Kabar di Seberang #2: Ada Apa di Solok?

Masuk di edisi kedua, setelah sebelumnya dalam Kabar di Seberang #1 kami membahas dua kabar menarik dari kota Serambi Mekkah, yaitu Aceh, yang memiliki kolektif Film Portal Session yang didalamnya ada sineas muda bernama Anggi Kurniawan, dan juga Motown yang dikelola oleh Muhammad Zaki atau yang lebih dikenal dengan nama Dangerdope. Edisi kali ini kami mencoba untuk menelusuri geliat apa sih yang sedang kencang-kencangnya dibuat di kota Solok, Sumatera Barat. Pasti asing kan dengan nama kota yang satu ini, ternyata dan ternyata, geliat yang dilakukan oleh para muda di sini tidak bisa dianggap sebelah mata loh. Salah satu yang aktif bergerilya adalah Albert Rahman Putra dari Komunitas Gubuak Kopi.

Sebagai perkenalan, Gubuak Kopi adalah sebuah kelompok studi budaya nirlaba yang berbasis di Solok. Berdiri sejak tahun 2011, komunitas ini berfokus pada penelitian dan pengembangan pengetahuan seni dan media di lingkup lokal kota Solok, Sumatera Barat. Gubuak Kopi dalam geliatnya banyak membuat dan juga mendistribusikan berbagai macam jenis ilmu menyoal pengetahuan literasi media melalui kegiatan-kegiatan kreatif, mewadahi bentuk-bentuk kolaborasi antara profesional (seniman, penulis, dan peneliti) dan warga. Selain itu, mereka juga punya 1 kanal media yang hingga sekarang terus dikembangkan sebagai wadah pengarsipan. Oh ya, tambahan lainnya adalah mereka sering membangun ruang alternatif bagi pengembangan kesadaran kebudayaan di tingkat lokal. Sangat menarik bukan? Zaman sekarang apa sih yang gak bisa dibuat? Semua tergantung niat dan kesadaran.

(Albert Rahman Putra; Ketua Umum Gubuak Kopi)

“Gubuak Kopi itu kelompok belajar seni dan media. Ia berdiri dari tahun 2011 di Solok. Kebetulan aku salah satu pendirinya. Kita punya beberapa program seperti Daur Subur ttg pemetaan kebudayaan pertanian dari sudutpandang kontemporer. Trus ada Lapuak-Lapuak Dikajangi, proyek seni berbasis media, yang merespon nilai-nilai tradisi dalam medium baru atau seni-seni berbasis teknologi. Terus ada beberapa proyek seni. 2018 lalu kita juga mendirikan Rumah Tamera – Solok Creative Hub, jadi semacam ruang alternatif yang kita kelola dengan beberapa komunitas dan seniman di Sumatera Barat.” Tutur Albert.

Dari banyaknya program-program itu, kami pun penasaran dengan bentuk gerakannya seperti apa. Satu komunitas dengan segudang program adalah hal yang sangat luar biasa. Menariknya lagi, di setiap program tersebut, mereka juga turut mengajak warga-warga yang ada di kota tersebut untuk merasakan atmosfer berkesenian yang ada. Seperti di program “Daur Subur”, di sini Albert dan kawan-kawan mencoba untuk mendokumentasikan sekaligus meriset banyak isu yang sedang hangat di Solok. Bentuk proyek seni ini pun dibuat dalam dua kali selama setahun. Bentuknya sederhana, mengundang para seniman dan kolektif yang ada, dan kemudian mereka merespon keadaan yang ada, dan dipresentasikan ke sebuah bentuk pameran. Untuk isu yang diangkat dalam program “Daur Subur”, mereka berfokus pada pertanian, hal ini pun karena secara umum dan tradisional, Solok dan Sumatera Barat mata pencaharian utamanya adalah bertani. Dan hal ini sangat mempengaruhi, serta saling terikat antara satu aspek kebudayaan dengan yang lain.

“Kalau soal isu, secara umum dan secara tradisional Solok dan Sumatra Barat mata pencarian utamanya adalah bertani, dan itu kita lihat juga saling mempengaruhi dengan segala aspek kebudayaan. Semisal mempengaruhi sastra, kesenian, adat dan tradisi didesign untuk merayakan menjaga mata pencarian itu tetap stabil. Nah sekarang kita coba mengangkat isu-isu terkininya melalui metode kesenian. Beberapa orang menyebutnya seni berbasis riset.” Terang Albert menjelaskan saat dihubungi via pesan singkat.

Untuk mewadahi kegiatan, mereka juga punya sebuah tempat yang bernama Rumah Tamera. Fungsinya tentu saja untuk wadah dan ruang kolaborasi yang sangat terbuka. Sebab lainnya dari tempat ini ada karena sampai sekarang pemda setempat belum memfalisitasi sebuah tempat untuk para seniman dan kolektif berkegiatan. Hingga kini, Rumah Tamera berubah yang awalnya hanya menjadi tempat pameran biasa, menjadi sebuah community hub yang lebih terkelola,

“Tempat ini sebagai wadah sih dan ruang kolaborasi yg lebih terbuka. Kan kalau gubuakkopi kita agak ketat kalau milih seniman kolaborasi dan temanya selalu tema kolektif.. Tapi kita cukup paham, karena kita juga mulai dari nol. Ruang, fasilitas, dan teman diskusi adalah kebutuhan seniman2 anak muda kreatif baru2. Karena pemda belum ada nih, jadi kita sekalian aja. Tadinya ia cuman bangunan fisik yang emang bisa jadi galeri, bikin petunjukan dan lainnya. Tapi sekarang kita jadikan hub yang lebih terkelola bersama seniman solok dan Sumatera Barat lainnya dan juga komumitas lain.” Jelas Albert.

(Pameran Lapuak-Lapuak Dikajangi)

Yang baru saja selesai mereka kerjakan adalah program “Lapuak-Lapuak Dikajangi”. Di sini mereka mencoba untuk mempelajari pelestarian tradisi yang dikemas ke dalam sebuah proyek berkesenian yang berbasis media.Kegiatan ini pertama kali digagas oleh Gubuak Kopi melalui program Lokakarya Daur Subur pada tahun 2017, sebagai rangkaian presentasi publik dalam membaca tradisi di masyarakat pertanian Sumatera Barat. Presentasi publik ini dihadirkan dalam bentuk kuratorial pertunjukan dan open lab/pameran multimedia. Mengingat banyaknya isu-isu kesenian tradisi yang belum terbicarakan dengan baik – dalam konteks sekarang, serta menyadari isu ini akan terus berkembang, maka kegiatan ini diagendakan setiap tahunnya, yang secara khusus mempelajari dan memberi pandangan kritis terhadap nilai-nilai seni tradisi itu sendiri, serta menjembatani pengembangannya dalam kerja seni media. Pada tahun 2018, LLD mengangkat tema “silek”, sebagai upaya memaknai tradisi silek (silat) melalui medium teknologi dan medium lainnya yang dekat dengan sehari-hari. Kemudian LLD #3, pada tahun 2020 ini merespon situasi tradisi silaturahmi di masa pandemi dan normal baru.

Selain yang sudah disebutkan di ata, mereka juga punya satu gerakan hastag yang cukup menarik perhatian di sana. Namanya adalah #SolokMilikWarga. Kampanye ini digalakan sebagai wadah untuk pendokumentasian dengan tujuan untuk mengajak para warga mengikuti berbagai macam workshop literasi media. Kemudian mendokumentasikan peristiwa di sekitarnya dan berbagi bersama di instagram. Mengarsiplah. Berbagi informasi dan semangat warga berdaya. Ini semacam perlawanan kalo kata Albert, jadi kalau media sosial hari ini dan kemarin sangat penuh akan hoax permasalahan yang terjadi di ibu kota, maka tindakan yang diambil adalah memuat konten bernuansa lokal. Kampanye ini sendiri telah digalakan sejak tahun 2016, dan sudah beberapa kali dipresentiasikan dalam bentuk pameran.

“Waktu itu pernah kita bikin lokakarna di sebuah desa namanya Parak Kopi. Jika kita klik di google, kebanyakan muncul info kasus-kasus kriminal. Sekarang kalau dicek ada ratusan informasi yang beragam tentang desa itu. Jadi lebih berimbang. Biasanya di lokasi kita workshop akan kita ajak untuk bikin media instagram serupa.” Tutur Albert menjelaskan maksud dan tujuan dari kampanye #SolokMilikWarga.

Terakhir, yang sedang getol mereka kerjakan saat ini adalah sebuah festival yang diberi nama “Tenggara Street Art Festival”. Program ini sendiri adalah sebuah tindak lanjut dari banyaknya kegiatan yang sudah dijalankan oleh mereka dalam beberapa waktu belakangan. Sebelumnya, festival ini diberi nama “Solok Mural Competition”. Untuk tahun ini mereka spesial merubahnya menjadi sebuah festival dengan beragam program baru. Seperti Residensi Singkat, Workshop, Jamming Session, Pertunjukan Musik, dan Awarding. Kalau sebelumnya ini dikelola Gubuak Kopi, kali ini dikelola oleh Rumah Tamera, jadi lebih banyak komunitasnya. Mereka juga menggaet Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Kota Solok, dan beberapa komunitas lain seperti Visual Jalanan, Rumah Ada Seni, Belanak, dan BSCCN. Jadi pengelolaannya bisa menjadi lebih ramai lagi.

“Kita berharap festival yg kita canangkan 2 tahun sekali ini bisa memantik lebih banyak anak muda kreatif sumbar untuk terus berkarya dan menemukan wadahnya, dan tentu saling bertukar pengetahuan.” Tutup Albert.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Gubuak Kopi

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading