuk saling terhubung dengan musisi lain dari Asia Tenggara dan Eropa. Selama 4 hari di SaRang Building, Kombo mempertemukan musisi Indonesia diantaranya Bhakti Prasetyo, Ikbal Lubys, Mahamboro, Setya RKJ,Tony Maryana serta beberapa musisi lain yang bergantian datang untuk melakukan eksperimen dengan musisi luar Indonesia yaitu Yuen Chee Wai, Caliph8, Kok Siew-Wai, Nadah el Shazly, Rubén Patiño dan Sudarshan Chandra Kumar.

Platform lokal lainnya yang diselenggarakan di Nusasonic adalah Noise Bombing di ruang publik. Terinspirasi dengan graffiti bombing, kolektif Jogja Noise Bombing melakukan kegiatan noise bombing yaitu mengorganisir gig Noise secara ilegal di ruang publik dengan memakai sumber listrik yang tersedia di tempat tersebut. Tercatat beberapa ruang publik yang di-invasi selama festival berlangsung yaitu di taman Embung Langensari, landmark Tugu, halte bus serta di dalam bus Trans Jogja yang sedang berjalan. Dengan membayar tiket bus Trans Jogja, semua orang boleh menikmati penampilan Jogja Noise Bombing di dalam bus yang penuh sambil berjalan sesuai rute-nya menuju terminal bis Giwangan.

Di Nusasonic, CTM Festival menghadirkan program MusicMakers Hacklab yang dikelola oleh Peter Kirn dari CDM (www.cdm.link). Selama satu minggu di gedung Wayang Ukur, Peter Kirn bersama 2 seniman pembuat synthesizer sebagai tuan rumah yaitu, Lintang Radittya (Kenali Rangkai Pakai) dan Andreas Siagian (Lifepatch), menyelenggarakan sebuah laboratorium kolektif terbuka. Dengan tema Play Ecology, dipilihlah 10 seniman melalui proses Open Call untuk menyelami aspek bermain-main dan kolaboratif pada penciptaan musik.

Program residensi lainnya berupa kolaborasi antara musisi Eksperimental dari Filipina, Erick Calilan, dengan seniman dari Bandung, Duto Hardono. Mereka melakukan residensi di Lifepatch. Selain itu juga kolaborasi antara drummer band Eksperimental dari Semarang, Riska Farasonalia, perkusionis asal Singapura, Cheryl Ong, juga Nadya Hatta seorang pianis klasik Yogyakrta serta vokalis ber-basis di Kuala Lumpur, Kok Siew-Wai, yang melakukan proses jamming dan rekaman di Jogja Audio School untuk kemudian hasilnya dipanggungkan di gedung Societet Militair.

Masih ada lagi. Selama satu minggu bertempat di Teater Garasi dan juga di beberapa area terbuka lainnya di sawah, kuburan dan pantai, Sonic Wilderness membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari seniman atau proyek yang diisi oleh seniman wanita dari bermacam jenis disiplin ilmu. Dari Yogyakarta yang diwakili oleh Asa Rahmana (Belkastrelka), Woro (Menstrual Synthdrone) dan Ayu Saraswati (Mengayun Kayu) berkolaborasi dengan duo Noise asal Samarinda, Anissa dan Sabrina (Sarana) serta musisi Elektronik asal Filipina, Joee & I. Praktik terbuka yang bisa berubah bentuk dan fokus supaya bisa ber-adaptasi dengan tempat dan waktu ini didirikan oleh AGF (Antye Greie). Diinisiasi sejak tahun 2011, Sonic Wilderness menekankan pada pendengaran, interaksi, kolaborasi dan bermain dengan bunyi apapun yang dapat ditemukan saat mengeksplorasi alam.

Semua hasil residensi dan program kolaborasi pada rangkaian kegiatan ini kemudian dijadikan presentasi publik pada pertunjukan penutupan festival yang diadakan pada hari Sabtu, 13 Oktober 2018 di Eloprogo Art House.

Sebelumnya diselenggarakan juga pertunjukan musik Elektronik dari tanggal 10-12 Oktober 2018 yang berpindah tempat ber-urutan mulai dari Societet Militair, Arcadaz Speakeasy Lounge and Bar dan Jogja National Museum. Nama – nama musisi Indonesia mulai Dangerdope, Yennu Ariendra, J Mo’ong Santoso Pribadi, Gabber Modus Operandi, Setabuhan, Nadya Hatta dan Riska Farasonalia beradu tangkas di arena dengan musisi luar diantaranya Peter Kirn [US/DE], Jessica Ekomane [FR/DE], Fauxe [SG], Caliph8 [PH], mobilegirl [DE], Opium Hum [DE], AGF [DE/FI] dan Sote [IR].

