If the Kids Are United, Kamu Harus Pogo Di Rumah

Kancah musik hardcore/punk nasional memiliki jaringan yang cukup kokoh di tiap kota di semerata Indonesia. Jejaring perkawanan yang kuat memungkinkan untuk band dari tiap kota untuk berkomunikasi dan melangsungkan tur secara mandiri. Saling berkunjung dengan gigs yang intim tanpa barikade. Namun sekarang, keintiman dalam gigs itu bisa dibilang terpaksa harus dicoret dari daftar aktifitas menyenangkan yang menjadi ruang ekspresi dari band dan juga penonton yang datang.

Karena apa? Apa lagi kalau bukan karena situasi dan kondisi dari pandemi CoViD-19 yang menyebalkan. Tidak ada lagi moshpit rapat penuh keringat, interaksi kontak fisik agresif yang intensif dan aksi merebut mikrofon untuk bernyanyi bersama karena aktifitas itu jelas berpotensi besar menyebarkan wabah virus Corona. Walau keadaan memaksa perhelatan musik dalam skala apapun dihentikan dalam waktu yang tidak ditentukan, tak lantas membuat pelaku kancah musik hardcore/punk menjadi diam stagnan dan berpangku tangan.

Kondisi krisis sekarang mendorong mereka yang berkecimpung di ranah musik ini untuk berbuat sesuatu. Ide pun muncul, kalau biasanya kita jumpalitan moshing dan pogo di gigs, lalu kenapa tak pogo saja di rumah. Agak sukar memang membayangkan bagaimana bisa ber-pogo solo di rumah. Gagasan gigs non-konvensional secara online dengan tajuk Pogo Di Rumah itu sendiri muncul dari Davin Pramudya (The Skabanton/Pig Face Joe/1234!) dan Arditya Perwira (Koteka Is The Reason/Teenagers/1234!) yang aktif dalam kancah hardcore/punk di Jawa Timur, serta Endry Putra Pamungkas (Tenholes) rekan mereka di Jakarta. “Idenya berawal dari grup Whatsapp, dan melibatkan tiga atau empat band saja, tapi akhirnya kami coba menghubungi dan menawarkan ke teman-teman yang lain yang mau ikut serta,” papar Arditya Perwira akan inisiatif mereka. “Nama Pogo Di Rumah diambil dari rencana acara Bergerak Records di Jakarta yang tertunda, dan seizin Mas Ukien (Tenholes/Bergerak Records) nama itu boleh di pakai.” Tambahnya akan penamaan acara.

Penyelenggaraan Pogo Di Rumah pun bukan hanya untuk hiburan atau bersenang-senang saja. “Tujuan utamanya adalah untuk menggalang dana yang nantinya akan disalurkan lewat platform donasi Bagi Rata”. Terang Arditya. Bagi Rata sendiri adalah sebuah crowdfunding platform baru yang muncul sebagai usaha untuk membantu secara finansial para pekerja yang terkena dampak ekonomi dari CoViD-19.

Melibatkan band lintas kota dan provinsi, online gig Pogo Di Rumah akan berlangsung akhir pekan ini. Dimana tiap band akan menyiarkan secara langsung penampilan mereka lewat fitur live dari akun Instagram masing-masing pada jadwal berikut:

Jum’at, 24 April 2020

  • Softcrime (Jakarta)  18.00 – 19.00 WIB
  • Teenagers (Sidoarjo)  19.00 – 20.00 WIB
  • 1234! (Surabaya) 20.00 – 21.00 WIB
  • Skalado (Gresik) 21.00 – 22.00 WIB

Sabtu, 25 April 2020

  • The Bullhead (Bali) 18.00 – 19.00 WIB
  • Pig Face Joe (Surabaya) 19.00 – 20.00 WIB
  • Hockey Hook (Bandung) 20.00 – 21.00 WIB
  • Tenholes ( Jakarta ) 21.00 – 22.00 WIB

Minggu, 26 April 2020

  • The Sneakers (Bali) 18.00 – 19.00 WIB
  • Broken Rose (Yogyakarta) 19.00 – 20.00 WIB
  • Youngster City Rockers (Malang) 20.00 – 21.00 WIB
  • The Rang – Rangs (Bekasi) 21.00 – 22.00 WIB

Siap untuk pogo dan lompat-lompat diatas kasur? Jangan lewatkan jadwal Pogo Di Rumah. High fives, beddives!

poster event pogo di rumah

Teks: Farid Amriansyah
Visual: Arsip dari Pogo Di Rumah

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading