Sebagai pencinta musik, jika ke Malang, tidak sah rasanya jika tidak berkunjung ke Houtenhand. Ceritanya dimulai ketika Robertus Donny Hendrawan bersama Nova Ruth (Filastine & Nova) memulai Legipait, sebuah coffee shop dan artspace yang mengakomodir banyak kepentingan orang muda di kota itu.

Ruang kecil yang berkembang dan kemudian mempertemukan banyak orang, seiring perjalanan waktu, menuntut format menyegarkan dan gig space yang mencukupi.

Doni, begitu ia dipanggil, memutuskan untuk membuat sebuah ruang yang berkonsep beer dan chocolate house yang bisa mewadahi kebutuhan itu. Maka, terciptalah Houtenhand.

Tempat yang baru, tentu saja membawa suasana yang juga baru. Houtenhand memiliki tiga lantai yang semuanya punya fungsi berbeda. Lantai dasar berfungsi sebagai bar, lantai satu sebagai gig space dan lantai dua sebagai tempat untuk bersantai. Seminggu setelah grand opening, Houtenhand berhasil memboyong Pure Saturday untuk tampil di gig space dengan skala kecil yang mereka miliki.

“Saat Pure Saturday tampil untuk pertama kalinya disini, aku menyadari kalau panggung itu menjadi batas antara penampil dan penonton. Vibenya lebih dapet kalau tanpa panggung. Lebih intim dan lebih dapat pesan yang ingin disampaikan oleh penampil band. Pun juga menurutku, saat ini sound system juga menjadi pagar penghalang. Pernah kami buat suatu acara tanpa sound system, terbukti penonton jadi lebih khusyuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh penampil,” kenang Doni.

Ia sendiri, memiliki latar belakang yang beragam. Mulai dari jadi anak band, perupa, sutradara sampai peracik makanan pernah dilakukannya. Hal itu atas dasar alasan tidak memiliki cita-cita, tapi semua dijalani atas dasar hasrat besar dan kecintaan akan dunia seni.

Tujuan Houtenhand dibuat juga bukan semata untuk kepentingan bisnis, tapi lebih ke hura-hura intinya. Memberi medium untuk teman-teman band yang dulu kesusahan venue untuk tampil. Kendati bernuansa kebebasan, namun ada syarat tersendiri jika band yang ingin tampil disini. Band minimal mesti mesti memiliki rilisan fisik dulu, apapun bentuknya.

Ini dilakukan demi memprovokasi band untuk jadi produktif. dalam mengeluarkan rilisan fisik. Ada sistem yang menarik yang pernah diterapkan oleh Houtenhand. Jika ada event, penonton diwajibkan memilih dua pilihan untuk menonton: Membeli bir atau membeli cd band yang akan tampil. Alasannya sederhana: untuk menjadi bahan pembelajaran bagi anak band, jika penonton lebih memilih bir sebagai tiket menonton berarti ada yang salah dari band itu. Baik packaging yang kurang ataupun materi lagu yang kurang kena di hati penonton.

Secara tidak langsung banyak band Malang yang tumbuh dan berkembang di tempat ini, ada juga band yang lahir karena Houtenhand berdiri.  Tidak hanya wadah untuk anak band, di tempat ini, siapa saja bisa menjadi diri sendiri. Bertemu orang asing lalu berbincang-bincang menjadi hal yang wajar dan biasa terjadi.

Houtenhand tidak melulu soal musik, di sini tercatat pernah mengadakan beberapa kali workshop, pameran artwork dan pemutaran film-film independen. Tempat ini, dalam beberapa tahun terakhir, berkontribusi membuat scene Kota Malang menarik dan punya banyak bensin untuk dibakar. (*)

teks: Adjust Purwatama
foto/dok: Adjust Purwatama