Bagi yang lebih memilih asupan pengetahuan, Nusasonic juga menyelenggarakan marathon diskusi selama tiga hari yang digelar di Kedai Kebun Forum dan Mess 56. Mulai dari tema tentang networking yang diisi oleh para kurator festival, budaya struktur organisasi mandiri, strategi musisi di era digital, presentasi oleh seniman asal Filipina, Tad Ermitano, serta identitas baru mengenai bunyi. Salah satu diskusi menarik yang digelar di Kedai Kebun menyinggung tentang membangun jaringan diantara seniman wanita yang diisi oleh beberapa seniman wanita yang melakukan residensi di Nusasonic ditambah Anisa Putri (merahmudamemudar).

Tampak jelas mulai dari line-up pengisi acara Nusasonic, diskusi tentang networking yang diisi oleh para kurator serta tema diskusi membangun jaringan seniman wanita bahwa Nusasonic mencoba memegang peran dalam upaya membangun keseimbangan gender. Jan Rohlf (CTM Festival) dalam diskusi bertema Interlacing Networks menjelaskan bahwa CTM Festival selama ini membuat sebuah komposisi yang seimbang antara penampil laki – laki dan wanita serta mengakomodir partisipan LGBTQ.

Hal ini tampaknya menjadi sebuah fenomena yang menarik terjadi di lingkar festival musik di Eropa dan Amerika dimana beberapa pihak penyelenggara festival musik mulai memakai komposisi yang seimbang di line up acara mereka.

Tahun ini, sebanyak 45 festival musik di beberapa negara sudah melakukan ikrar untuk mencapai keseimbangan gender 50-50 pada tahun 2022.

Proyek semacam Keychange melakukan investasi dalam bakat dari para pencipta musik dan inovator perempuan yang akan menggerakkan kesuksesan masa depan industri musik.

Menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi Wok The Rock (Yes No Klub) selaku kurator untuk memilih musisi Eksperimental perempuan dari Indonesia dalam memenuhi tuntutan keseimbangan gender dalam Nusasonic. Wok akhirnya memilih untuk memberikan kesempatan bagi musisi wanita dari genre lain dengan syarat mau melakukan eksplorasi dan berkolaborasi dengan musisi lain. Maka tidak heran bila musisi piano yang bermain musik yang cenderung nge-pop seperti Ayu Saraswati ditunjuk sebagai partisipan Sonic Wilderness.

Di program Sonic Wilderness pun sebelum melakukan workshop selalu diawali dengan diskusi mengenai gerakan feminisme. AGF yang memimpin program tersebut juga tergabung dalam female:pressure, sebuah jaringan internasional yang dibentuk pada tahun 1998 bagi seniman yang mengidentifikasi diri-nya sebagai perempuan, transgender maupun non-biner yang berkarya di bidang musik Elektronik dan seni digital. Ber-anggotakan 2.200 orang yang tersebar di 75 negara, female:pressure kini merupakan sebuah sumber bakat berskala internasional yang juga menerbitkan FACTS Survey untuk mengumpulkan data atas rasio gender dari seniman/musisi yang tampil pada festival musik elektronik internasional.

Durasi panjang dan ketat-nya jadwal festival ditambah adanya beberapa kegiatan yang diselenggarakan di hari yang sama tapi berbeda tempat membuat Nusasonic terasa melelahkan bagi para penikmat acara dan bahkan partisipan-nya sendiri. Atmosfer kota Jogja yang identik dengan suasana santai, lambat dan relaks berbanding terbalik dengan program Nusasonic yang cenderung cepat, padat dan berat. Pada akhirnya calon penikmat acara harus pandai memilih kegiatan mana yang paling menarik untuk dikunjungi. Atau bagi yang ingin mengetahui semua kegiatan selama festival tapi cuma punya waktu satu atau dua hari, kebanyakan memilih berbondong-bondong menuju ke Eloprogo Art Space di tanggal 13 Oktober 2018 untuk menikmati Nusasonic secara utuh.

Di luar segala kelebihan dan kekurangannya, Nusasonic mampu menampilkan sebuah festival yang mengangkat jenis musik yang kurang diminati masyarakat awam dengan sarana dan prasarana yang memadai. Kapan lagi bisa menikmati Jogja Noise Bombing bermain dengan sound system yang wah, juga penampilan Setabuhan dan Raja Kirik dengan detail output yang maksimal. Hal ini juga menunjukkan bahwa dengan dukungan pihak penyelenggara pertunjukan di Indonesia, musik yang “tidak jelas” pun sebenarnya bisa dipresentasikan menjadi sesuatu yang menarik. (*)

Teks: Martinus Indra Hendrawan
Foto: Dok. Martinus Indra Hendrawan