Ilustrasi Rara Bidja dari Jambi

Gelombang kabar tentang pelaku kreatif dari Jambi, terus berdatangan. Setelah kisah yang mulai mengular dari scene musik lokal –ditandai dengan cerita Semiotika yang mulai mendapat perhatian orang dari luar Jambi—, kini potensi lini visual mulai menyeruak juga.

Salah satu yang menarik untuk dikabarkan pada orang luas adalah Rara Bidja, seorang illustrator yang sempat kami temui saat tur Stand A Chance leg Jambi beberapa pekan silam. Kegemarannya dengan dunia gambar sedari kecil, membuatnya tumbuh berkembang. Menggambar menjadi semacam terapi khusus di kala stres datang sekaligus juga menjadi sebuah bukti tanda terima kasih atas ide-ide yang mampir lewat dirinya untuk kemudian dibagikan ke orang banyak.

“Saya berpikir sangat penting untuk membagi sesuatu yang benar dan melalui ilustrasi itulah saya menyampaikannya. Sebut saja ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, seperti alasan yang saya sampaikan ketika submit karya untuk Stand A Chance Tour kemarin,” terang Rara.

Dalam kesehariannya dia banyak dipengaruhi oleh buku-buku teori atau wacana sosial yang selalu menyertakan ilustrasi di dalamnya. Pendekatan seperti itu, membuatnya lebih mudah memahami sebuah persoalan.

Kebanyakan ide dan konsep yang dia punya dituangkan dengan teknik cat air. Pilihan untuk menggunakan teknik tersebut merupakan sebuah bentuk untuk menutupi kelemahan dirinya. Cat air, menurutnya, tidak begitu kaku dan banyak aturan dalam menggores ide-idenya. Efek yang ditimbulkan dari air dan cat selalu bisa sangat tidak terduga. Selalu ada hal yang mengejutkan di setiap goresannya.

“Saya sangat suka dengan efek yang ditimbulkan dari percampuran air dan cat, banyak hal yang mengejutkan dari hasil pencampuran dua elemen ini. Lalu, cat air juga mampu menutupi apa yang saya tidak bisa saya lakukan jika menggunakan teknik sketsa pensil. Itu adalah teknik shading. Hehe…” jelas Rara lagi.

Proses berkaryanya harus bermodalkan kegelisahan dan tebalnya volume pikiran di kepala supaya ide-ide bisa keluar dengan lancar. Meskipun begitu, tidak semua hasil kegelisahan dituangkan ke dalam karya. Ada juga dari berasal dari inspirasi lingkungan sekitar. Lalu selain itu, juga ada treatment tersendiri yaitu dengan melakukan masturdating (mengencani diri sendiri). Seperti berkunjung ke tempat-tempat tertentu sendirian atau sekedar membaca banyak buku.

Lalu ada lagi satu hal yang sangat unik yang biasanya dia lakukan untuk mendapatkan ide. Dalam beberapa kesempatan, ia melakukan eksperimen sosial di tempat-tempat komunitas kreatif sering nongkrong seperti pameran atau working space. Melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan, contohnya adalah merokok. Melalui eksperimen ini Rara mendapatkan berbagai macam respon, kebanyakan nasihat serius dari kawan-kawan sekitarnya. Eksperimen ini sendiri juga berkaitan dengan nilai-nilai yang selalu disematkannya di setiap karyanya.

Seperti seniman pada umumnya, pasti ada nilai yang ingin disampaikan disetiap karya yang dihasilkan. Bagi Rara sendiri, nilai kemanusiaan yang paling sering ingin disampaikan. Isu-isu seperti gender, intoleransi, rasisme atau hasil renungan tentang diri sendiri. Hal-hal ini mungkin terasa berat jika disampaikan dalam bentuk medium lainnya. Maka dari itu Rara menyampaikannya lewat medium gambar.

“Sebenarnya ini pengalaman yang banyak saya temui, banyak orang tidak suka membaca tapi kalo lihat gambar pasti senang. Maka dari itu nilai-nilai ini saya tuangkan ke dalam sebuah gambar,” terang Rara.

Aktivitas berkesenian sudah sering dilakukan di Jambi, pameran seni rupa serta budaya pun kerap kali diadakan. Komunitas pecinta visual art banyak bermunculan dan sering menjalankan berbagai kegiatan seperti jamming mural ataupun live sketch dengan waktu yang sangat intens. Tujuannya adalah agar virus berkarya dan berkesenian lebih cepat tersebar ke banyak orang. Karena menurutnya, masih banyak kekurangan dalam tata cara memasarkan untuk memperkenalkan karya kepada khalayak umum di sana.

Menurutnya yang paling menyenangkan dalam pengkaryaan adalah bisa mengerjakan ilustrasi untuk buku. Selain bisa secara langsung membaca buku yang belum dirilis, dia juga bisa belajar literasi secara langsung dengan si penulis buku.

“Saya besar dan tumbuh di lingkungan kampus yang budaya literasinya lumayan intens dan kebanyakan mereka membuat buku. Jadi biasanya mereka memesan ilustrasi ke saya dan itu sangat menyenangkan,” tutup Rara.

Bagi yang ingin melihat karya dari Rara Bidja, bisa mengunjungi akun Instagramnya di @rarabidja.

Teks: Adjust Purwatama
Foto: Arsip Rara Bidja

 

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Universal Iteration, Pameran Selanjutnya dari Salihara

“Ragam aktivitas di dunia maya tidak hanya menghasilkan keuntungan berupa kemudahan akses informasi serta terbukanya peluang-peluang baru di berbagai bidang. Pada kenyataannya, aktivitas-aktivitas virtual menghasilkan emisi berupa jejak karbon secara...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading