Kerugian Besar yang Dialami Live Nation

Mungkin ini bukanlah berita yang mengejutkan bagi beberapa orang, tapi, bagi yang mengenal musik dan sering datang ke konser yang digelar oleh satu perusahaan tersebut, berita ini tetap saja mengejutkan. Baru saja, Live Nation melaporkan pendapatan pada kuartal kedua tahun 2020 yang turun sebesar 98% dibandingkan periode yang sama di tahun 2019. Mereka dalam keterangan resminya melaporkan kerugian operasi yang disesuaikan sebesar $ 431,9 juta dengan pendapatan bersih sebesar $ 74,1 juta pada kuartal kedua tahun 2020. Dengan pembatalan konser di seluruh dunia, divisi konser melaporkan pendapatan $ 141,8 juta berakhir menjadi 95% lebih rendah dari $ 2,64 miliar yang diperoleh di kuartal yang sama di 2019. Live Nation adalah sebuah perusahaan musik asal Amerika Serikat yang bergerak dalam bidang pertunjukan musik berupa konser-konser. Perusahaan ini dibentuk pada tahun 2005 dan saat ini berbasis di Beverly Hills, California. Perusahaan ini merupakan promotor konser terbesar di dunia dan telah memiliki banyak cabang di berbagai negara.

Raksasa konser ini melaporkan pendapatan $ 1,44 miliar untuk paruh pertama tahun 2020, turun 71% dari tahun ke tahun. Hanya ada 24 konser di kuartal kedua tahun 2020 ini, tentu saja hal tersebut berbanding jauh bila dibandingkan dengan 7.213 pada periode waktu yang sama di tahun lalu. Konser yang digelar di Amerika Utara pun hanya mampu mendatangkan total 8.000 penggemar dibandingkan dengan 15,84 juta pada kuartal kedua di 2019. Likuiditas Live Nation (alias berapa banyak uang yang mereka miliki) ada pada $ 2,7 miliar pada akhir Juni 2020, dengan $ 1,8 miliar dalam bentuk tunai dan $ 966 juta dalam kapasitas dept.

Pada bulan Mei kemarin, Live Nation memberhentikan 20% stafnya karena adanya pandemi Covid-19 yang tengah menghantam banyak sektor di seluruh dunia. Menurut Hypebot, pemberhentian itu adalah bagian dari rencana Live Nation senilai $ 600 juta untuk memangkas biaya dan mempertahankan diri. CEO Live Nation Michael Rapino baru-baru ini menguraikan strategi pembukaan kembali perusahaan sebelum nantinya mereka akan mencari para investor baru untuk berkembangnya perusahaan. Mereka berharap banyak kegiatan agar bisa dibuka kembali akhir tahun ini. Rapino mengklaim, berdasarkan survei internal, sebagian besar penggemar siap untuk kembali melihat pertunjukan.

“Dalam survei yang baru saja kami posting, kami berbicara dengan 10.000 pembeli tiket konser dan datanya cukup menarik: 90% penggemar mengatakan ‘Saya tidak sabar untuk kembali melihat pertunjukan konser,’ dan menurut saya tingkat pengembalian dana kami menunjukkan semuanya – kami menjalankan antara tingkat pengembalian dana 5-10 sekarang secara global, itu jauh lebih rendah di Eropa (yang jauh lebih maju dalam proses pemulihan), dan itu tidak keluar dari jalur ketika kami menjadwalkan ulang tur musik (dalam keadaan normal]. Sekarang kita hanya akan (menonton) sains dan melihat kapan kita bisa kembali keluar sana dengan cara yang aman. ”

Untuk penghabisan tahun 2020 dan 2021 mendatang, pihak mereka tidak ingin terlalu mengambil risiko yang ada di dalam bisnis ini seperti yang pernah mereka di waktu-waktu sebelumnya. Fokus utama yang akan mereka lakukan saat ini adalah pengembalian uang atas banyaknya tiket yang sudah dibeli. Posisi mereka saat ini pun sedang dalam posisi yang menguntungkan, dalm artian banyak pihak yang terus memberikan dukungan kepada mereka. Banyak pihak seperti, musisi dan agensi yang membantu serta memberikan solusi kepada mereka dalam mengatasi krisis yang ada. Menurut pihak Live Nation, kedua pihak ini sama sekali tidak meminta apapun atas pembatalan banyak konser yang tengah terjadi.

“Mereka membantu berbagi sebagian dari risiko itu untuk membantu kami kembali dan meningkatkan skala, dan tidak khawatir kehilangan uang di acara itu. Jadi selama enam bulan ke depan, kami akan mulai melambat dan mengecil, mulai kembali berfokus pada dasar-dasar dan pengujian secara regional. Ada banyak artis hebat yang bisa meramaikan sebuah tempat saat mereka mengadakan pertunjukan. Jadi, Anda akan melihat kami di berbagai negara, apakah itu Finlandia, Asia, atau Hong Kong. Selama musim panas akan ada pengujian yang dilakukan, apakah itu konser tanpa penggemar, yang menawarkan peluang siaran yang bagus dan sangat penting untuk bisnis sponsor kami; konser drive-in, yang akan kami uji dan luncurkan, atau konser festival berkapasitas rendah, yang dapat dilakukan di luar ruangan dalam teater di lantai stadion besar, yang memiliki cukup ruangan yang aman.” Tutur Rapino.

Live Nation baru-baru ini mengumumkan perubahan kebijakan pengembalian uang untuk pertunjukan yang ditunda. Jika sebuah pertunjukan ditunda, penggemar akan mendapatkan pemberitahuan bahwa mereka memiliki waktu 30 hari sejak pengumuman penundaan untuk mengklaim pengembalian uang, jika tidak, tiket mereka akan dialihkan ke tanggal yang baru dari pertunjukan yang mereka beli.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip Live Nation

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading