Jurnal Bunyi 3: Antara Ruang Nyata dan Ruang Virtual

Merebaknya pandemik COVID-19 membuat banyak manusia di berbagai penjuru dunia berdiam diri di tempat tinggalnya masing-masing. Aktivitas bersosialisasi, dalam hal ini bertemu secara fisik, diminimalisasi hingga bahkan dihilangkan sama sekali hari-hari ini. Pertemuan virtual (dengan memanfaatkan jaringan internet) menjadi solusi bagi terpenuhinya kebutuhan berkomunikasi antar sesama manusia. Ruang bersosialisasi secara nyata, kini (semoga untuk sementara) digantikan dengan ruang virtual melalui ragam perangkat dan aplikasi pendukungnya. 

Pertemuan dalam ruang virtual sebenarnya bukanlah fenomena perkembangan teknologi terkini. Marshall McLuhan mungkin sudah sedikit meramalkan bagaimana perkembangan teknologi informasi akan memungkinkan keterhubungan antar manusia melewati batasan ruang dan waktu melalui gagasan global village-nya di periode 1960-an. Perkembangan teknologi informasi tersebut (sebutlah teknologi internet) kemudian mulai dimanfaatkan untuk publik sejak tahun 1989. Di Indonesia, teknologi tersebut setidaknya mulai marak di awal hingga pertengahan tahun 2000-an dengan bermunculannya ragam penyedia jasa internet. Saat ini, pemanfaatan internet melalui teknologi gawai pintar sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ragam informasi sudah dalam genggaman, dunia dalam genggaman.

Penulis tidak akan mengajukan pertanyaan apakah manusia masih memerlukan kehadiran dan kontak fisik, tetapi seberapa sadar manusia melakukan aktivitasnya di ruang virtual? Di saat ragam perkembangan terkini yang terus menerus mendekatkan kualitas ruang virtual dengan ruang nyata. Dalam ranah musik, atau secara umum bebunyian, ruang virtual sudah muncul sejak teknologi rekaman ditemukan. Upaya perekaman, mulai dari penulisan notasi, phonautograph (ditemukan oleh Edouard-Leon Scott de Martinville di sekitar tahun 1857), hingga teknologi rekaman dan playback pertama, fonograf (Thomas Alva Edison di tahun 1877), adalah titik-titik awal manusia mengalami bebunyian dalam ruang virtual. Pada tahun 1886, Heinrich Hertz menemukan dan melakukan studi gelombang radio dan sekitar tahun 1895-96, Guglielmo Marconi mengembangkan teknologi pengirim dan penerima sinyal radio, hingga akhirnya radio mulai digunakan secara komersial pada periode 1900-an. Sejak perkembangan atau peristiwa-peristiwa tersebut, pengalaman bunyi manusia bukan sekadar persoalan menggunakan telinga, tetapi teknologi aural, audial, atau audio apa yang digunakan.

 

(Fonograf ditemukan oleh Thomas Alva Edison pada tahun 1877, dok: auctionet.com)

 

Mendengar atau menyimak bebunyian dengan memanfaatkan teknologi tertentu (fonograf, radio, mesin pita, hingga ragam aksesorisnya seperti pengeras suara atau speaker dan amplifier, headphone, dan earphone) merupakan pengalaman yang jauh berbeda dengan mendengar langsung lewat telinga. Kualitas material teknologi audio yang digunakan menjadi pembeda sekaligus memperbanyak spektrum ruang virtual dalam aktivitas mendengar. Mendengar rekaman sebuah lagu atau album musik melalui fonograf akan bergantung pada kualitas pemutar sekaligus pengeras suara. Begitu pun dengan aktivitas musisi yang mempresentasikan karya mereka, akan bergantung pada kualitas alat rekamnya. Apabila setiap perantara (teknologi audio) menghasilkan satu ruang virtual, berapa banyak ruang virtual yang muncul (dan kemungkinan besar termodifikasi atau tergantikan) dalam proses mendistribusikan karya musik dari ruang rekaman ke telinga pendengar?

Dalam bukunya berjudul In the Blink of an Ear: Toward a Non-Cochlear Sonic Art (2009), Seth Kim-Cohen menyatakan bahwa rekaman karya Muddy Waters bertajuk (I Feel Like) Going Home dan I Can’t Be Satisfied (keduanya dirilis oleh Aristocrat Records pada tahun 1948), merupakan rekaman-rekaman yang menghadirkan lapisan ruang virtual. Terutama dalam I Can’t Be Satisfied, ketika Muddy Waters menggunakan gitar elektrik dan amplifier dengan diiringi permainan bas Ernest ‘Big’ Crawford. Bagi Kim-Cohen, pemanfaatan mikrofon independen untuk masing-masing sumber bunyi (gitar elektrik, bas, dan vokal Muddy Waters) dalam rekaman I Can’t Be Satisfied, sedikit banyak telah menghasilkan tiga ruangan virtual berbeda yang saling beririsan. Setiap mikrofon merekam ruangan yang sama, tetapi dengan fokus instrumen yang berbeda (tanpa sepenuhnya menghilangkan bebunyian dari instrumen lain).

 

(Salah satu rekaman Muddy Waters di tahun 1948 bertajuk I Can’t Be Satisfied, dok: discogs.com)

 

Memang cukup rumit untuk dibayangkan, tetapi sebagai contoh, mikrofon yang fokus merekam vokal Muddy Waters (mengarah/didekatkan dengan mulut sang penyanyi) tetap akan menangkap bebunyian dari instrumen lain, meskipun dengan volume kecil atau samar-samar. Sama halnya dengan dua mikrofon lain yang merekam gitar elektrik dan bas. Pengalaman mendengarkan tiga ruangan (melalui tiga mikrofon) dengan teknologi audio seperti speaker atau headphone kemudian akan menghasilkan ruang virtual lainnya.

Pertanyaan yang muncul dari paparan di atas tentunya bukan perihal kenyataan bahwa Muddy Waters memang benar-benar memainkan musiknya (bukan persoalan orisinalitas komposisi karya), tetapi apakah kita benar-benar mendengarkan fenomena bebunyian yang sama dengan yang terjadi di studio rekaman Aristocrat Records kala itu di tahun 1948. Inilah yang dimaksud Seth Kim-Cohen sebagai ruang virtual. Rekaman-rekaman favorit yang kita dengarkan hari ini bukan sekadar reka ulang kemahiran seniman membuat komposisi, tetapi juga adalah lapisan-lapisan ruang virtual yang memisahkan kita (pendengar) dengan fenomena bebunyian yang benar-benar terjadi di studio rekaman. Apalagi di era sekarang, produksi karya musik juga sudah bisa dilakukan dengan instrumentasi virtual.

Terlepas dari ragam perkembangan teknologi virtual saat ini, toh manusia masih bisa tersentuh dan terhibur dengan bermacam karya musik dan bebunyian yang disediakan oleh platform-platform digital. Begitu pun dengan aktivitas bersosialisasi di depan layar. Virtual atau nyata, manusia percaya bahwa teknologi hanyalah perpanjangan tubuh dan gagasan manusia, yang tentunya tidak akan menghilangkan esensi manusia itu sendiri. Atau apakah esensi manusia telah berubah seiring perkembangan teknologi?

 

Referensi

1. https://auctionet.com/en/656648-thomas-edison-fonograf

2. https://www.discogs.com/Muddy-Waters-I-Cant-Be-Satisfied-I-Feel-Like-Going-Home/release/4659760

3. https://www.bloomsbury.com/uk/in-the-blink-of-an-ear-9780826429711/

 

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Dari Berbagai Sumber

Refleksikan Sejarah Lewat Seni, Pameran "Daulat dan Ikhtiar" Resmi Digelar

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengadakan sebuah pameran temporer bertajuk “Daulat dan Ikhtiar: Memaknai Serangan Umum 1 Maret 1949 Melalui Seni”. Pameran ini sendiri akan mengambil waktu satu bulan pelaksanaan, yakni...

Keep Reading

Ramaikan Fraksi Epos, Kolektif Seni YaPs Gelar Pameran Neodalan: Tilem Kesange

Seni tetap menjadi salah satu jawaban untuk menghidupkan dan menghangatkan kembali keadaan di masa pandemi. Untuk itu dengan gerakan gotong royong dalam ruang seni baur Fraksi Epos mengajak kolektif seni...

Keep Reading

Nada Siasat: Pekan Pertama Februari

Sampailah kita di penghujung pekan pertama bulan Februari. Harapan-harapan terus tumbuh di tengah situasi yang belum membaik sepenuhnya. Meskipun situasi masih belum jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, namun para musisi...

Keep Reading

Seniman Roby Dwi Antono Gelar Tiga Pameran Sekaligus di Jepang

Seniman Indonesia yang satu ini memang kerap membuat pameran di luar negeri. Lewat karya-karyanya yang memukau, nama Roby Dwi Antono kian dikenal oleh para pelaku mau pun kolektor seni Internasional....

Keep Reading