Hubungan Erat Kopi dan Descendents

Dedengkot band punk Descendents dikenal karena tiga hal. Pertama, mereka bisa dibilang pencetus atas apa yang sekarang disebut dengan warna musik “melodic hardcore”. Kedua, logo ikonik yang masih dipakai hingga kini oleh mereka dan dibuat oleh sang vokalis yaitu Milo Aukerman. Maskot kutu buku milik mereka ini adalah salah satu logo paling ikonik yang pernah ada di kancah musik punk rock. Logo tersebut tentu saja sangat mudah dikenali seperti ikon Misfits ‘Crimson Ghost’ dan empat bar milik Black Flag yang sangat khas. Dan hal ketiga yang sangat erat dengan band ini adalah kegemaran legendaris mereka dalam hal mengonsumsi kopi. Dalam sebuah sesi di AltPress TV, keempat anggota band mengungkapkan kegilaan mereka dengan kopi.

Di sesi obrolan tersebut, keempatnya mengungkapkan hubungan khusus mereka dengan minuman yang secara praktis mendefinisikan band yang mereka naungi. Kopi sangat penting untuk mendengarkan Descendents. Mendengarkan satu album penuh “Cool To Be You” dan menyeduh sepoci kopi segar adalah pengalaman yang luar biasa. Hal-hal seperti ini sering terjadi. Apakah salah satu dari kalian ingat saat pertama kali mencoba kopi dan mendengarkan sebuah album musik?

Ya, kopi dan musik memang seperti tak bisa dipisahkan. Apalagi di masa sekarang banyak yang sok menggaungkan jargon gak indie kalo gak ngopi, padahal ya minum kopi ga menaikkan derajatmu di kancah indie-indiean. Tapi tak bisa dipungkiri kalau sebagian orang sangat menikmati kopi sambil mendengarkan musik. Di sesi ini, kalian bakal bisa menyimak cerita soal kopi dan musik dari dua orang penting di kancah musik punk rock. Seperti Aukerman yang bercerita bagaimana dirinya pertama kali mencoba kopi. Kenangan itu terjadi saat dirinya sering menemani sang ibu untuk mengerjakan sebuah produksi teater, dan di sela-sela waktunya di area teater bersama para kru belakang panggung, dirinya sering disuguhkan kopi yang diseduh dari sebuah wadah besar.

“Rasanya seperti omong kosong.Tapi ketika kalian memasukkan banyak gula dan susu, dan itu seperti, Oh, rasanya cukup enak. Dan (Saya dapat) sedikit minum kopi dengan seikat susu dan gula di dalamnya ketika saya berusia 10 tahun atau lebih. Tapi itu tidak memulai perjalanan panjang saya menuju kecanduan sampai saya bergabung dengan band.”Kenang Aukerman di sesi temu wicara tersebut.

Bill Stevenson pun menambahkan “Ya, itu mirip seperti saya. Kami pergi memancing lebih awal. Saya pikir saya grogi dan (tidak bisa) bangun. Ibuku membuatkanku secangkir kopi dengan dua sendok madu di dalamnya dan meneguknya secara perlahan, karena begitulah cara dia meminum kopinya.”

(Billie Stevenson Memperlihatkan Caranya Membuat Kopi)

Saat menceritakan bagaimana band mereka bisa sangat terikat dengan kopi, keduanya menjelaskan bahwa semuanya terjadi saat Stevenson sedang menggeluti kesukaannya dalam memancin bersama Frank dan Pat . Karena kecintaan akan memancing, mereka sampai lupa akan waktu, hingga mulai mengonsumsi obat-obatan (hanya Stevenson yang tidak). Stevenson yang memang tidak suka dan tidak akan pernah menggunakan narkoba pun jenis lainnya itu mencari solusi lain. Mulailah dia mencoba untuk membuat segelas kopi. Benar-benar jenis kopi sederhana, memang di kala itu merek-merek besar seperti Starbucks belum ada seperti masa sekarang. Dari pengalaman itulah, dirinya menjadi kecanduan terhadap kopi, Stevenson pun mengakui bila sampai sekarang dia bisa meminum 8 gelas dalam sehari. Jumlah ini pun sedikit berkurang dari kebiasaannya di masa dulu yang sering meminum 12 gelas sehari. Dari awalnya coba-coba, pada akhirnya menjadi sebuah rutinitas yang tak bisa dipisahkan.

” Di masa sekarang, saya meminum espresso di pagi hari, dan kemudian minum lagi sekitar pukul 2. Saat ini, saya sudah mengurangi, beda hal ketika kmai melakukan pertunjukan. Selama lima tahun terakhir, kami telah tampil di banyak panggung, dan saya harus minum 12 espresso hanya untuk merasa segar. Saya membutuhkan tiga espresso di pagi hari hanya untuk merasa seperti manusia. Tapi sekarang saya baik-baik saja jika saya minum satu espresso di pagi hari dan satu lagi di sore hari. Saya stabil dan stabil. Saya positif, dan saya tidak terlalu gelisah. Saya tidak terlalu agresif.” Terang Stevenson.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip APtv

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading