Kabar di Seberang #1: Geliat Kolektif di Aceh Hari ini

Masa sekarang, di mana teknologi memegang peranan penting bagi banyak sektor ternyata mampu membuat semua orang di mana pun berada untuk bergerilya membentuk suatu hal baru. Kebiasaan yang ada di satu kota contohnya, saat ini bisa langsung diikuti olah kota yang lainnya. Bila dulu semua kota hanya terpaut oleh Jakarta ataupun Bandung dalam hal kreatif, di masa sekarang semuanya bisa menciptakan ciri khasnya sendiri, dan langsung disebar luaskan. Tak ada yang tak mungkin dilakukan di era serba teknologi yang maju pesat ini. Satu hal yang mungkin terjadi bila geliat-geliat ini tak terlihat oleh orang banyak adalah jangkauan yang disebar luaskan tidak terlalu besar. Jadinya hanya segelintir orang dan tempat yang tahu bahwa bentuk-bentuk baru ini ada. Dari masalah yang ada di atas tersebut, kami mencoba untuk membuat satu wadah baru yang bernama “Kabar di Seberang”. Bentuknya sederhana, hanya mencoba untuk mengabarkan apa yang tidak terjangkau dan mungkin tidak diketahui oleh orang lain.

Untuk edisi perdana, kami mencoba untuk menelusuri apa yang sedang hangat terjadi di kota Serambi Mekkah, yaitu Aceh. Mungkin banyak orang tahu kalau kota satu ini sangat kental perihal peraturan agama. Sedikit menelisik ke belakang, beberapa waktu lalu (2 tahun lalu kalau tidak salah) kami pernah bertandang ke sana dalam sebuah kesempatan untuk menjajal perjalanan sepanjang kurang lebih 2776 km dari ujung Banda Aceh hingga Bandar Lampung bersama Navicula, Wake Up Iris!, dan Rasamala Film, dalam tur yang bernama Siasat Calling on The Road x Road to Soundrenaline. Saat itu, Vania yang merupakan vokalis sekaligus pemain biola dari Wake Up Iris! diharuskan menggunakan penutup kepala bila akan tampil di atas panggung. Begitu pun bagi penonton yang hadir, perempuan dan laki-laki tidak boleh membaur menjadi satu di area konser. Tapi, namanya juga peraturan, sudah semestinya dipatuhi. Kan ada pepatah yang mengatakan “Di mana Bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Beruntung media sosial sekarang bisa mempertemukan apa-apa yang kita cari. Setelah cek sana-sini, ketemulah dua orang yang bisa dibilang memegang peranan penting bagi kancah yang digeluti. Mereka adalah Anggi Kurniawan dan Muhammad Zaki a.k.a Dangerdope. Mungkin bagi sebagian orang, adanya pandemi ini tidak bisa membuat mereka beraktivitas, tapi beda cerita dengan keduanya. Anggi Kurniawan yang dikenal sebagai sineas muda di Aceh ini, belakangan sangat disibukkan dengan kegiatannya di dunia sinema di sana. Bersama dengan komunitas lainnya, mereka bergabung menjadi satu di bawah payung yang bernama “Film Portal Session“. Di dalamnya ada Kisah Bersama Studio (kepunyaan Anggi sendiri), Aceh Documentary, Alas Kaki Film, Komposisi Film, Komunitas Film Trieng, Gunuelam Production, Imm Production, dan Pesantren Sinema Aceh.

Di dalam wadah tersebut, mereka menjadi satu kesatuan dengan saling bahu membahu antar sesama filmmaker. Tujuannya hanya satu, agar hasil karya mereka bisa dijual dan diperkenalkan di tanah sendiri (Aceh). Alasan kenapa mereka membuat gerakan ini tak lain dan tak bukan karena erat hubungan dengan tidak adanya sarana bioskop di sana, dan juga sekaligus memberikan hiburan ke orang banyak di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini. Balik lagi ke persoalan peraturan di sana yang sangat ketat, menurut Anggi, setelah mencari tahu lebih dalam soal aturan, mereka tidak menemukan adanya  autran daerah yang melarang, tapi juga tidak ada aturan yang membolehkan adanya bioskop. Mungkin lebih tepatnya karena bioskop masih dianggap sebagai tempat yang berpotensi laki-laki dan perempuan saling berbaur.

“Setelah kami kroscek ternyata memang tidak ada aturan daerah yang melarang juga tidak ada aturan yg membolehkan soal Bioskop. Hanya stigma masyarakat mungkin, karena bioskop masih dianggap tempat gelap yang berpotensi bercampur baur pasangan non mahram. Jadi investor pun saya rasa, pikir-pikir juga mau nginvest XXI di sini. Kalopun dibuka bioskop komersil pasti harus ada aturan-aturan ini itu, nah investor saya rasa gak mau ribet dengan aturan itu semua.” Tutur Anggi saat dihubungi.

Untuk kegiatan yang spesifik, belakangan ini mereka sedang disibukkan dengan banyak program. Diantaranya adalah kerja bakti bikin film, ada forum-forum yang spesifik profesi seperti forum kamera, penyutradaraan, penulis skenario, bahkan keaktoran. Banyaknya kegiatan yang dilakukan di masa pandemi seperti ini memang sangat baik, agar tentu saja kita tidak dibuat stres dengan berita dan kondisi yang gila-gilaan. Point menarik dari program ini adalah Kerja Bakti Bikin Film, sesuatu yang sangat mencerminkan Indonesia dengan budaya gotong royongnya.

“Kerja bakti bikin film itu semua komunitas berkumpul, prinsip kerja baktinya, bikin 4 judul film dengan durasi 1 menit masing-masing film. Sengaja dalam durasi pendek karena fokus kami di manajemen yang rapih dari mulai produser, skenario, teknis hingga poster. Kalo dari awal durasi panjang mungkin energinya boros, justru lebih baik pendek tapi kualitas maksimal.” Terang Anggi menjelaskan soal programnya.

Dokumentasi Film Portal Session

Nah itu tadi kabar dari Anggi di kancah filmnya yang sampai saat ini masih terus bergerak memproduksi banyak hal. Untuk Urusan musik, Dangerdope pun tak mau ketinggalan, bersama kawanannya, dia sering kali membuat banyak kegiatan di satu tempat yang diberi nama Motown. Tempat ini pada mulanya hanya difungsikan untuk dirinya berekspresi, buat stencilan, mural, graffiti, custom motor, dan juga sesederhana minum kopi. Tapi, lambat laun, Motown beralih fungsi menjadi tempat bagi para seniman untuk mengeluarkan segala bentuk karya yang mereka miliki. Alasan besar kenapa tempat ini beralih fungsi yang tadinya tempat pribadi menjadi tempat umum, karena dia melihat para musisi dan juga street art artist sangat susah mendapatkan tempat untuk menjajal kemampuannya, maka dari itu, jadilah Motown.

Sama seperti Anggi, Dangerdope juga terus berupaya menghadirkan hiburan dan karya di tengah kondisi pandemi ini. Salah satunya yang sering diadakannya di Motown, yaitu gigs kecil-kecilan guna menghidupi banyak karya yang terpendam dari para musisi. Yang diwadahi pun lintas elemen, mulai dari musik hingga puisi. Semua dibaur menjadi satu, tanpa ada tembok pemisah. Idenya pun sederhana, asal ada yang mau rilis sesuatu, pasti dibuatkan acaranya.

“Jadi disini ada beberapa kawan rap, puisi, street art. Suka bikin event kecil-kecilan. Jadi kalo ada yg baru bikin karya single, ep, pameran. Pasti langsung kita bikinin acaranya. Selain pameran, kita juga suka bikin rilis kaset sekalian jamming. Yang belum lama ini kita gelar yaitu pesta perilisa mini album dari musisi sini, namanya Boh Labu. Terus sekarang kita lagi ada garap album dan videoklip buzzdome. Disini lebih rame yang mainstream, makanya kita coba nawarin alternatif lain ke orang awam. Selain itu kita juga aktif di media sosial yang namanya Undertown.

 

Arsip Poster dari Undertown Jamming

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Anggi Kurniawan dan Dangerdope

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading