Kecanggihan 360° VR di Video Musik Terbaru Irama Pantai Selatan

Irama Pantai Selatan baru saja merilis klip video resmi untuk lagu mereka, “Bintang Laut“. Lagu tersebut merupakan salah satu trek dalam album perdana mereka, Dendang Samudra, yang dirilis tahun lalu.

Karena berkolaborasi bersama Dandi Ukulele (seorang pencerita anak yang terkenal dengan ukulelenya), video dibuka dengan narasi Dandi yang sebelumnya juga muncul di versi album “Bintang Laut”.

“Pada suatu sore, seorang bocah sedang asyik menikmati suasana pantai,” tutur Dandi bercerita. “Merebahkan tubuhnya, diterpa angin yang lembut membelai. Membiarkan jemari kakinya digelitik ombak yang merintik bagai rinai. Hingga kemudian, pandangannya tertuju pada sesosok bintang laut yang tengah merayap lunglai.”

Sembari suara Dandi terdengar, terlihat Arief Fauzan dan Sigit Ezra sedang berperan menjadi dua tokoh dalam cerita yang coba disampaikan lagu, Arief sebagai bocah yang sedang bermain di pantai dan Sigit sebagai bintang laut yang menyampiri boah tersebut.

Video hasil besutan Anggun Priambodo ini tidak hanya memvisualisasikan lagu tapi juga mengajak penontonnya untuk menikmati sedikit suasana pantai, relevan dengan keadaan akhir-akhir ini di mana masyarakat sulit untuk liburan. Dengan konsep 360°, penonton bisa menggerakan kepala langsung atau menggeser layar ponsel untuk melihat keadaan sekitar. Uniknya, di beberapa sudut terpampang lirik “Bintang Laut” yang bisa menuntun untuk ikut bernyanyi mengikuti lagu.

“Bintang Laut” sendiri merupakan trek keenam di album perdana duo ukulele asal Jakarta tersebut. Lagu ini cocok diperdengarkan kepada anak-anak karena liriknya yang ringan dan mengajarkan untuk melindungi lingkungan, khususnya bintang laut.

“Bintang laut harus dijaga agar tetap terus lestari,” nyanyi Arief di chorus. “Jagalah lautan, lautan kita, Indonesia.”

Irama Pantai Selatan sendiri merupakan duo pemain ukulele berbalut harmonisasi vokal yang mengusung pop maritim.

“Ini sebenernya akal-akalan kita sih karena kita sulit mendeskripsikan genre musik yang kita mainin. Akhirnya kita bikin genre sendiri namanya ‘maritim pop’,” lanjut Arief saat ditanyai tim Siasat Partikelir beberapa waktu lalu mengenai musik yang mereka mainkan. Definisinya sederhana, yaitu musik pop dengan tema dan lirik yang mengangkat nuansa kelautan dan kehidupan di pesisir.

Konsep tersebut konsisten dijalankan di setiap karya mereka, “Matahari Selatan” (2019), “Pulang” (2019), hingga setiap lagu dalam Dendang Samudra.

Album “Dendang Samudra” juga sudah dirilis sejak tahun lalu. Album tersebut tercipta karena celetukan entah dari siapa yang memulai pertama kali, cukup unik memang. Yang mereka ingat hanyalah momen di saat celetukan itu keluar dari mulut salah diantara mereka, entah itu Arief atau Sigit, momen itu terjadi saat keduanya sedang bersantai menikmai indahnya pemandangan laut yang ada di pinggiran pantai Ancol.

“Kami berangan-angan, akan seperti apa album Irama Pantai Selatan nanti dan apa namanya, lalu terucap spontan nama ‘Dendang Samudra’ yang kemudian kami sepakati di kemudian hari. Tidak ada filosofi khusus dari nama tersebut, Dendang Samudra hanyalah nama yang mewakili Musik Irama Pantai Selatan yang sudah dikenal para pendengar sebagai Irama Dendang Bernuansa Pesisir.” ungkap duo Irama Pantai di Selatan.

 

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Arsip dari Irama Pantai Selatan

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading