Kabar di Seberang #3: Manado Terus Bergerak

Berjuluk Kota Tinutuan, Manado bukan perkara makanan semata. Berada di utara pulau Sulawesi, tentu banyak hal menarik yang mesti dikenali lebih dalam lagi, terutama geliat kreativitas para anak mudanya yang barangkali belum begitu muncul ke permukaan karena masih minimnya siaran mengenai mereka. Namun di era digital seperti sekarang tentu hal-hal demikian bisa diakali, salah satunya dengan memanfaatkan segala kanal siaran alternatif yang tersedia. Termasuk suatu segmen bernama Kabar Dari Seberang yang kami buat ini.

Bermodal jejaring antar sesama pegiat, kami cukup beruntung dapat terhubung dengan Salawati Josua Samuel alias Roger, salah seorang figur yang bergiat di kancah musik Manado. Banyak cerita yang didapat dari Roger yang juga salah satu pentolan kelompok musik bernama Crushing Grief ini. Seperti halnya yang lain, pembicaraan pun bermula dari isu-isu yang terjadi saat ini, ya apalagi kalau bukan pandemi yang telah menyulitkan banyak pihak termasuk para pegiat kreatif. Roger mengatakan di saat situasi pandemi yang belum reda ini banyak festival maupun gigs-gigs yang dibatalkan, namun di balik itu semua justru para pegiat di Manado dapat lebih produktif dalam berkarya, semisal para pelaku musiknya banyak yang kembali ke studio untuk rekaman, membuat videoclip, maupun melakukan berbagai aktivitas di ranah virtual, termasuk konser musik online. Namun tak bisa dipungkiri, pandemi juga telah membuat repot para musisi yang baru muncul, menurut Roger di kondisi seperti ini maka para kawan-kawan musisi disana perlu bekerja lebih keras.

Selain terlibat di sebuah band, Roger juga kini sedang sibuk menjalankan label rekaman bernama Moshpit Records, sebuah kendaraan untuk mengantarakan karya-karya musik dari Manado ke telinga banyak orang. Di masa pandemi ini, setidaknya Mosphit Records sudah merilis 3 karya, yakni 2 single dan 1 EP. Sambil menjalankan label, Roger pun berencana untuk membuat kolaborasi antara Mosphit Records dan label rekaman lain untuk melakukan tour mandiri.

“Agenda ke depan dari Mosphit Records mungkin akan mau berkolaborasi sama record label lain, bikin tour mandiri, tapi itu entah kah Desember atau tahun depan, lebih ke melihat kondisi dulu,” kata Roger saat dihubungi.

Mosphit Records sendiri mulanya dibentuk untuk saling mempertemukan para pegiat kreatif di Manado, mulai dari musisi, fotografer, videografer, dan lain sebagainya. Berawal dari seringnya bertemu akhirnya ekosistem berskala kecil pun mulai terbentuk, dimana pegiat satu dengan pegiat lainnya saling terhubung dan mampu untuk lebih menghidupkan kancah musik di sana.

“Karena kita sering jalan bareng akhirnya kebentuklah itu. Ada teman-teman dari band, teman-teman fotografi, videografi, dan juga teman-teman visual. Terbentuklah circle ini, di mana circle ini butuh satu wadah untuk kebutuhan di mana teman-teman ini kalau mau rekaman terus juga mau rilis, terus aku inisiatif bikin record label. Di situ juga aku urusin sistemnya, sistem dari band-band yang mau publish dan juga mau rilis, juga sistem di mana kalo band itu butuh fotografer ya itu aku akomodirkan dengan teman-teman fotografer di sini. Lebih menghidupkan skena sih,” ungkap Roger.

(Moshpit Rec office)

Selain mengurusi musik dan segala macam di baliknya, Roger juga terlibat di salah satu kolektif bernama Media Bersuara. Bersama kawannya Richard Miguel Rahim, di dalam ruang tersebut mereka kerap membuat segala macam program untuk mendukung iklim kreativitas di Manado, mulai dari program yang beririsan dengan musik, sampai dengan menginisiasi berbagai festival, salah satunya festival bernama North Wave, sebuah gelaran yang fokus utamanya menampilkan visal dan seni instalasi. 2019 lalu Media Bersuara melakukan tour musik bertajuk Muara Darat, yakni menyambangi 5 kota yang ada di Sulawesi. Untuk tahun ini mereka lebih sering melakukan aktivasi dengan format festival North Wave. Seperti pameran visual yang baru-baru ini mereka lakukan di sebuah bar di Manado. Tahun ini juga ia sedang mempersiapkan sebuah gelaran bernama Under The Festival 2020 yang akan dihelat pada 26-27 November dengan menerapkan protokol kesehatan yang sudah ditentukan.

Ketika ditanyai mengenai rencana ketika pandemi selesai, Roger mengungkapkan akan tetap menjalankan beberapa agenda yang sudah direncanakan sejak tahun lalu, seperti menjalankan tour musik bersama Moshpit Records maupun tour bersama bandnya dan melakukan aktivasi-aktivasi yang lain. Pandemi memang sudah menjadi bagian cerita dari tahun ini, terlepas dari itu semua Roger dan kawanannya di Manado terus bergerak dan tak ingin menyerah dalam kondisi sulit ini.

“Intinya sekalipun ada pandemi kita jangan menyerah sih. Mau ada pandemi atau tidak tetep harus bergerak,” pungkas Roger.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Roger dan Media Bersuara

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading