Jalan-Jalan di Google Art & Culture

Dalam upaya untuk menahan laju virus COVID-19 agar tidak semakin menyebar dengan cepat, orang-orang di seluruh dunia sudah mempraktikkan program jaga jarak dan bekerja di rumah. Banyak perjalanan wisata yang dihentikan karena negara-negara untuk sementara waktu menutup akses masuknya. Tempat bersejarah dan museum budaya juga telah ditutup dalam upaya untuk meminimalkan penyebaran virus ini. Dan pemerintah menyarankan orang untuk selalu tinggal di rumah.

Pastinya bagi kalian yang sangat menyukai jalan-jalan berkunjung ke tempat bersejarah ataupun musem hal ini sangat tidak menyenangkan. Tapi apa mau di kata, demi kepentingan bersama, hal tersebut mesti dilakukan. Tapi jangan berkecil hati, di jaman yang serba canggih ini, kalian bisa mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya melalui satu aplikasi saja. Namanya adalah Google Art & Culture.

Diluncurkan pada 2011 oleh Google Cultural Institute, Google Arts & Culture telah bermitra dengan ratusan museum dan galeri yang ada di seluruh dunia. Aplikasi ini secara nyata menghadirkan pameran dan koleksi dari sederet museum dan galeri secara digital dengan menggunakan pencitraan resolusi tinggi dan teknologi Street View yang sangat canggih. Hanya berbekal gadget, cari posisi nyaman, buka aplikasi, dan kalian dapat langsung menjelajahi berbagai macam tempat semisal Musée d’Orsay di Paris,  melihat lebih dekat buku harian Frieda Kahlo di Museo Dolores Olmedo di Mexico City, mengintip Rosetta Stone di British Museum di London, atau menjelajahi barang-barang antik Jepang di Museum Nasional Tokyo.

Tetapi Google Arts & Culture tidak hanya terbatas pada dunia seni saja. Setelah menguji teknologi Street View, Google Arts & Culture juga turut menawarkan tampilan dekat dari berbagai landmark di seluruh dunia, termasuk Piramida Giza, Gedung Opera Sydney, Teater Air Wuzhen, dan Colosseum. Hal tersebut dilakukan agar sensasi dan pengalaman yang didapatkan benar-benar nyata. Selain itu juga aplikasi ini menawarkan tur virtual Street View dari Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Selain itu, terdapat dua buah fitur pintar yang diberi nama “Art Recognizer”  dan “Art Selfie”. Fungsi dari Art Recognizer adalah untuk melihat dengan jelas berbagai info dari setiap karya seni yang ada di beberapa galeri semisal Dulwitch Picture Gallery di London, Art Galley of South New Wales, dan National Gallery of Art di Washington DC. Caranya menggunakannya pun cukup mengarahkan ponsel kita ke sebuah lukisan, dan kecanggihan dari aplikasi ini akan menghadirkan semua informasi dari lukisan tersebut.

Lalu, untuk fitur Art Selfie yang memakai teknologi computer vision yang didasari machine learning, mesin akan mencocokkan swafoto dengan wajah di lukisan yang berada di basis data Google, dan akan mengetahui apakah wajah kita mirip dengan lukisan buatan seniman ternama dunia. Misalnya karya seniman Frida Kahlo. Google akan memberi tahu berapa persen kemiripan foto dengan lukisan tersebut.

Tentu saja, aplikasi ini juga berfungsi agar kita dapat memeriksa jadwal museum untuk mengetahui jam buka, pameran apa yang ada, dan banyak hal lainnya. Sangat cocok bagi kita untuk menghabiskan waktu di rumah sembari mencari inspirasi dan juga pengetahuan baru. Jangan lupa selalu #dirumahaja buat kalian yang tidak ada kepentingan di luar rumah.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Google Art and Culture

Tentang Syukur dan Hidup yang Tak Tertebak di Lagu Terbaru Alahad

Beranjak menjadi solis, Alahad, moniker dari Billy Saleh yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris dari band rock-alternative Polka Wars akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia melepas sebuah nomor tunggal teranyar...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Kolaborasi Selanjutnya Antara Yellow Claw dan Weird Genius

Duo Belanda Yellow Claw kembali berkolaborasi dengan Weird Genius mengusung lagu baru bertajuk ‘Lonely’ bersama finalis Indonesian Idol Novia Bachmid. Weird Genius dan Yellow Claw sebelumnya pernah berkolaborasi di lagu...

Keep Reading

Reruntuhan Akhir Dunia di Album Keempat Extreme Decay

Usai melepas beberapa materi pemanasan menuju album barunya, unit Grindcore kota Malang, Extreme Decay, akhirnya secara resmi melepas album keempatnya pada 29 April 2022 lalu yang diberi tajuk Downfall Of...

Keep Reading