Kabar di Seberang #5: Spektrum Kolektif di Pulau Bangka

Mendengar kata Bangka tentu saja langsung spontan teringat dengan martabak, makanan khas yang satu ini memang sudah banyak diketahui oleh sebagian besar orang di Nusantara. Namun ada hal yang lebih menarik dengan pulau yang berada di bagian selatan Pulau Sumatera ini selain jelajah wisata dan pantainya. Sekitar 4batau 5 tahun kebelakang geliat kreativitas disini baru mulai terlihat embrionya mulai dari wilayah musik, seni rupa, dan seni visual lainnya, pergerakan disini tidak selancar dari kota-kota besar diluar sana, karena mungkin wilayah ini adalah sebuah kepulauan, jadi bisa dikatakan beberapa tahun ke belakang cukup tertinggal juga dengan kota-kota besar di Pulau Jawa sebagai salah satu role model yang cukup besar dampaknya untuk geliat kreativitas lokal disini.

Bermodalkan jejaring dari sesama pegiat serta adanya kemudahan mendapatkan informasi di era saat ini yang cukup terbuka luas dikanal-kanal internet, sekitar tahun 2017 lahir lah komunitas-komunitas kolektif yang timbul atas kegelisahan sebagai upaya untuk mulai membangun ekosistem di wilayah kepulauan ini, yang pada akhirnya muncul beberapa kelompok musik dan terselenggaranya gigs atau festival berskala mikro. Jauh sebelum itu sebetulnya sudah banyak anak muda yang memainkan musik dari berbagai genre, tapi faktor ketidakpercayaan diri yang cukup untuk membikin karya lagu sendiri dan cenderung lebih nyaman membawakan (cover) lagu orang lain akhirnya itu sebagai problem solving salah satu penghambat geliat kreativitas pada saat itu.

Ada beberapa musisi besar yang dilahirkan di Bangka seperti Idang Rasjidi sang Maestro Jazz Indonesia, Herry “Ucok” Sutresna (Homicide), dan Dendy Revolusi (Hollywood Nobody) yang sudah melanglang buana di industri musik independen. Itu adalah salah satu stimulus yang membuat kawan-kawan semangat untuk menciptakan karya dan lebih percaya diri tidak seperti sebelumnya. Akhirnya dari situ sudah banyak orang yang cukup sadar untuk mulai produktif dalam mengorganisir komunitas baik secara mandiri maupun jika terdesak menerima tawaran dari sponsor.

Dengan bantuan komunitas kolektif dari Maen Benar, Kontradiksi Organized Syndicate (KxOxS), Backhome, dan Perspektif Lokal sampai akhirnya banyak band lokal juga yang sudah punya karya Album, EP, dan Single mulai dari Trinots, Hozhayate, Crispy Sunday, Sisi Lain, Backyard, Kill The Pain, Mi’raj, Navel Rox dan atau bahkan seperti Shandya yang susah payah berhasil menginjakan kaki di panggung Soundrenaline, Bali 2019 kemarin, yang dirinya akhirnya nekat memberanikan diri mengadu nasib di Ibu Kota. Selain di wilayah musik dan gig juga, banyak movement yang bermunculan dalam ruang lingkup kolektif itu sendiri. Ada rumah produksi Ruang Imajiner (RIG), records label dari Crusades Records, media kolektif digital Fenetrasi Magz, dan podcast lokal dari Wahkacaw Radio. Semua spektrum itu saling bersinergi membantu satu sama lain demi kemajuan dan perkembangan gejolak kreativitas lokal di Bangka.

Disaat kondisi pandemi seperti saat ini, banyak kawan-kawan yang lebih fokus dulu terhadap bagaimana cara agar tetap bisa survive dalam terjangan badai covid19 sekarang. Ada yang banting setir berubah profesi jadi jualan online, mengambil job reguler di kafe atau coffee shop, dan berjualan makanan. Ada kabar baik sekaligus wacana project yang akan digarap dalam beberapa waktu ke depan, rencananya Crusades Records dan KxOxS mengajak membuat album kompilasi yang melibatkan sebagian besar band lokal Bangka. Dalam project tersebut label lokal itu memberi tahu betapa pentingnya rilisan fisik walaupun di era serba  digital saat ini, selain itu juga yang menarik disini adalah hasil dari penjualan tersebut benefitnya bisa digunakan untuk memutar roda ekonomi apabila jika nanti memungkinkan lagi untuk membuat gig setelah pandemi atau juga untuk kebutuhan bersama lainnya.

Bangka adalah salah satu rute yang sering kali dilewatkan apabila ada band yang sedang Tour Sumatera, padahal Bangka sangat menarik dan menantang untuk dikunjungi selain jelajah wisata dan kulinernya yang terkenal. Jika besok atau mungkin kapan pun kondisi saat ini sudah membaik, kami tak akan ragu untuk menginjak pedal gass tanpa rem setelah badai selesai! Cheers.

Teks: Rofi Jaelani
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Pesan Teddy Adhitya Dalam Ocean

Jika ingin mengenal sosok Teddy Adhitya, bisa dibilang ia adalah seorang storyteller, penyanyi, penulis lagu, produser musik, dan pengembara yang sudah melakukan petualangan bermusiknya sejak tahun 2008 silam. Di tahun...

Keep Reading

Scaller Meneruskan Perjalanan Dalam "Noises & Clarity"

Album yang ditunggu-tunggu akhirnya resmi dirilis. Adalah “Noises & Clarity” yang merupakan album studio kedua Scaller yang dirilis melalui Golden Robot Records & Archangel Records (23/09). Album ini diproduksi sendiri...

Keep Reading

Merayakan Festival Industri Kreatif Tahunan Selama Tiga Pekan

M Bloc Fest merupakan festival industri kreatif tahunan yang kali ini menampilkan beberapa bidang seperti musik, seni, desain dan literatur yang diadakan oleh M Bloc Entertainment. Ajang ini sekaligus merayakan...

Keep Reading

Album Naif Bocor?!

Dan terjadi lagi.. Ya, terjadi lagi kabar yang cukup mengejutkan: album dibocorkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini datang dari unggahan instastory mantan drummer Naif, Pepeng, yang menuliskan...

Keep Reading