Karya Cetak Usenk di Black Hand Gang

Tahu Black Hand Gang? Untuk yang menggeluti dunia seni, terkhusus seni cetak, pastinya hafal betul dengan nama Black Hand Gang. Studio yang terletak di pulau Dewata, Bali ini, terus menerus melahirkan karya cetak yang sangat luar biasa. Selain sebagai studio, tempat mereka juga difungsikan sebagai wadah untuk banyak orang yang ingin belajar seni cetak tersebut. Salah satunya adalah Sandi Jaya Saputra, atau yang kerap dipanggil dengan nama Usenk. Di 23 November kemarin, seniman yang bermain di ranah medium fotografi (fine art photographer) dan juga dosen di Universitas Padjajaran Bandung ini datang ke BHG.

Kedatangan seniman ini ke studio BHG terhitung sangat spesial bagi gerombolan pengkarya ini, kenapa? Karena Usenk pergi ke Ubud dari Bandung dengan kendaraan pribadinya, seorang diri pula. Selama satu minggu, Usenk yang merupakan peraih penghargaan finalis 15 besar Bandung Contemporary Art Award dan seniman muda Biennale Jogja, berkarya di Black Hand Gang Studio untuk menambah pengalaman kreatif dengan media dan teknik perupaan yang baru. Dalam residensi ini ia menggabungkan media fotografi yang menjadi basis utama kreativitasnya dengan seni cetak grafis yang dipelajarinya di BHG.

Dua foto yang dipilih Usenk di hari pertama residensinya berbicara tentang konsep “ruang.” Problematika interaksi manusia dengan ruang memang mendominasi karya-karya Usenk.  Misalnya, dalam karya kolaboratif antara Usenk dengan seniman Resatio berjudul Space and Power Queuing Dream, Usenk berbicara tentang ruang, yang bukan sekedar bangunan atau tempat, namun juga selalu ada dorongan dan narasi politis di sana. Sementara dalam karya Usenk yang lain yang berjudul EX, Usenk memotret bangunan bersejarah di kota Bandung. EX bercerita tentang “ruang” dan “waktu”, tepatnya bagaimana manusia meninggalkan atau melupakan ruang tertentu.

Namun ruang yang ditinggalkan tetap memberikan pesan, dan menjadi sumber sejarah. Dari dua set karya ini, Usenk memilih dua foto dengan karakter warna berbeda. “Dua karya ini mewakili dua kesulitan yang berbeda, yang pertama pada karya Space and Power Queuing Dream menggunakan teknik warna dengan pembagian warna CMYK dan yang kedua karya EX monokrom.”

“Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mencoba printmaking (seni cetak grafis), tetapi residensi di BHG memberikan saya pembelajaran lebih karena belajar tahapan demi tahapan secara teliti untuk menghasilkan karya yang terbaik,” ujar Usenk. Usenk pun menceritakan tahapan pembelajarannya saat residensi di BHG, dengan bantuan tim BHG ia berhasil mentransformasikan karya fotonya ke dalam format seni cetak grafis dari tahap mengenali medium screen printing (cetak saring), editing karya yang akan diproses, identifikasi bahan ekspose film ke screen cetak, campur warna, tata cara cetak, sampai ke membersihkan screen. Usenk mengaku ia menikmati residensi bersama BHG karena selain berkarya ia juga dilibatkan dalam proses bekerja sebagai printmaker sehari-hari. Hal ini, aku Usenk, memberinya pengalaman berharga. 

Sebanyak dua karya dengan edisi terbatas telah dirampungkan Usenk selama masa residensi dari tanggal 23 – 30 November 2020. Satu karya berwarna (process color) dan satu karya hitam putih dicetak dengan teknik cetak saring. Kemampuan Usenk di bidang fotografi dan adaptasi teknik grafis membuat kedua karyanya unik dan menarik secara visual. Menurut Devy Ferdianto selaku kepala Studio BHG, sebagai seorang dosen dan seniman, Usenk tidak diragukan lagi memiliki kemampuan dalam mengungkap narasi visual lewat karya fotografi. Saat diperkenalkan dengan media baru, Usenk sangat adaptif dan dapat dengan cepat menyesuaikan diri dan memanfaatkan media cetak grafis kedalam karya-karyanya.

Black Hand Gang, sebagai open printmaking studio dan sarana kolaborasi seniman berbagai genre, senantiasa mendukung perkembangan seni cetak grafis di tanah air. Sejalan dengan salah satu misi edukatif yang kami emban, BHG akan menyelenggarakan program artist in residency secara rutin dan terbuka bagi seniman lokal, regional maupun internasional.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Black Hand Gang

Fragmen Keinginan sheisjo di Nomor "OOE"

Solis asal Jakarta Chika Putri Bagaskara dengan moniker sheisjo telah melepas materi lagu berikutnya yang bertajuk “OOE” (15/08). Sedikit berbeda dari tiga single sebelumnya yang memiliki sound acoustic, “OOE” diracik...

Keep Reading

Inspirasi Film di Materi Teranyar Eastcape

Tahun 2021 lalu menjadi tahun yang bisa dibilang ‘manis’ bagi Eastcape karena di tahun tersebut mereka resmi memperkenalkan dirinya di kancah industri musik dengan menelurkan sebuah single dan Split EP...

Keep Reading

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading