Isu “Pinggiran” Biennale Jogja XV/2019

Sejak Biennale Jogja XI, dalam kurun waktu 8 tahun (setidaknya 5 penyelenggaraan) terakhir, perhelatan Biennale Jogja mengangkat tajuk Khatulistiwa atau Equator. Hal tersebut menghasilkan ragam tema dan bentuk kerja sama dengan Negara-negara di sekitar khatulistiwa seperti India (2011), Negara-negara Arab (2013), Negara-negara di Benua Afrika (2015), Amerika Latin (2017), dan yang terbaru, beberapa waktu lalu, Negara-negara di Kepualauan Pasifik dan Australia (2019). Perhelatan Biennale Jogja XV yang diselenggarakan mulai tanggal 20 Oktober – 30 November 2019 lalu, Yayasan Biennale Yogyakarta sebagai penyelenggara, menunjuk Penwadee Nophaket Manont, Akiq AW, dan Arham Rahman sebagai tim kurator. Menghadirkan 33 seniman Indonesia dan 23 seniman Asia Tenggara, Biennale Jogja XV diselenggarakan di beberapa titik di kota Yogyakarta seperti Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, Jalan Ketandan Kulon 17, Kampung Jogoyudan, Helutrans Art Space, dan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada.

Mengangkat tema kuratorial yang berkaitan dengan isu ‘pinggiran’ di Asia Tenggara, tim kurator berupaya menghadirkan tidak hanya perihal lokasi yang dianggap sebagai area di luar kawasan pusat, tetapi juga persoalan-persoalan subjek atau komunitas yang dianggap dirugikan secara ekonomi – politik dalam struktur masyarakat tertentu.

Oleh karena itu, “yang pinggiran” sudah barang tentu juga hadir di kawasan utama dan secara antagonistik menjadi antinomi bagi “yang pusat.”

Secara ringkas, pinggiran mencakup isu-isu, praktik hidup (kebudayaan), dan subjek yang masih sering diabaikan di dalam wacana akademis, kebijakan publik, serta wacana media.

Begitu setidaknya kutipan yang diambil dari teks kuratorial Biennale Jogja XV berjudul Usaha untuk Mengartikulasikan yang Pinggiran di Asia Tenggara. Dari teks dan gagasan tersebut, dirumuskan tajuk Do We Live in the Same Playground? untuk mewakili ragam gagasan serta eksplorasi artistik yang hadir dalam penyelenggaraan Equator ke-5 ini.

(Salah satu karya Nguyen Thi Thanh Mai asal Vietnam dalam rangkaian karya berjudul Day by Day di Taman Budaya Yogyakarta)

Taman Budaya Yogyakarta menghadirkan seniman seperti Wisnu Ajitama asal Yogyakarta yang memanfaatkan tripleks bekas untuk merespons ruang pamer dengan instalasi menyerupai usus dua belas jari berjudul Umbai-umbai. Bagi sang seniman, usus menggambarkan bagaimana orang-orang yang hidup di pinggiran kawasan pusat berpikir melalui perutnya (baca: pemenuhan kebutuhan pangan), sementara tripleks-tripleks merepresentasikan konstruksi tempat tinggal orang-orang tersebut. Ragam karya yang salah satunya berupa kolase pop-up dihadirkan oleh Muslimah Collective, sebuah kolektif asal Thailand yang beranggotakan lima orang seniman. Kolektif yang dibentuk sejak tahun 2015 ini mendorong dan menekankan isu-isu yang berada di sekitar perempuan perupa khususnya di wilayah Selatan Thailand.

Nguyen Thi Than Mai asal Hue, Vietnam, menghadirkan rangkaian karya (film dokumenter, fotografi, dan instalasi) berjudul Day by Day yang mengangkat isu kuasa, klasifikasi, hingga mimpi yang berkaitan dengan objek berupa kartu identitas. Bing Lathan asal Sanggau, Kalimantan Barat, mempresentasikan karya-karya drawing tinta di atas kertas, serta print yang menggambarkan rumah-rumah panjang dan perkampungan tradisional Dayak di sepanjang sungai Kapuas. Dalam catatan pameran, karya drawing tersebut seharusnya berjumlah 15 buah, tetapi sayangnya sang seniman keburu berpulang dan hanya menyelesaikan sejumlah 10 buah drawing. Di samping seniman-seniman yang telah disebutkan, Taman Budaya Yogyakarta, dalam penyelenggaraan Biennale Jogja XV kali ini juga menghadirkan karya-karya dari Popok Tri Wahyudi, Arisan Tenggara, Tran Luong (Hanoi), Studio Malya, dan lain-lain.

(Karya Yoshi Fajar Kresno Murti berjudul Hotel Purgatorio)

Perhelatan Biennale seringkali menghadirkan presentasi karya yang memungkinkan pengunjung untuk menjelajahi area atau kota tempat perhelatan tersebut dilaksanakan. Dalam Biennale Jogja XV, salah satu karya yang menuntut upaya lebih untuk mengapresiasinya (karena terletak di area yang tidak mudah dijangkau) adalah karya berjudul Hotel Purgatorio. Karya konseptual olahan Yoshi Fajar Kresno Murti asal Yogyakarta ini terletak di RW 10 Kampung Jogoyudan. Untuk dapat mengakses karya tersebut, pengunjung Biennale diharuskan untuk berjalan kaki dan mungkin saja berinteraksi dengan warga sekitar sambil menyusuri pemukiman warga. Yoshi berupaya merespons bentuk serta fenomena hotel-hotel ‘global’ yang dibangun di Yogyakarta melalui konsep Hotel Purgatorio yang bersifat site-specific. Biennale Jogja XV juga melibatkan rumah di area di Jalan Ketandan Kulon 17 sebagai salah satu lokasi presentasi karya yang secara umum bukan merupakan ruang pamer konvensional.

(Princess Studies karya Eisa Jocson asal Filipina di PKKH UGM)

Di samping Jogja National Museum sebagai pusat penyelenggaraan, dua lokasi lain Biennale Jogja XV dilangsungkan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (PKKH UGM) dan Helutrans Art Space. Melalui tajuk Sea Breeze, PKKH UGM mempresentasikan “Bilik Hong Kong by Para Site”yang menghadirkan sekitar 13 seniman dan kolektif. Sementara itu, Helutrans Art Space menghadirkan 5 seniman dalam “Bilik Nasional Taiwan” bertajuk The Library of Possible Encounters yang dikuratori oleh Alia Swastika. Jogja National Museum yang diposisikan sebagai pusat perhelatan Biennale Jogja XV menghadirkan nama-nama seniman seperti Made Bayak (Gianyar), Anida Yoeu Ali (Kamboja/Amerika Serikat), Gan Siong King (Kuala Lumpur), Hildawati Sidharta (Jakarta), Gegerboyo (Yogyakarta), Yosefa Aulia (Bandung), Yosep Arizal (Yogyakarta), Deden Sambas (Bandung), Ika Vantiani (Jakarta), M. Muhlis Lugis (Makassar), Angki Purbandono (Yogyakarta), Citra Sasmita (Denpasar), Moelyono (Tulungagung), dan lain-lain.

(Karya Yennu Ariendra berjudul Image of the Giant di Jogja National Museum)

Penyelenggaraan Biennale Jogja setidaknya masih akan mengangkat tema besar Khatulistiwa atau Equator hingga tahun 2021 (menyisakan satu perhelatan lagi). Menarik untuk menantikan penghujung seri Equator dan apa saja yang telah dicapai dan dapat dibaca dari upaya Yayasan Biennale Yogyakarta selama kurun waktu 10 tahun. Perhelatan Biennale seringkali menuntut aspek wacana kultural yang signifikan dalam sebuah area, negara, hingga regional tertentu. Terlepas dari beragam beban dan tuntutan yang selalu menempel pada perhelatan apapun yang mengandung istilah ‘biennale,’ Biennale Jogja merupakan salah satu perhelatan terpenting di Indonesia, bahkan mungkin hingga area-area di sekitar khatulistiwa.

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Bob Edrian

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading

2022, Jazz Gunung Kembali Lagi!

Setelah lebih dari dua tahun berjibaku beradaptasi dengan pandemi, kini pertunjukan musik kembali mendapatkan ruangnya kembali. Satu persatu festival musik muncul lagi. Salah satunya adalah Jazz Gunung yang tahun ini...

Keep Reading

Turtles. Jr Bakal Jajal Rebellion Fest di Inggris

Grup punk rock asal Bandung, Turtles Jr, baru-baru ini telah berbagi kabar gembira. Unit yang dihuni oleh Boentar (drummer), Boodfuck (vokal), Dohem (bass), dan Buux Frederiksen (gitar) ini di tanggal...

Keep Reading