Juxtaposed Series: Lawatan Singapura di Bandung

Pada Jumat, 13 Juni 2019, Bandung dihampiri oleh tamu dari negara tetangga, yaitu Singapura. Tiga band asal Singapura, Subsonic Eye, Saint Among Sinners dan The Parallax Error, melangsungkan tur di beberapa kota di Indonesia. Sebelumnya mereka singgah di Yogyakarta terlebih dahulu. Lalu, Bogor dan Jakarta juga mendapat bagiannya untuk disinggahi setelah selesai dengan Bandung.

Fresh Beer Braga adalah venue yang dipilih sebagai tempat berlangsungnya acara dengan tajuk Juxtaposed Series. Konser dimulai dengan penampilan dari Aillis. “ini adalah panggung pertama di tahun 2019,” ucap mereka dipanggung. Unit Emo asal Bandung dengan komposisi Akhyar (vokal), Fikri (gitar), Yudha (bass) dan Haris (drum) tersebut menutup penampilannya dengan lagu bertajuk Suarakala yang harusnya berkolaborasi dengan Aji dari Senja Dalam Prosa, namun malam itu posisinya digantikan oleh orang lain.

Selanjutnya salah satu tamu, yaitu Saint Among the Sinners. Band alternative pop yang baru saja merilis split album bersama The Parallax Error tersebut membawakan lagu-lagu andalannya yaitu About Time, Up 2 Day, serta Falter. Sayang sekali, aliran listrik tiba-tiba padam di pertengahan penampilan mereka. Namun, aksi tetap berlangsung. Sorak sorai penonton hadir demi menyemangati.

Kemudian Subsonic Eye adalah penampilan setelahnya. Unit dream pop dengan formasi Wahidah (vokal/synth), Daniel (gitar), Jared (gitar), Spencer (bass), dan Lucas (drum) tersebut membuat venue semakin sesak oleh penonton. Dalam aksinya, tak lupa nomor-nomor dari rilisan terakhir mereka yaitu album bertajuk Dive Into (2018) semisal Come Around, Stranded, dan Tired Club dibawakan dengan cukup apik untuk ukuran sebuah acara dengan kualitas sound seadanya.

LIghtspace hadir sebagai pengisi panggung selanjutnya. Eksponen post-rock dengan personil Gema Rendrahadi (Gitar), Ogy Ahmad (Bass), Helmi Mahdi (Gitar) dan Bimo Senoaji (Drum). Tanpa banyak bicara, mereka membawakan tembang-tembang jagoan semacam The Place Where God Doesn’t Listen Us Anymore dan Memento Memory. Berbeda dari permainan-permainan band sebelumnya yang dipenuhi oleh dansa, di bagian ini para penonton lebih memilih diam serta khidmat memperhatikan laju-jalan konser, sembari sesekali menganggukkan kepala.

Hadirin kembali menggila saat daftar terakhir pengisi line up mulai beraksi. Mereka adalah The Parallax Error. Sentuhan riff-riff agresif dari band alternative rock tersebut mampu menjadi klimaks dengan lagu-lagu dengan tajuk Empty Space, Control, dan Beanbag. Bahkan saat Intro baru dimulai, sudah ada penonton yang melakukan stage. Meski hanya sebentar, listrik memang kembali padam dipertengahan panggung, namun itu tidak menyurutkan para penonton untuk saling menubrukkan diri saking girangnya.
Juxtaposed Series setidaknya telah berhasil menjadi gelaran Jumat malam yang menyenangkan. Menjadi tempat untuk saling berbagi air, rokok, dan kegembiraan. Semoga acara semacam itu akan selalu ada dan berlipat ganda jumlahnya. (*)

Teks: Rizki Firmansyah
Foto: Gauis Caesaria

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading