Kembalinya Angsa & Serigala

Salah satu yang perlu disyukuri di 2018 adalah kembalinya Angsa & Serigala. Band asal Bandung ini, merilis Ruang Waktu, album kedua mereka yang rampung bertahun-tahun setelah debut albumnya. Tidak hanya punya dimensi pengkaryaan yang baru, band ini juga punya personil yang berganti. Hanya Araji dan Meygador yang tetap di band itu.

Tiga orang personil baru, kakak-beradik Viddy dan Vicky Hediana serta Esa Prakasa, mengisi line up band ini. Format lima orang, dirasa cocok sekaligus menjadikan format segambreng personil sebagai masa lalu.

Ada api yang masih menyala. Plus, Ruang Waktu, adalah sebuah album yang punya faedah untuk saya. Maaf, dijadikan personal. Wawancara terjadi ketika mereka berkumpul untuk manggung di sebuah sore di Bulan November 2018 yang lalu.

Selamat datang kembali untuk Angsa & Serigala. Semoga berhasil melanjutkan asa untuk tetap berkarya.

Apa yang membuat Angsa & Serigala perlu waktu bertahun-tahun untuk kembali dengan album kedua?

Araji (A)?: Kemarin kita sempet ganti beberapa personil dan ganti manajemen. Nah, dari situ kita langsung transisi cari personil baru. Terus akhirnya nemu tapi sempet mikir pengen punya materi baru. Karena waktu itu sudah empat tahun setelah album pertama. Jadinya langsung fokus bikin materi dan album baru. Jadi lama juga karena banyak mikirnya. Haha.

Esa Prakasa (EP): Saya, Viddy dan Vicky merupakan personil baru di band ini. Akhirnya kita perlu waktu yang cukup banyak juga untuk lebih mengenal satu sama lain. Terutama dalam pengerjaan album kedua Angsa & Serigala ini.

Ngomong-ngomong, apa yang bikin ganti personil banyak amat? Dulu kalian segambreng dan sekarang tinggal menyisakan dua orang personil lama plus tiga orang baru. Banyakan yang pergi daripada yang bertahan.

A: Pilihan dan realita hidup kayaknya. Haha. Ada yang memutuskan keluar untuk sekolah ke luar negeri. Ada yang fokus di band lain. Ada yang fokus karir. Tapi bagi gue pribadi, napas band ini masih ada. Jadi gue sama Mega (Meygador –ed) mencoba mencari personil baru untuk kelangsungan band. Dan akhirnya, ya menemukan yang cocok sehati dan sevisi. Mudah-mudahan nggak ganti-ganti lagi ya.

Nah, ketika ‘realita’ itu menghampiri, buat Araji dan Mega, rasanya gimana sih? Kayak kalian masih punya hasrat main musik sama Angsa & Serigala tapi personil lainnya dulu dengan alasan mereka masing-masing, harus pergi dan meninggalkan band ini?

?Meygador (M)?: Karena bagi saya pribadi, masih tersisa harapan sama band ini. Dalam pikiran saya, “Masa sih mau segitu aja?”

A: Nah iya, ditambah saya masih pengen berkarya bikin musik. Jadi, gimana caranya kendaraan kita buat bikin musik bisa tetap jalan. Awal-awal punya rasa galau juga, tapi ya itu karena tekad dan mimpinya masih ada.

Dan akhirnya dari situ memutuskan untuk jalan terus? Nah, ketika tinggal berdua, apa yang kalian lakukan pertama? Bagaimana proses menemukan personil-personil baru ini?

Vicky Hediana (Vick)?: Kita ketemunya udah ditakdirkan sama Tuhan, mas. Hehehe.

M: Hahaha.

A: Hahaha.

Serem juga, bawa-bawa Tuhan.

M: Prosesnya pada saat itu, dikenalin sama manajer lama kita.

A: Awalnya saya cari gitaris ya minta bantuin si Esa. Tapi, lama-lama diculik.

EP: Iya, aku diculik sama om-om ini.

A: Terus, ya untungnya Bandung penuh dengan musisi bertalenta, jadi gampang nemunya. Dan kebetulan, dia umurnya lebih muda. Jadi gampang nurutnya. Haha.

Vick: Esa mau diapa-apain. Sabar ya, Sa.

Yang baru, pas diajak masuk ke Angsa & Serigala, apa yang ada di dalam pikiran kalian?

M: Bangga mereka, percaya deh.

Viddy Hediana (Vid)?: Pas diajak masuk ya, saya sih jawabnya mikir-mikir dulu aja. Butuh waktu. Jujur, pertama masuk, saya nggak tahu ini band apa. Tapi setelah nyari, oh ini band bagus juga ya. Udah terkenal. Tertantang sih. Genre musiknya berbeda dengan apa yang saya dalami sebelumnya. Dan akhirnya bisa cocok sampai sekarang.

EP?: Tantangan baru iya. Karena pas saya SMA dulu, selewat-selewat sering dengar Angsa & Serigala walaupun nggak tahu lagunya yang mana. Cuma tahu kalau band ini, lumayan punya nama di Bandung. Pas Araji kontak, awalnya saya diminta bantuan untuk mengisi gitar di album baru. Tapi ternyata setelah berjalan, mungkin ada kecocokan antara saya dan yang lain, akhirnya ya sudah berjalan sampai sekarang di sini.

Keputusan untuk menyederhanakan formasi itu munculnya gimana? Hingga, “Eh, kita berlima aja deh.”

A: Kalau gue, dari pengalaman punya band bersebelas, bersembilan terus bertujuh, pas dijalani banyak hal yang lumayan memusingkan. Mulai dari sisi manajerial, personal dan teknis pada saat main.

EP: Terlalu banyak kepala menimbulkan banyak pertimbangan yang bikin bandnya malah nggak jalan. Berlima ini mungkin dan mudah-mudahan jadi formasi yang ideal untuk Angsa & Serigala yang baru.

Secara teknis, tapi penyesuaiannya enak untuk dijalani? Maksudnya, karena instrumennya dipangkas, tentu ada keterbatasan suara. Nah, materi-materi lama masih mungkin dimainkan oleh formasi yang ini dong?

A: Masih. Kita masih pake additional player trumpet kalau main. Dan suara string, biola, kita masukkin ke sequencer.

EP: Kebijakannya gitu. Akhirnya, untuk lagu-lagu di album pertama, semua instrumen yang tidak bisa kita mainkan berlima ini, seperti biola, brass section, dll., kita playback di sequencer. Kecuali trumpet, kita pake additional. Nah untuk album baru, semua instrumentasinya sudah menyesuaikan dengan personil yang sekarang berlima.

Ok. Cukup dengan masa lalu. Tadi sudah sempat disinggung, salah satu yang bikin lama itu proses menulis materinya. Kelamaan mikir, katanya. Menulis materinya kolektif? Di sleeve album tidak ada datanya.

A?: Bukan. Kelamaan mikir waktu proses cari personil baru, kalo materi album kedua sih sebenernya rampung dalam waktu kurang lebih enam bulan di luar proses recording, mixing dan mastering. Nah, proses recording sampe mastering yg lumayan lama hampir setahun karena masalah waktu dan kesibukan masing-masing personil.

EP: Dan ada kesalahan-kesalahan teknis juga saat rekaman yang mengharuskan kita untuk take ulang, dsb. Itu juga lumayan menyita waktu.

Apek ya ketemu masalah teknis? Tapi, sebenarnya sebagai band, kebutuhan merilis karya baru itu sebesar apa sih? Hingga ketika bangun lagi sebagai band, yang pertama dikejar adalah menulis, merekam dan kemudian merilis karya baru?

A: Kalau dari gue pribadi, seiring dengan adanya formasi baru dan rentang waktu lima tahun dari album pertama sih, mungkin sudah saatnya punya karya baru. Sekalian ngebangun lagi chemistry juga di dalam prosesnya. Jujur saja, bisa punya materi baru yang dibawa ke panggung, jadi kebanggaan tersendiri untuk gue. Besar pengaruhnya untuk pribadi dan bandnya sendiri.

Vid: Untuk saya pribadi, sebuah band akan kurang lengkap tanpa karya. Dan karya itu sendiri yang bisa bikin band ini semangat untuk dijalani.

EP: Ini jadi momen yang besar untuk saya, Viddy dan Vicky sebagai orang baru di band ini. Akhirnya dengan adanya album baru ini, kita berlima mau nggak mau harus lebih kenal lagi satu sama lain. Mulai dari menyamakan referensi musik, visi dan misi yang mau dibawa ke mana. Dan ini jadi salah satu kontribusi terbesar dari kami bertiga yang baru ini. Bahwa Angsa & Serigala masih ada, masih tetap berkarya walaupun sempat hilang dari peradaban.

Secara garis besar, ada cerita khusus yang dikandung oleh album Ruang Waktu ini?

A: Kita banyak bahas cerita di mana social media sekarang berada di puncak teratas dalam piramida kehidupan. Juga cerita tentang rasa penasaran terhadap kehidupan di luar bumi. Haha.

Vid?: Araji belum berkesempatan lihat alien.

Vic: Tadinya, judulnya mau Mesin Waktu.

A?: Tapi jujur, fenomena efek social media buat kehidupan sehari-hari sekarang tuh menyeramkan sih. Dari mulai ketergantungan sampai berusaha memiliki sesuatu yang orang lain punya tapi kita nggak punya dan bahkan nggak jadi diri sendiri apa adanya gara-gara lihat social media. Itu gila sih.

EP?: Eh, gue aja nggak tahu ceritanya album ini ternyata ngomongin alien. Haha.

Oke, gue kesampingkan persoalan kehidupan di luar bumi. Haha. Media sosial adalah tema yang menarik. Tapi, kalau disambung-sambungkan dengan kisah kalian, eranya kan beda nih. Antara masa kalian masih aktif di periode album pertama dan sekarang ingin masuk lagi ke dunia yang sama. Kesulitan nggak sih? Gue pernah nanya Goodnight Electric hal yang sama, dan mereka mengakui bahwa perlu belajar memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan musik mereka kembali yang mungkin nggak dikenal sama orang karena arus informasi yang cepat sekali. Dalam kasus kalian, gimana? Kaget nggak dengan bagaimana industri musik sekarang berjalan?

A: Kaget. Haha. Makanya sekarang kita mulai pelan-pelan beradaptasi. Dan kebetulan Esa kan generasi Z. Jadi, kita lagi belajar dari dia.

Haha. Diberdayakan ya? Tapi, sekrusial apa sih bisa mengerti cara berkomunikasi era sekarang untuk bisa menyebarluaskan karya kalian?

A: Cukup krusial, karena ya itu tadi, memberikan sesuatu terutama karya musik ke orang ramai sekarang lebih susah dibandingkan dengan zaman awal dulu sekitar 2008.

EP: Kayaknya kita juga kurang lebih sama. Kita tidak kesulitan dengan menggunakan, tapi kesulitan untuk memaksimalkan social media untuk bersaing di industri musik sekarang ini.

A: Nah, itu. Orang atau band berlomba-lomba memaksimalkan social media dengan berbagai strategi menarik. Kita sebagai band nggak mau cari cara juga. Di situ susahnya. Nyari ide dan eksekusinya.

EP?: Akhirnya social media ini menjadi tolok ukur sebesar apa sebuah band. Padahal menurut gue, itu bukan acuan. Tapi karya di baliknya yang lebih fundamental. Akhirnya sekarang semua band berlomba-lomba membuat konten yang menarik. Persaingan bukan di musiknya, justru di sisi lain di luar musiknya.

Industrinya kan juga beda. Bisa jadi cara mainnya gitu. Yang jelas, sekarang makin besar. Kalian masuk ke kolam yang “baru”. Nah, setelah Ruang Waktu dirilis, gimana rasanya? Apakah kalian mulai mendapatkan respon yang diharapkan? Kalau menurut gue sih, albumnya ok nih. Dari depan sampai belakang.

A: Kalau respon yang diharapkan sih belum. Tapi lega, karena proses panjang bikin albumnya selesai. Sekarang pekerjaan rumahnya gimana mempromosikan albumnya jadi maksimal baik dalam manggung dan social media.

Dari segi bandnya, apa sih target yang kalian pasang?

A: Kalau gue pengen manggung yang sering dan umur bandnya jadi panjang sehingga bisa bikin karya lagi.

EP: Rasanya senang sekali. Karena satu proses yang panjang telah berakhir. Tapi gue juga sadar bahwa ada proses lain di depan yang menanti kita. Responnya mungkin belum, makanya ini kita lagi mencoba untuk memaksimalkan upaya apalagi yang bisa dimaksimalkan untuk menyebarluaskan karya kita ini. Targetnya bisa banyak manggung sih, Minimal sebulan delapan kalilah. Kan sabi kalau gitu.

M: Pengen orang ‘ngeh’ kalau Angsa & Serigala masih ada. Imbasnya bisa ke mana-mana. Termasuk manggung. Haha.

Haha. Emang nggak takut bosan main 8x sebulan? Susah loh, nggak punya kehidupan lain selain main band di akhir pekan kalau jumlah mainnya segitu. Ngomong-ngomong, masih punya niat besar dengan main musik?

M?: Nggak apa-apa. Pengen dong merasakan bosan manggung sekali-kali.

EP: Kalau personal sih, pengen banget bisa hidup dari musik. Toh, kalaupun bosan setidaknya saya bisa melewati hari-hari dengan sesuatu yang benar-benar disukai. Makanya, pengen banget sampai ke titik itu biar saya tahu jawabannya. Haha.

A: Gue masih punya niat besar. Terutama tentang karya baru dan manggung itu. Karena yang ada sekarang beda dari album pertama.

Ok, terakhir. Coba kasih alasan kenapa orang harus mendengarkan album Ruang Waktu milik Angsa & Serigala…

EP: Album ini sangat dekat dengan kehidupan kita di zaman sekarang. Dengan adanya Ruang Waktu, semoga album ini bisa jadi teman dan menjadi pertimbangan untuk orang-orang di luar sana yang merasa terasing dan kebingungan di era digital ini. Karya yang baik lahir dari sebuah keresahan yang berkepanjangan juga, bukan? Bener nggak?

A: Bener!

M: Orang mesti denger ini karena kalau mereka ngeh dengan musik Angsa & Serigala yang dulu dengan segambreng personil, nah gimana sih kalau jumlah personilnya lebih hemat? (*)

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Dok. Angsa & Serigala

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading

Karya Baru dan Rangkaian Tur Musik Isman Saurus

Di sekitar akhir 2021 lalu, solis asal Lumajang Jawa Timur, Ismam Surus telah melepas album penuh bertajuk Orang Desa. Sebagai rangkaiannya, di tanggal 24 Maret lalu ia telah melepas sebuah...

Keep Reading

Nuansa Anime di Karya Terbaru Moon Beams

Inspirasi untuk membentuk sebuah band bisa datang darimana saja, termasuk dari sebuah  anime. Jika kalian pernah menonton anime lawas berjudul BECK tentu tak akan asing dengan original soundtrack-nya bertajuk Moon...

Keep Reading