Ganasnya Sumatera makin terasa. Perjalanan dari Medan ke Jambi molor beberapa jam. Yang harus dihadapi cuaca buruk di jalan dan kondisi fisik beberapa orang di dalam rombongan yang menurun.

“Kami telat berangkat karena ada anak-anak yang drop kondisinya,” kata Aldi dari Murphy Radio. “Harusnya jam sembilan, jadi jam sebelas jalan. Kata Google Maps harusnya tiba pukul dua belas malam, tahunya jadi pukul setengah lima subuh keesokan harinya.”

Agenda tur memang menguras fisik. Masing-masing orang di dalam rombongan menjalani sejumlah acara yang tidak melulu berurusan dengan main di atas panggung. Bertemu kawan-kawan baru dan melebarkan jaringan pertemanan jadi sesuatu yang dirajut.

“Ketemu kawan-kawan yang bergerak itu seru. Ada kawan A Front di Medan, terus ketemu beberapa orang yang sebelumnya sudah kenalan. Juga ketemu beberapa media,” lanjut Aldi. “Makanan juga jadi menu tersendiri sih,” tambahnya.

Memupuk pengalaman, merupakan proses sampingan yang terjadi di Stand A Chance on the Road Tour 2019 ini. Baik Murphy Radio dan The Panturas membawa pulang cerita.

“Di Padang kami akhirnya mencoba masakan padang yang benar-benar dari daerah asalnya. Beda banget makan masakan padang di Padang dengan apa yang biasa kami rasakan di Samarinda, enak banget di sini,” cerita Aldi sambil tertawa.

Di Jambi, kisah sejenis juga terjadi. Aldi meneruskan ceritanya, “Disambut sama Riri dari Semiotika. Terus diajak makan soto melati milik Bibing (–gitaris Semiotika, red—), terus dikasih cd sama beberapa teman baru.”

Tur di Pulau Sumatera mungkin tidak mudah. Tapi, proses berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya dan bertemu orang-orang baru, menambah sip perjalanan. Jaringan, bagaimanapun juga, perlu selalu dilebarkan. (*)