Karena Indie Punya Sistem dan Etikanya Sendiri

Meski indie lekat dengan kultur dan semangat menghindari diri dari budaya arus utama, pikiran Yudhaswara alias Yudha sama sekali tak terganggu dengan kepopuleran label tersebut yang kini sedang meroket di panggung musik Indonesia. Tapi demikian, vokalis grup musik beraliran pop-alternatif asal Bandung, Nadafiksi, itu mengingatkan bila band indie yang tengah dikenal dan digandrungi orang banyak itu agar senantiasa merawat nilai-nilai gaya musik do it yourself (DIY)-nya itu sendiri. 

“Jangan sampai mengubahnya karena ikut dengan keinginan orang banyak. Sebab, indie punya sistem, etika, dan mutu yang khas,” kata dia saat dihubungi Siasat Partikelir via sambungan telepon beberapa waktu lalu. Senada dengan Yudha, menurut berbagai literatur, gerakan baru yang asal-usul kemunculannya sebermula dari genre musik punk pada 1970-an di Amerika Serikat itu memang punya sejumlah ciri unik. Misalnya, musisi indie dapat dicap “sell-out” atau berkhianat kalau saja mereka dengan tak malu mengubah gaya musik hanya untuk menghasilkan lebih banyak uang atau karena berhasrat menjadi tambah terkenal. Bahkan, bila hal ini benar-benar dilakukan, sebagai konsekuensi mereka akan ditolak dari komunitas indie.

Nadafiksi

Tak jauh beda dengan pandangan Yudha menyangkut karakter indie yang khas itu, Wendy Fonarow dalam ulasannya berjudul Empire of Dirt: The Aesthetics and Rituals of British Indie Music mengatakan, walau banyak kalangan sarjana dan penggemarnya kerap kebingungan soal seperti apa pengertian yang tepat untuk menjelaskan indie, tapi bagi kelompoknya sendiri indie tak jarang dipahami pula sebagai landasan ideologi dan genre dalam bermusik. “Dari sinilah selanjutnya muncul kebiasaan seperti merekam dan mempromosikan lagu yang semuanya dilakukan sendiri, kedekatan mereka yang lebih dengan fansnya, hingga membentuk corak musik yang berbeda dari band mainstream kebanyakan,” tulis Wendy yang merupakan antropolog dan seorang profesional di bidang industri musik berkebangsaan Amerika Serikat dalam bukunya bertahun 2006 itu.      

Bertolak dari yang ia pahami itu, menyebabkan Yudha sempat menduga indie yang kini kian menjadi trend tersebut besar kemungkinan sudah mulai mengalami perubahan dari tradisi sebelumnya. Hal ini ia akui pernah menimbulkannya gelisah. Kegelisahannya itu kemudian ia lampiaskan dengan membuat tagar ‘#indieindiet…ikucing’ di kolom caption atau tulisan di bawah foto yang ia posting tentang momen saat ia bersama bandnya manggung di salah satu festival musik di Bandung beberapa tahun lalu. “Jelas mereka kaget lah lihat kita kayak gitu, terlebih kita tahu kan sejarah indie di Indonesia itu berawal di Bandung. Apalagi, salah satu nama besar penggerak indie di Indonesia itu Yockie Suryoprayogo (personel God Bless), mungkin kita dianggap ngolok-ngolok dia.” 

Empire of Dirt: The Aesthetics and Rituals of British Indie Music 

Lebih lanjut, terlepas ada dan tidaknya pergeseran dalam budaya indie, Yudha memandang setidaknya ada dua alasan yang memengaruhi mengapa label itu bisa sampai di titik sepopuler seperti sekarang ini. Yang pertama karena ada kemungkinan status indie dianggap jadi produk yang mampu menjual sebuah band. Berikutnya, kata Yudha, kepopuleran itu juga ikut didorong media informasi baik cetak maupun daring yang tak henti-hentinya memberitakan band-band berlabel indie. “Gue band indie nih, tapi lu juga (kepingin) biar populer. Nah, media juga punya kontribusi di situ,” ujar pria yang tengah menyiapkan album terbaru bersama bandnya itu.

Dua analisa Yudha itu sejatinya juga sudah diutarakan buku bertahun 2017 From Indie to Empire. Penulisnya, Ryan Donnelly, menyatakan indie adalah brand sekaligus produk yang dapat dikomersialisasi. Tak heran, kata Ryan, faktor modal finansial yang terbatas memaksa banyak band indie memanfaatkan labelnya itu. Adapun media informasi memang menjadi pendengung alias buzzer utama indie. Bahkan, tanpa media barangkali orang awam tidak akan mengenalnya. Di Inggris misalnya, beberapa dekade lalu berkat kehadiran pers musik indie yang di sana dikenal dengan sebutan ‘the Inkies’ macam New Musical Express (NME), Sounds, dan Melody Maker, indie berhasil membentuk komunitasnya sendiri dan menguasai perbincangan publik. “Terlebih, sejak adanya internet mayoritas band indie memiliki situs web dan media sosial,” tulis Ryan dalam ulasannya itu.  

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Semeti Medley, MV The Dare Besutan Allan Soebakir

Pantai! Lombok! Apa yang pertama terlintas di benak kita mendengar dua kata diatas. Tentunya hamparan garis pantai nan panjang lengkap dengan pasir putih, ombak yang riang dan air laut yang...

Keep Reading