Kabar Segar dari 'Asosiasi Promotor Musik Indonesia'

Apa yang kalian rindukan selama masa pandemi? Tentu bagi penggemar musik adalah datang ke konser. Namun sayang sekali di tengah kondisi  seperti sekarang banyak gelaran musik akbar yang dibatalkan ataupun diundur. Pertunjukan musik memang selalu menjadi peristiwa yang paling dinantikan oleh khalayak. Tak hanya untuk penonton saja, tetapi para promotor pun sama halnya menantikan peristiwa insi. Terbilang, satu dekade terakhir pertunjukan musik di Indonesia kian meriah. Gelaran berskala besar tiap tahunnya selalu terselenggara, semisal  Synchronize Fest, Soundrenaline, Rock in Celebes, dan lain sebagainya. Musisi dunia pun hilir mudik datang ke Indonesia. Siapa otak di baliknya? Tentu saja promotor dan penyelenggara konser musik.

Baru-baru ini bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda (28/10) kemarin, tujuh promotor musik besar Indonesia mendeklarasikan perserikatan promotor pertama yaitu bernama Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI). Ketujuh promotor musik tersebut yakni Dewi Gontha (Java Jazz Festival, Java Festival Production), Dino Hamid (Berlian Entertainment), Emil Mahyudin (Nada Promatama), David  Karto (Synchronize Festival), Darshan Pridhnani (Hype Festival), Donny Januardy (Hammersonic Festival), dan Anas Syahrul Alimi (Prambanan Jazz, Rajawali Indonesia).

APMI merupakan suatu perkumpulan yang bertujuan untuk memajukan ekosistem pertunjukan dan festival musik Indonesia serta berkeinginan untuk bersama-sama meningkatkan kualitas dan kuantitas karya-karya pelaku Industri musik Indonesia. Untuk mewujudkannya, setidaknya ada 4 pilar utama yang dipegang oleh APMI, yakni Idea, Network, Education dan Innovation.

“Kami selaku pendiri bersepakat menciptakan visi dan misi yang sama untuk mengembangkan industri ini melalui program yang dapat menciptakan ide baru, edukasi, networking dan pengembangan lainnya guna mempersiapkan pelaku industri agar secara bersama sama dapat berkembang dan bersaing secara internasional ” kata Emil Mahyudin, salah satu pendiri yang juga selaku Sekretaris Umum APMI.

Di banyak negara, serikat promotor maupun penyelenggara pertunjukan musik memang sudah ada, semisal Association of Independent Festival (AIF), Music Venue Trust (MVT), Association of Festival Organisers (AFO), All Japan Concert & Live Entertainment, bahkan Turki punya Tesder alias Turkish Promotor Association, dan kita bisa melihat bagaimana kemajuan roda bisnis pertunjukan musik di sana. Dengan terbentuknya APMI ini barangkali kita bisa sedikit lega dan berharap banyak untuk kemajuan industri pertunjukan musik di Indonesia. Karena tak bisa dipungkiri  bahwa keberadaan  asosiasi promotor musik memang cukup penting dan diperlukan, terlebih di Indonesia.

Melansir dari Tirto.id, pada tahun  2018 Britania Raya meraup untung 1,1 miliar Poundsterling dari sektor bisnis pertunjukan musik. Industri pertujukan musik pula setidaknya telah mempekerjakan lebih dari 30 ribu orang. Di Amerika Serikat, menurut data yang dirilis Nielsen Music (2018), sekitar 552 persen dari total populasi AS pergi menonton live music setiap tahunnya. Pendapatan promotor raksasa seperti Live Nation juga terus naik, pada tahun 2019 mereka meraup  9,4 miliar dollar, naik dari 8,7 miliar dollar dari 2018.

Dino Hamid selaku pendiri yang juga sebagai ketua APMI mengatakan bahwa Indonesia juga memiliki potensi yang cukup besar di wilayah industri pertunjukan dan festival musik. Dengan adanya asosiasi ini bisa menjadi  loncatan penting untuk kemajuan musik di Indonesia.

“Kehadiran APMI sebagai sebuah asosiasi formal promotor musik satu-satunya di Indonesia saat ini menjadi sangat penting, dengan adanya potensi yang cukup besarnya industri pertunjukan dan festival musik di negeri ini. Kami ingin mencoba membangun ekosistem yang baik dan sustainable bagi pelakunya,” ungkap Dino.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari APMI

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading