Salah satu festival seni kontemporer internasional terbesar di Indonesia, Artjog, telah memasuki tahun yang ke-12. Gagasan Arts in Common diproyeksikan sebagai tema besar yang diusung festival (yang sebelumnya dikenal dengan nama Jogja Art Fair) ini untuk setidaknya tiga tahun ke depan, 2019-2021. Pada tanggal 25 Juli-25 Agustus, Artjog MMXIX (2019) Arts in Common mengerucutkan tema besarnya ke dalam gagasan kuratorial Common | Space, menekankan posisi Artjog sebagai sebuah ruang milik bersama. Sebuah ruang yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung setiap harinya (dengan jumlah pengunjung harian terbanyak mencapai angka 4000-an).

(Teks pembuka perhelatan Artjog MMXIX, dok: penulis)

Artjog, yang dulu dikenal sebagai perhelatan art fair, kini muncul dengan wajah festival yang menampilkan beragam jenis kesenian. Mulai dari perhelatan utama yaitu pameran seni rupa dari 39 seniman partisipan (5 special project, 13 open call, dan 21 special invitation), seni pertunjukan yang menghadirkan penampil berbeda setiap harinya (total 92 pertunjukan), hingga rangkaian program publik seperti Meet the Artist, Lecture Performance LeksiKon, dan Curatorial Tour. Diinisiasi oleh Heri Pemad Art Management, festival tahunan yang diselenggarakan sejak 2008 ini menunjuk tim kurator yang terdiri atas Agung Hujatnika, Ignatia Nilu, dan Bambang “Toko” Witjaksono sebagai penanggung jawab artistik.

Memasuki ruang pamer Artjog yang berlokasi di Jogja National Museum (JNM), penonton langsung disuguhi karya monumental Handiwirman Saputra yang juga menjadi perwakilan Indonesia (bersama Syagini Ratna Wulan) dalam perhelatan biennale tertua di dunia, Venice Biennale 2019. Special projectHandiwirman menghadirkan sebuah ruangan berisi ragam objek tiruan yang seringkali tidak dihiraukan dalam kehidupan sehari-hari.  Penonton lalu diarahkan ke area terbuka yang menjadi lokasi karya Andrita Yuniza dan special projectdari Teguh Ostenrik. Setelah menikmati karya-karya tersebut, penonton dapat memilih untuk menelaah gagasan tim kurator terlebih dahulu atau langsung mengapresiasi bermacam karya lainnya yang ditempatkan di lantai 1 hingga lantai 3 JNM.

(Teks pembuka perhelatan Artjog MMXIX, dok: penulis)

Salah satu festival seni kontemporer internasional terbesar di Indonesia, Artjog, telah memasuki tahun yang ke-12. Gagasan Arts in Common diproyeksikan sebagai tema besar yang diusung festival (yang sebelumnya dikenal dengan nama Jogja Art Fair) ini untuk setidaknya tiga tahun ke depan, 2019-2021. Pada tanggal 25 Juli-25 Agustus, Artjog MMXIX (2019) Arts in Common mengerucutkan tema besarnya ke dalam gagasan kuratorial Common | Space, menekankan posisi Artjog sebagai sebuah ruang milik bersama. Sebuah ruang yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung setiap harinya (dengan jumlah pengunjung harian terbanyak mencapai angka 4000-an).

(Teks pembuka perhelatan Artjog MMXIX, dok: penulis)

 

(Teks pembuka perhelatan Artjog MMXIX, dok: penulis)

Lantai kedua JNM berisi seniman-seniman seperti Agung ‘Agugn’ Prabowo dengan karya linocutdan instalasi video berjudul “Superiorepeatedly,” kemudian instalasi bunyi interaktif karya Elisabeth Schimana dan Hillevi Munthe berjudul “You Never Know,” serta Natasha Tontey yang tidak hanya menampilkan karya dalam ruangan berjudul “Hama Memberkati” tetapi juga dua bentuk performans di area karyanya dan di panggung pertunjukan Artjog. Karya Tontey, bersama karya Andrita Yuniza berjudul “Whirlwind of Time,” dan Enka Komariah dengan karyanya yang diberi tajuk “Juxtapose #1,” dianugerahi Young Artist Awards dalam penyelenggaraan Artjog kali ini.

(Karya Natasha Tontey berjudul “Hama Memberkati” yang dianugerahi Young Artist Awards, dok: penulis)

Petualangan mengapresiasi karya seni Artjog dilanjutkan dengan karya etsa dan instalasi bunyi Etza Meisyara berjudul “Garam di Laut Asam di Gunung Bertemu dalam Belanga Juga,” Syaiful Garibaldi dengan “Kroraj Lirtuaria” (berarti ‘garis air’ dalam bahasa ‘Terhah’ yang dikembangkan sang seniman) yang mengembangbiakkan jamur dan tumbuhan di atas fiberglass, karya  performans dan instalasi Octora dengan tajuk “Post-Colonial Aphrodisiac,” Tromarama dengan karya berbasis internet berjudul “Domain,” serta karya puitik dengan cermin dan embun berjudul “19101” (Self-Recovery)oleh seniman Yusra Martunus. Lantai 3 JNM juga diisi oleh karya Arin Dwihartanto Sunaryo berjudul “Argo-Meru-Api” dan ayahnya Sunaryo yang tidak hanya menampilkan dua karya lukisan (berjudul “Sajadah Semesta” dan “Sayatan di Punggung Bukit”), tetapi juga membangun instalasi ruangan bertajuk “Bubu Waktu” menjelang pintu keluar ruang pamer Artjog.

(Suasana area karya Yusra Martunus dan Arin Dwihartanto Sunaryo, dok: penulis)

 

(Karya “Bubu Waktu” Sunaryo menjelang pintu keluar ruang pamer, dok: penulis)

Pintu keluar ruang pamer disambut dengan area merchandise yang dilanjutkan dengan foodcourt yang mengarah menuju panggung pertunjukan Artjog MMXIX. Dengan banyaknya pengunjung yang antusias memadati area JNM di sepanjang penyelenggaraan Artjog tahun ini, tidak heran apabila perhelatan ini masih mampu mempertahankan statusnya sebagai festival seni kontemporer terbesar di Indonesia.

Menarik untuk melihat bagaimana gagasan besar Arts in Common akan dilanjutkan dan dikembangkan dalam perhelatan Artjog di tahun-tahun berikutnya hingga 2021. Apa lagi yang akan ditawarkan setelah “ruang bersama” common | space?

Teks: Bob Edrian
Visual: Bob Edrian