'Katarsis', Sajian Pop Janggal dari Hursa

Ketukan janggal, progresi aneh di beberapa bagian, ditambah vokal pop. Mungkin, ketiga hal tadi bisa menjelaskan secara singkat apa yang terjadi dalam musik Hursa. Kuartet asal Jakarta ini baru saja melepas album penuh kedua mereka dengan tajuk Katarsis pada 27 Agustus lalu, dan ketiga hal tadi masih kental terasa di sana.

Album tersebut dibuka dengan “Hursa, Hursa”. Trek pertama ini sebelumnya sudah dirilis dalam bentuk single tahun ini, menyusul Kabung” yang dilepas tahun lalu, dan diikuti dengan “Ruang Tanpa Jenjang” dan “Rumangsa” sebelum akhirnya Katarsis dirilis. “Hursa, Hursa” memang cocok dijadikan pembuka. Mengambil nama mereka yang merupakan ucapan penyemangat penunggang kuda untuk memacu kudanya, judulnya saja sudah bikin energi bergejolak. Lalu, dari segi musik, tembang ini memang membakar semangat, ditandai dengan bagian hook “hursa, hursa” yang dinyanyikan keroyokan, bridge yang begitu Agterplass, ditambah lick gitar tajam terdengar ganda khas Brian May di dekat akhir lagu. Liriknya pun demikian, “memburu khayal, tak semudah itu, patah pucuk, jangan tunduk”.

“Semusim Kelam” menyusul selanjutnya. Dalam lagu ini, Hursa mengajak Neida dari HIVI! untuk mengisi vokal. Kehadiran Neida membuat lagu ini menjadi semakin manis. “Ini jadi yang paling pop,” tutur Pandji (gitar, vokal) di hearing session yang diselenggarakan Hursa beberapa hari sebelum Katarsis rilis. Biarpun begitu, jangan terlalu percaya saat Hursa bilang pop. Di bagian sebelum chorus, Neida bernyanyi di atas ketukan yang terasa sedikit janggal, mungkin karena bukan 4/4, namun tetap dengan gampang diterima telinga. Masuknya Neida di lagu ini (atau Hursa secara keseluruhan) bisa dibilang versi ringan dari grup idola (tapi) mathrock asal Jepang macam Sora Tob Sakana.

Secara keseluruhan, musik Hursa dalam Katarsis sudah lumayan terjelaskan. Jadi, mari bahas beberapa catatan kecil dalam sejumlah lagu.

Dalam “Heylaa”, Hursa mengajak Dissa Kamadjaya untuk membantu sebagai produser tambahan. Dissa dipilih karena para personel suka dengan hasil produksinya dalam lagu-lagu Nadin Amizah seperti “Taruh” dan “Cermin” yang ada di album debutnya. Di sisi lain, Dissa juga menyukai album perdana Hursa, Harap dan Tuah, khususnya di trek “Makna Masa”.

“Pandji kirim voice memo terus gua bikinin aransemennya sama guide-nya. Terus kagak direvisi,” jelas Dissa soal proses kreatif keduanya. “Gua kasih ganjil-ganjil khas mereka di akhir.”

Nampaknya, proses kreatif Hursa memang begitu, membuat bagan pop terlebih dahulu baru lah menambahkan bumbu-bumbu turbo mereka. Ketukan “Heylaa” mungkin memang lumayan standar dibanding lagu lain, menggunakan (mungkin) waltz yang datar hampir di seluruh lagu, seperti yang terjadi juga di “Kabung”. Bagian khas mereka yang dimaksud Dissa tadi mungkin adalah beberapa saat setelah drum masuk dan bumbu lick gitar yang menyusuri nada pembentuk diminished menjelang akhir lagu.

“Rumangsa” juga menarik untuk diperhatikan. Bebunyian dengan tuts Hursa mungkin hampir serupa dengan yang biasa digunakan oleh band-band seperti The 1975, terdengar elektronis. Kehadiran pianis jazz, Sri Hanuraga, memberi tambahan yang pas untuk itu. Dengan suara yang lebih analog, jemari Sri begitu nakal menambahkan banyak bumbu, termasuk solo yang gagah, mengingatkan pada scoring musim dingin gim I Am Setsuna.

Dari lagu-lagu Hursa, pendengar bisa tahu bahwa mereka adalah band yang mampu membuat musik penuh “keanehan”. Bahkan saat hearing session, salah satu pihak media mengatakan bahwa musik mereka adalah bentuk dari progresif metal blablabla. Vega Antares (MahaDewa) yang ikut mendengarkan pun melontarkan pujian untuk keganjilan ketukan lagu-lagu Hursa dengan celotehan, “Lo gendeng. Sempoa berceceran ini.”

Sebenarnya, musik pop Indonesia generasi sebelumnya pun sudah punya “keanehan” macam Hursa. Dewa, misalnya, punya “Risalah Hati” atau “Roman Picisan” yang kalau ditilik ternyata dibumbui progresi-progresi serta perpindahan nada dasar yang tidak begitu lazim. Namun, Ahmad Dhani dan kawan-kawan tetap bisa menembus pasar pop Tanah Air. Mungkin, arah ini lah yang coba dikejar Hursa dan percayalah membuat “keanehan” di ranah tersebut bukan hal gampang.

Hursa memang memilih menjadi band pop. Pandji, Gala (keyboard, vokal), Irvan (synthsynth bass), dan Goldy (drum) mengaku bahwa mereka hanya menambahkan sedikit “turbo” dalam musik pop mereka, bagaikan memakai NOS saat bermain gim-gim dalam seri Need for Speed.

“Ini lagunya pop nih tapi kadang kita kasih turbo,” canda Pandji kala menjawab media yang menanyainya penjelasan soal pop turbo, istilah yang Hursa temukan untuk mendefinisikan musik mereka. “Kami enggak merasa seprogresif itu karena yang kita bikin masih enak didengar, cuma mungkin ada beberapa kombinasi yang enggak biasa orang dengar.”

Alih-alih menggunakan kemampuan bermusik mereka sebagai sarana onani intelektual untuk pamer skill, Hursa lebih ingin karya mereka didengar secara luas. Mereka tidak ingin “barang bagus” mereka hanya dipuji oleh intelek musik, didengarkan sejenak, lalu dilupakan.

“Pengin lebih lama umurnya. Bukan yang ‘wah ini keren nih’ tapi udah. Album ini lebih gampang didengar jadi diharapkan lebih bisa didengarkan sambil menemani kehidupan,” aku Gala sembari memberi contoh naik motor pagi hari saat menuju kantor.

Bahasa Indonesia Sebagai Bahan Lirik Utama

Seluruh lagu dalam Katarsis menggunakan Bahasa Indonesia. Alasan mereka untuk ini cukup sederhana. “Basic-nya kita kurang bisa ber-Bahasa Inggris,” kalau kata Pandji. Biarpun merendah, bukti dari ucapan Pandji mungkin ada benarnya.

“Hursa has been released two singles, ‘Ruai‘ and ‘Makna Masa‘, then a full album entitled Harap Dan Tuah in 2019,” tulis mereka di profil band. Adakah salahkah dari kalimat tersebut? Kalau tidak ya sudah.

Ini merupakan nilai tambah bagi mereka. Lirik-lirik mereka dapat menambah kosakata bagi pendengar mereka. Kesulitan dalam menulis lirik ber-Bahasa Indonesia mungkin terletak pada kesenggangan antara bahasa baku dan bahasa sehari-hari. Tidak setiap orang bisa membuat lirik dengan bahasa sehari-hari semudah yang dilakukan para musisi Potlot. Hursa pun akhirnya memilih diksi-diksi seperti “misuh” dan “menyusup usik” untuk memperindah karya mereka, dan mereka berhasil.

“Kata-kata yang lumrah akan enggak cocok masuk dengan musik yang begini makanya dipilih yang lebih indah lah,” aku Gala.

Teks: Abyan Nabilio
Visual: Agung Santoso/Arsip dari Hursa

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading