Isu Lingkungan dan Suara dari Navicula

Navicula, band grunge/rock asal pulau Dewata yang kerap dikenal dengan sebutan “The Green Grunge” karena seringnya mereka melakukan kegiatan aktivisma sosial dan juga lingkungan, yang mana hal tersebut di luar dari kebiasaan yang mereka lakukan di dalam dunia musik. Telah ada sejak tahun 1996, Navicula diambil sebagai nama berdasar jenis ganggang emas bersel satu, dan memiliki bentuk menyerupai sebuah kapal kecil, yang mana dalam bahasa latin, Navicula juga memiliki arti kapal kecil. Selain tindakan, mereka juga menghadirkan perlawanan ke setiap lirik-lirik dari karya yang dihasilkan, pesan aktivisme dan semangat tentang Damai, Cinta dan Kebebasan adalah apa yang selalu mereka gaungkan. Musik Navicula memiliki pengaruh kuat dari jenis musik seperti alternatif rock tahun 90-an, terutama bila kita menyebut grunge/seattle-sound dari band-band macam Soundgarden, Pearl Jam, Alice in Chains, dan Nirvana.

Tapi yang menjadi pembeda adalah, musik mereka kerap dikaitkan dengan pengaruh budaya Bali yang saat ini sering menjadi tempat bercampurnya ragam budaya, termasuk budaya klasik Bali hingga budaya modern internasional. Jalur mandiri sangatlah melekat dengan Naviula, hal ini bisa dilihat dalam pengkaryaan mereka yang mandiri, walaupun pernah juga menjajal bergabung dengan label musik besar dalam pembuatan album, namun tidak berlangsung lama dan Navicula kembali pada jalur musik indie sebagai perjuangan musiknya. Isu dari lingkungan yang ada di mana pun selalu menjadi hal vital dalam Navicula berkarya. Penting bagi mereka untuk terus bisa bertindak dan menyuarakan kesadaran dan pemahaman menyoal isu-isu lingkungan. Satu hal yang mereka percayai hingga saat ini, lewat kesenian, semua orang bisa menyebarkan banyak bentuk perubahan. Dari lirik-lirik dan juga musik, kesadaran kepada hal positif bisa dicapai.

Dalam catatan pengkaryaannya, Navicula sejauh ini telah merilis total sembilan album penuh antara lain, Self Potrait (1999), K.U.T.A ( Keep Unity Through Art) (2002), Alkemis (2005), Beautiful Rebel (2007), Salto (2009), Kami no Mori (2012), Love Bomb (2013), Tatap Muka (2015), dan yang paling anyar adalah Earthship (2018). Berbagai upaya pengenalan selalu mereka lakukan, salah satunya adalah dengan menggelar tur. Dari sekian banyak tur yang dijalani, pada tahun 2018 kami berkesempatan untuk membawa mereka mengitari beberapa kota di Indonesia dalam sebuah program bernama Siasat Calling On The Road, bersama Semiotika (Jambi), Wake Up Iris (Malang), Frontxside (Makassar), yang dimulai dari bulan Juni hingga Agustus 2018.

Dan kemudian kolaborasi kami bersama mereka berlanjut lagi saat mereka melangsungkan tur Eropa ke beberapa negara dan kota yang ada di Eropa, yaitu Berlin, Hamburg, Wina, Budapest dan Praha. Tur tersebut turut didukung juga oleh Lembaga swadaya masyarakat Kopernik, dan tur tersebut dijalankan untuk mempromosikan album Earthship sekaligus mempromosikan budaya Indonesia ke ranah internasional. Beberapa waktu lalu mereka juga menggelar sebuah konser virtual yang ditujukan untuk menggalang dana guna pembuatan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis. Dalam konser bertajuk ‘Corona Concert 2’ ini, Navicula menggandeng serta LSM Kopernik. Dalam konser tersebut, Navicula tampil dengan formasi full band dalam format akustik selama 1 jam, dan dengan tambahan beberapa lagu lama yang jarang dibawakan saat konser.

Film dokumenter dari Navicula saat mengunjungi Amerika akan segera bisa disimak di SPTV, kanal siar alternatif yang akan menjadi ruang bersama pengarsipan video musik dari grup musik/musisi tanah air sebagai apresiasi redaksi Siasat Partikelir atas kreasi audio visual dan musik. Pantau terus jangan sampai terlewatkan suguhan kejutan dari SPTV.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip Navicula

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading

Karya Baru dan Rangkaian Tur Musik Isman Saurus

Di sekitar akhir 2021 lalu, solis asal Lumajang Jawa Timur, Ismam Surus telah melepas album penuh bertajuk Orang Desa. Sebagai rangkaiannya, di tanggal 24 Maret lalu ia telah melepas sebuah...

Keep Reading

Nuansa Anime di Karya Terbaru Moon Beams

Inspirasi untuk membentuk sebuah band bisa datang darimana saja, termasuk dari sebuah  anime. Jika kalian pernah menonton anime lawas berjudul BECK tentu tak akan asing dengan original soundtrack-nya bertajuk Moon...

Keep Reading