Jejak Pengkaryaan dan Referensi dari Tashoora

Beberapa tahun ke belakang mungkin bila menyebut nama Tashoora ke khalayak musik akan sedikit asing buat mereka, namun bukan berarti tak ada yang mengenali mereka sama sekali. Nama Tashoora pertama kali (mungkin) muncul ke permukaan saat rilisnya sebuah album bertajuk “Tribute To Efek Rumah Kaca”. Album ini sendiri adalah sebuah hasil kerja bersama yang non-profit dari Ripstore.Asia dan juga Creative Commons Indonesia, yang mana ini adalah sebuah penghargaan untuk Efek Rumah Kaca. Lalu, dalam pengerjaannya, dicanangkan sebuah program berbentuk Cover Song Challenge, di mana nantinya para musisi yang turut serta wajib untuk menggubah lagu-lagu dari Efek Rumah Kaca. Hasil yang didapatkan pun cukup lumayan, album ini sendiri pada akhirnya diisi oleh 14 band/musisi dengan berbagai jenis musik, dan salah satunya adalah Tashoora.
Bagi mereka, tak mudah untuk mencapai gemerlapnya dunia musik saat ini. Setelah berhasil masuk ke dalam album kompilasi tersebut, nyatanya jalan tak jua mulus. Mereka harus terus mengeksplorasi segala bentuk kemungkinan dari pengkaryaan mereka. Terlebih dengan perbedaan latar bermusik dari masing-masing personil. Tetapi, hal itu tak lantas membuat mereka menyerah begitu saja. Ide demi ide selalu dicoba, hingga pada akhirnya mereka menemukan sebuah ramuan yang mungkin cukup pas untuk mereka. Ramuan itu bernama “Ruang” sebuah extended play yang cukup unik dan juga sarat dengan konklusi-konklusi yang ada di sekitar. Kenapa EP tersebut sangat unik? Alasannya adalah, bila band/musisi lain mencoba untuk sebagus mungkin dalam menghadirkan musik, yang pada akhirnya menghilangkan esensi natural karena adanya campur tangan teknologi. Mereka malah membuat sebuah penampilan live yang direkam dan kemudian dijadikan sebuah album.

Atas ide dan juga materi yang ada di dalamnya, mereka lantas mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Lirik yang mereka hadirkan penuh dengan diksi dan tata bahasa yang berisi perlawanan tapi dengan komposisi yang cukup halus. Tidak hanya menunjukan lirik yang lugas serta musik yang organik dan unik, di album tersebut mereka sekaligus juga menghadirkan sebuah kualitas dari apa yang mereka miliki bila dibawakan secara langsung. Bisa dibilang, Tashoora benar-benar mempertanggungjawabkan apa yang mereka kerjakan dan cintai. Hasil baiknya lagi adalah, mereka tak berjalan sendiri, sebuah label yang menaungi penyanyi Raisa, Kunto Aji, Dipha Barus dan banyak lainnya yang bernama Juni Records, tertarik untuk menggandeng mereka untuk mencoba berbagai kemungkinan di masa depan.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk berproses ke sesuatu hal yang lebih besar. Hal itu diwujudkan di tahun berikutnya dari jangka waktu perilisan EP “Ruang”. Berbagai single dikeluarkan sebagai jembatan dan juga wajah pengenal untuk album penuh perdana yang akan mereka rilis. Surya dan Hitam adalah dua single yang diperkenalkan di awal sebelum mereka akhirnya merilis album yang diberi tajuk “Hamba Jaring Cahaya, Hamba Bela Gelapnya”. Di album ini, semua lagu yang terdapat di EP juga turut dimasukkan, yang menjadi pembeda adalah dari sisi gubahannya dan juga hadirnya musisi lain di setiap lagu. Selain itu, terdapat 4 lagu baru termasuk di dalamnya Surya dan juga Hitam. Apakah cukup sampai di situ? Ternyata tidak. Bila dulu perlawanan mereka dilakukan lewat sebuah lirik, di masa kini, mereka juga turut terlibat langsung ke dalamnya, Hal ini bisa dilihat dengan aktifnya mereka di berbagai kegiatan aktivisme, salah satunya adalah Aksi Kamisan. Dan yang paling terbaru dari mereka adalah sebuah single bertajuk “Sintas”. Sebuah lagu yang didedikasikan untuk para para penyintas konflik yang juga berkontribusi langsung pada kemanusiaan di sekitarnya.
Lewat single tersebut, Tashoora pun melanjutkan perjalanan mereka dengan melakukan sebuah kerja sama dengan media bernama Narasi dalam sebuah seri dokumenter hasil cipta kerja Narasi dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi. Single tersebut dijadikan original soundtrack dari serial bernama “The Invisible Heroes” yang kini telah bisa ditonton secara daring di Youtube resmi Milik Narasi TV sejak 11 Maret 2020 silam. Tentu sebagai musisi, mereka juga memiliki musik dan sosok panutan di dalam jalan pengkaryaannya. Kali ini, kami coba untuk mencari tahu, apa sih yang mereka senangi hingga saat ini? Jawabannya bisa dilihat di bawah.

GUSTI

John Lennon – Imagine

Lagu yang sederhana sekali baik melodi ataupun liriknya tapi maknanya sangat dalam. “Imagine” tidak pernah usang karena selalu relevan dengan situasi masyarakat hari ini. Lagu ini juga sebuah pengingat bahwa perdamaian dunia masih jadi sesuatu yg kita andai-andaikan sampai sekarang.

DITA

Guruh Soekarno Putra – Smaradhana

Liriknya yang kuat dan banyak menggunakan kosa kata Sanskerta, menjadikan Smaradhana salah satu mahakarya dari Guruh yang bernuansa magis, mengawang seraya menyiratkan nuansa cinta yang sakral

DANANG

Nujabes – Reflection Eternal

Ada kenyamanan yang janggal, sederhana dan penuh namun tidak dekat dengan jenuh. Lagu ini mengantar ke beberapa persimpangan yang berbeda tanpa memaksa, tanpa tujuan pula.

AWAN

My Chemical Romance – The Black Parade

Lagu “kematian” paling agung, selalu meninggalkan jejak emosional setiap kali denger, rasanya dalem banget, sedih banget. Lagu ini juga yang bikin pengen ngeband pertama kali.

Teks: Adjust Purwatama/Tashoora
Visual: Arsip Tashoora

Tashoora akan tampil dalam sebuah program bernama Studio Gigs yang akan ditayangkan secara khusus di SPTV kanal siar alternatif yang akan menjadi ruang bersama pengarsipan video musik dari grup musik/musisi tanah air sebagai apresiasi redaksi Siasat Partikelir atas kreasi audio visual dan musik. Pantau terus jangan sampai terlewatkan suguhan kejutan dari SPTV.

Endgrave Merilis Ode Bagi Jiwa Yang Tidak Pernah Tenang

Endgrave adalah band yang terbentuk pada pertengahan 2022. Semua bermula saat Singgi dan Petra meramu musik dengan mengemas riff-riff gitar yang terbilang tidak biasa. Beragam karakter mulai dari Hardcore, Deathcore,...

Keep Reading

Single Dan Formasi Terbaru Pillhs Castle

Mengubah formasi dari duo menjadi kuintet, dan sebelumnya telah merilis single ‘Moment’, Pillhs Castle yang diisi oleh Nando Septian (vokal), Torkis Waladan Lubis (gitar), Tama Ilyas (gitar), Willy Akbar (bass),...

Keep Reading

Debut Album Resign Leader

Dari Makassar, unit punk rock Resign Leader belum lama ini merilis debut album ‘Sniffing Tears For The Other Bills’. Album yang digarap cukup panjang dan serius ini berisi 12 nomor...

Keep Reading

Single Teranyar eleventwelfth Yang Menuju Album Terbaru

eleventwelfth hanya membutuhkan satu bulan untuk merilis single terbaru yang diberi tajuk “every question i withhold, every answer you never told” setelah sebelumnya melepas “(stay here) for a while” dari...

Keep Reading