Kabur dari Kantor #1: Jalan-Jalan ke Pasar Buku Palasari

Sebenarnya bisa saja kami membeli atau sekadar memanjakan mata dengan mengunjungi toko-toko buku online di belantara pasar digital, namun untuk urusan yang bersifat  bendawi bernama buku kami memutuskan untuk #kaburdarikantor dan mengunjungi salah satu tempat legendaris di kota Bandung, yaitu pasar buku Palasari. Lokasi ini memang tempat tujuan paling menarik untuk dikunjungi dan berburu buku baru maupun buku bekas yang sudah sangat susah untuk didapatkan. Jumlah buku di sini tumpah ruah, mau cari jenis apa aja pasti ada (dengan catatan kalian sabar untuk mencarinya). Tempatnya tidak terlalu jauh dari jalan Buah Batu.

Sedikit melenceng dari topik, dari dulu hingga sekarang, Indonesia dikenal dengan banyaknya penulis handal dengan karya yang sangat bagus. Sayangnya, besaran angka penulis dengan pembaca tidak sebanding. Dalam catatannya, BPS menyebutkan bahwa penduduk usia 15 tahun yang melek huruf mencapai jumlah 96 persen. Angka ini seharusnya bisa menjadi tolak ukur suatu negara akan minat bacanya, tapi nyatanya hal itu berbanding terbalik. Minat baca Indonesia hanya 0,001 persen, yang bila diumpamakan, dari 1000 orang hanya 1 orang saja yang rajin membaca. Pada tahun 2018, proyeksi penduduk berdasar survei penduduk mendapat angka 265 juta jiwa, bila dikonversikan maka terdapat 265 ribu orang yang punya minta baca tinggi. Angka itu masih terbilang kecil bila dibanding negara lain yang memiliki minat baca tinggi.

Sesampainya di sana, setelah turun dari motor yang terparkir apik di pinggir jalan kami langsung dihadapkan dengan bibir pasar, yang tentu pemandangan  awal yang kami lihat adalah tumpukan buku berbagai genre di setiap sudut. Tentu saja kami langsung disambut dengan sangat antusias oleh penjual di setiap toko yang kami lewati, sembari menanyakan buku apa yang kami cari. Kebanyakan dari toko menampilkan cover buku langka yang sudah tidak terbit lagi, sebuah siasat yang cukup cerdik untuk menarik minat pengunjung agar melihat-lihat koleksi buku yang ada di toko tersebut.

Setelah melewati sekitar belasan toko buku, kami terhenti di sebuah toko bernama TB Indasto yang dimiliki oleh seorang pria paruh baya berambut putih dan gondrong. Di depan tokonya menggunung tumpukan majalah bekas juga  buku-buku langka yang lain, semisal buku dengan hardcover hitam pekat berjudul 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi. Di sana kami coba mencari majalah bekas Rolling Stone Indonesia yang sudah tidak terbit lagi, namun sayang kata sang empunya toko majalah tersebut sedang kosong.

Setelah kembali melewati beberapa toko buku, kami berhenti di toko buku Cerdas Beg Beg Tea milik Pak Somantri yang langit-langit tokonya dihiasi berbagai poster musik dan  menggantung sebuah figura berbentuk bulat menampilkan Jim Morisson. Toko tersebut sudah beroperasi sejak 2003 silam dan menyediakan buku dari berbagai genre, dari sastra, filsafat, seni, komik dan lain sebagainya. Namun kebanyakan buku  yang dijual di toko tersebut adalah buku bekas. Namun bukan tanpa alasan, pak Somantri mengisahkan bahwa pelanggannya saat ini adalah para pemburu buku bekas, dan kalaupun menyediakan buku baru permasalahan yang jadi pertimbangannya adalah pada persaingan harga.

foto penjual di pasar buku palasari

Melihat banyak buku langka import yang sudah tidak terbit lagi, kami menanyakan dari mana buku-buku tersebut bisa ada di dalam raknya. Ia menjelaskan bahwa buku-buku tersebut ia dapat salah satunya dari para pemustaka yang menjual buku-buku pribadinya. Sekali datang jumlah buku tersebut tak main-main, bahkan sampai ada yang menjual satu paket dengan raknya.

“Sekali ada yang menjual itu nggak dikit, bahkan satu perpustakaan. Ada juga yang menjual keliling pakai roda. Kemarin ada yang menjual satu paket sama raknya, dia jual sampai 15 juta,” kata pak Sumantri.

Kebanyakan pelanggannya adalah mahasiswa, maka tak aneh koleksi buku yang dijualnya kebanyakan adalah buku-buku diktat untuk kuliah. Di masa pandemi seperti sekarang penjulannya pun ikut turun, namun sedikit terselamatkan dengan berjualan secara online. Ia memanfaatkan media sosial untuk menjual buku-bukunya tersebut.

“Kebetulan sekarang lagi corona ya, jualan online jadinya. Tapi nyari para kolektor ketika berjualan online ya susah juga,” pungkasnya kembali.

Pasar buku Palasari awalnya adalah pasar inpres yang menjadi tempat relokasi pedagang buku kaki lima di Cikapundung, dekat alun-alun Bandung. Berbagai kisah pun terselip sepanjang perjalanan pasar buku ini, seperti terjadinya kebakaran pada tahun 1993 yang menghanguskan ratusan ribu buku ketika popularitasnya kian naik. Setelah kebakaran bangunan pasarpun dirobohkan dan para pedagang buku menempati area parkir dari bangunan sebelumnya untuk tempat berjualan sementara, namun akhirnya berlanjut sampai sekarang.

Tak cukup berjulan secara offline, pasar buku Palasari pun merambah ke dunia digital dengan membuat kanal khusus bernama palasarionline.com. Dengan adanya pasar online tersebut semakin memudahkan orang-orang dari berbagai daerah untuk mengunjungi, melihat koleksi, dan membeli buku di Palasari.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Adjust Purwatama

PARTIKILAS Part II: Favorit Siasat Partikelir di 2021

Ada begitu banyak jumlah karya yang dirilis oleh para musisi di sepanjang tahun 2021. Seperti yang sudah diulas dalam Partikilas Part I, berdasarkan pantauan di email Siasat Partikelir, setiap harinya...

Keep Reading

PARTIKILAS Part I: Mereka yang Berbagi Kabar di 2021

Untuk menyambut tahun 2022 yang penuh harapan, di bawah ini kami menyuguhkan kilas balik yang bersumber dari data dan dokumen internal Siasat Partikelir di sepanjang tahun 2021.

Keep Reading

5 Alasan Kenapa Rock In Celebes 2021 Begitu Penting Untuk Disimak

Memasuki tahun ke-12, Rock In Celebes kian menunjukan taji atas kiprahnya di ranah festival musik. Tahun ini, festival yang berbasis di pulau Sulawesi tersebut kembali menggulirkan agendanya dan akan digelar selama 10...

Keep Reading

Interview: Caccia dan Perjalanannya Menyusuri Musik

Apa rasanya bisa band-bandan dengan pasangan? Caccia mungkin salah satu dari beberapa unit musik yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Duo asal Jakarta ini dimotori oleh sepasang kekasih, Anya (vokal) dan...

Keep Reading