Jejak Muram Bernegara dalam Album Teranyar Temaram

Setelah melepas album Revival 4 tahun silam, unit stoner/doom asal Yogyakarya, Temaram, dipenghujung tahun 2021 lalu akhirnya merilis lagi album bertajuk Praise The Darkness. 3 nomor nir-lirik dengan durasi panjang pun berhasil disajikan, diantaranya berbicara banyak tentang kerusakan yang terjadi akibat praktik sistem dalam lingkup negara.

“Betapa letihnya menjadi warga negara. Menyaksikan banyak tragedi, kedegilan, keserakahan, dan tipu daya, seolah warga negara adalah jalan pintas menuju kesengsaraan.” Tulis Temaram dalam keterangan pers. “Banyak orang yang tumpas hidupnya. Tak sedikit yang hilang wangsa dan kekancingnya berganti gedung-gedung berhias pita pembangunan.” Lanjutnya.

Perkara kemuraman yang terjadi akibat boroknya sistem negara ini berhasil direfleksikan dengan ganas oleh Yudha B. Nugraha (Guitar), Iqbal Tawakkaltu (Guitar) dan Nugraha Adam (Drum) ke dalam 3 trek instrumental yang tak kalah muram: ‘Oilslamicstate’, ‘Heals’, dan ‘Burn’.

Dibuka dengan trek “Oilslamicstate” yang berdurasi 10 menit lebih, Temaram sedang memperkarakan ihwal keserakahan yang dilegitimasi oleh negara. Dibuka dengan instrumen yang lekat dengan unsur musik Timur Tengah, Temaram hendak menggugat para perusak Sumber Daya Alam (SDA) yang ironinya malah direstui oleh negara. Lewat distorsi kotor nan lengket Temaram seperti sedang memaparkan betapa menjijikannya para perusak itu.

Album berlanjut pada nomor bertajuk “Burn”. Kali ini Temaram memperkarakan nasib muram orang-orang yang melawan. Mereka, yang berdiri di baris depan perlawanan terhadap congkak dan keserakahan kerap berakhir sunyi.

“Perlawanan adalah jalan pintas menuju pemakaman. Yang lebih beruntung barangkali diasingkan sampai tandas hidupnya. Introduksi yang lamban namun menekan lalu mengapi di pertengahan lagu dengan pola, riff, dan atmosfer yang sama sekali berbeda semacam tanda bahwa api perlawanan terwariskan di tiap generasi.” Terang Temaram

Album pun berlabuh di nomor “Heals”, sebuah trek panjang yang berbicara tentang boroknya sebuah negara, dan rakyat justru yang harus menyembuhkan boroknya tersebut. Belakangan mungkin kejadian semacam ini kerap terjadi, semisal seorang ibu yang berhasil menangkap sendiri pelaku pelecehan seksual anaknya karena melapor ke pihak berwenang tak mendapat pelayanan yang baik.

“Dan ‘Heals’ adalah perkara rakyat yang harus bisa menyembuhkan borok negaranya sendiri. Kami merangkum cerita itu ke dalam musik dan ambience instrumental yang disuguhkan. Kalau didengarkan seksama, tiga lagu itu memiliki ambience yang berbeda,” kata Yudha, gitaris Temaram.

Tiga materi ini merupakan endapan kemarahan Temaram sejak lama. Dibuat tahun 2018 dalam bentuk MIDI oleh Nugraha Adam. Adam juga mengungkapkan jika album ini memiliki perbedaan yang cukup kentara jika dibandingkan dengan album debut Temaram.

“Namun memiliki konsep yang berbeda dari album pertama karena Praise Of Darkness disajikan instrumental, tidak seperti album sebelumnya Revival.” kata Adam.

Sekian tahun berjalan, di sisi personil Temaram juga memiliki kebaruan. Kini Temaram diperkuat oleh Iqbal Tawakaltu. Iqbal mengatakan pembawaan musik stoner/doom dengan ambience gelap masih jadi medium yang tepat untuk menaruh kemarahan mereka.

“Puas rasanya kami bisa merekam lalu memindahkan banyak peristiwa yang disembunyikan di balik wajah dan slogan heroik di tengah anak muda itu ke apa yang kami yakini (musik). Semoga kita tidak menjadi bagian dari banyak perkara itu,” sambung Iqbal gitaris cum pengarah artistik perwajahan album Praise Of Darkness.

Selain dilepas dalam format digital, Praise The Darkness pun dikemas ke dalam format fisik dan menawarkan bundling package secara pra-pesan melalui akun Instagram TEMARAM dan Otakotor Records.

Di sekitar bulan April 2021 lalu, Temaram juga telah membuat live session yang berkolaborasi dengan Fransisca Kumala sebagai performing art untuk nomor “Oilslamicstate”. Dalam video yang di didominasi dengan warna merah dan hitam tersebut Fransisca Kumala menari ala Timur Tengah atau belly-dance yang menyiratkan sebuah pesta di atas kekacauan.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Temaram

Rayakan Dua Rilisan Baru, Extreme Decay Siapkan Pertunjukan Spesial

Sebagai pesta perayaan atas dua rilisan anyar mereka. Sekaligus mengajak Dazzle, TamaT, dan To Die untuk ikut menggerinda di kota Malang. Extreme Decay bersama Gembira Lokaria mempersembahkan konser showcase spesial...

Keep Reading

Disaster Records Rilis Album Debut Perunggu dalam Format CD

Pandemi yang sudah berlangsung selama lebih dari dua tahun ini memang membuat segala recana menjadi sulit terwujud. Namun bukan berarti berbagai kendala yang ada menyurutkan semangat para musisi untuk terus...

Keep Reading

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading