Holaspica: Ikan yang Terus Berenang di Lautan Luas

Ia menghidupkan ikan, nelayan dan laut di dalam dirinya.

Perempuan itu bernama Holaspica. Terlahir dengan nama Virdyas Eka Putri, ia lebih memilih untuk memperkenalkan diri sebagai Holaspica ke banyak orang. Beberapa waktu yang lalu, ia baru saja menelurkan mini album pertamanya, Naik Ke Laut. Mini album ini dirilis oleh Gelombang Record.

Pada The Other Festival yang berlangsung 2-4 November 2018 yang lalu, ia berbagi panggung dengan para musisi yang sudah lebih dulu turun gelanggang dengan genre sejenis seperti Adrian Yunan, Jason Ranti dan Iksan Skuter. Kami berhasil “menculik” dan mengajak Holaspica untuk berbicara banyak mengenai proses kreatifnya. Yang perlu digaris-bawahi terlebih dahulu, bicara denga perempuan asal Lampung ini akan banyak mengambil jarak yang jauh dari sesuatu yang bersifat musikal. Ia lebih banyak berbicara mengenai isu dan perenungan dalam dirinya. “Besok gue akan pulang ke Lampung, gue selalu bahagia ketika kapal dibuka dan gue melihat Lampung bagai dataran yang indah,” kata Holaspica yang dibarengi dengan senyum yang tersungging dari bibirnya.

Ia menggunakan kacamata dan baju berwarna kuning. “Nanti kita ngobrolnya habis gue manggung ya,” ujarnya meminta. Saya mengangguk dan mengiyakan. Berikut adalah wawancara saya dengan perempuan yang ironisnya, tak ingin disebut sebagai musisi ini. (*)

Sejak kapan mulai bermain musik?

Sejak kapan main musik atau sejak kapan pegang gitar?

Bebas…

(Tertawa) Kalau awal main gitar itu dari SD kelas 4. Cerita lucunya, dulu di Lampung sering mati lampu. Jadi kalau mati lampu suka ke gardu (pos ronda), ada gerombolan anak-anak yang suka nyanyi dan main gitar. Gue ingat sekali mereka nyanyi, lagunya pasti enggak jauh-jauh dari “Kita”-nya Sheila on 7. Gara-gara itu gue suka nimbrung dan diajarin main gitar. Dari kecil gue memng suka main gitar dan nyanyi. Setelahnya gue punya band waktu SMA dan kuliah. Entah kenapa di tahun 2014, setelah selesai kuliah, dapat kesempatan untuk diproduseri oleh orang di Jogja. Di situ gue bermain dengan materi musik sendiri. Dan gue rekam sebagaimana di waktu kecil, bernyanyi dan main gitar sendiri.

Bagaimana proses selama di Jogja?

Gue ditawari untuk recording semua materi gue. Tapi ada sedikit drama. Ketika masa itu, nggak selalu gampang, gue harus berhari-hari nungguin si music director.Yang mestinya rekaman hari ini, eh malah sebulan setelahnya. Gue nunggu lagi, malah jadi dua bulan setelahnya. Gue capek dengan itu. Gue capek dengan momen-momen menunggu seperti itu.

Apa alasan paling logis yang memutuskan elo untuk hijrah ke Jogja ketika itu?

Simplenya, gue bisa merekam karya sendiri. Gue dibantu dan dibiayai sama seorang produser, terus dikenalin sama music director. Gue dibimbing sama dua personel Captain Jack, sebuah band alternative dari Jogja, Mas Ismeth dan Mas Babon. Dua orang itu yang membantu gue. Sebelumnya belum pernah ke Jogja, gue cuma bermodal baju, materi musik dan diri sendiri (tertawa).

Berarti elo meyakini anggapan bahwa Jawa adalah kunci mengejar mimpi bermusik elo?

Hmm, Jawa adalah kunci. Ketika masa rekaman gue memang meyakini kayak gitu, kalau gue produksi di Lampung, gue nggak akan dibimbing oleh teman-teman yang sudah punya pengalaman. Makanya gue berani ke Jogja karena yakin bisa belajar banyak di sana.

Fase kembali ke Lampung?

Album gue belum kelar, yang tadinya dijanjikan nggak kelar-kelar juga. Yang kayak tadi gue bilang, menunggu terus. Sampai di batas lelah penantian. Ketika itu nama panggung gue belum Holaspica, masih menggunakan nama asli, Virdyas Eka Putri yang disederhanakan jadi VED. Ketika di Jogja, gue merasa kok bergantung sama orang ya? Merasa dua-tiga tahun ini kok tidak efisien. Akhirnya gue pulang ke Lampung, agak sedikit menyerah. Di dalam hati pasang tekad: Kalau ini berjalan lagi (proses bermusik), gue harus bisa melakukannya sendiri. Mau ada orang atau enggak, gue harus tetap jalan sendiri, maju sendiri. Makanya sekarang kalaupun kemana-mana harus sendiri, gue sikat.

Berapa lama proses mini album Naik Ke Laut?

Mengenai proses album ini panjang ceritanya. Gue buat lagu Naik Ke Laut sampai Waktunya Pulang, itu kan cerita berkelanjutan tuh. The Dying Sky yang gue record duluan, sama lagu The Rain Is Coming. Tapi ketika gue pulang ke Lampung, gue menemukan formula dan konsep yang pas. Gue tidak ingin sekedar bernyanyi saja. Tiba-tiba konsep itu datang ketika gue melakukan kegiatan sosial. Itu berbarengan disaat gue menyerah atas musik gue. Gue pergi ke suatu taman baca masyarakat, di situ banyak anak-anak yang mau belajar tapi terkendala banyak hal. Akhirnya gue berkesempatan bernyanyi lagi. Teman-teman gue disana bilang, apa yang elo bisa kasih ke mereka? Gue bingung dong, uang nggak ada dan dalam kondisi baru menyerah sama keadaan. Linglung lah pokoknya (Tertawa). Keinginan gue buat membantu mereka itu kuat banget. Sampai pada suatu malam gue ditelepon sama temen untuk mengajak main di suatu acara. Honornya 500rb (Tertawa). Secepatnya gue menjawab oke. Terus honornya gue ke kasih ke taman baca untuk membantu mereka.

Album elo seperti novel ya, soalnya cerita berkelanjutan dari awal sampai akhir? Mengingatkan gue dengan album Balada Joni dan Susinya Melancholic Bitch.

Iya. Itu gara-gara persinggungan gue dengan taman baca tadi. Kalau lo tahu lirik gue yang, Bila yang baik/tak mau bicara/yang buruk tertawa/melihat semua dan seterusnya. Ketika itu gue merasa ketika elo bisa melakukan sesuatu untuk sesama, ya bantu saja. Kalau dalam konteks gue ya taman baca ini, daripada anak itu hidup di jalanan dan lain-lain, mendingan gue kasih apa yang gue bisa. Kembali ke soal karya, kalimat yang naik ke laut itu, nggak tahu dapat dari mana. Tapi setelah dipikir-pikir, ini gue dapet setelah intensitas selama bolak-balik Lampung-Jogja. Gue selalu naik kapal feri. Gue gak naik pesawat.

Iklim laut yang membentuk karya-karya lo ya.

(Tertawa) Nah iya itu. Naik ke Laut itu gue bikin di Jogja saat manggung di sana. Setelah masa produksi selesai. Gue mendapatkan ide membuat lagu itu saat subuh. Dan lagu waktunya pulang. Nah disitu seperti pertanyaan elo tadi, gue menemukan pola seperti novel yang elo bilang. Nah gini nih, lagu gue harus berkelanjutan. Karena ini menceritakan tentang perjalanan gue sendiri. Gue menemukan fragmen-fragmen itu di saat subuh itu. Diawali dari Naik Ke Laut dan berujung di lagu Waktunya Pulang.

Sekarang mini album, berarti full album konsepnya akan seperti ini juga kan?

Ya, gue inginnya seperti itu di full album nanti. Akan ada detail-detail lagi yang mengantarkan perjalanan ini.

Apa sih yang mau disampaikan di mini album Naik Ke Laut?

Gue pengen cerita sedikit. Anak-anak muda sering bilang istilah lost generation ya, namun bagi gue, se lost-lostnya, seharusnya elo masih bisa membuka mata. Ya lakukan dan bantu aja apa yang elo bisa. Dari kasus gue tadi, setelah terlibat dalam taman baca, gue malah banyak dapat tawaran manggung. Yang terpenting sih, gue mau menyampaikan ke diri sendiri: lagu-lagu gue untuk menyemangati diri sendiri sih. Sama halnya ketik gue dulu punya mimpi, tapi pada kenyataanya nggak seperti yang diharapkan. Selalu ketemu badai. Setidaknya gue punya lagu yang bisa menghibur diri sendiri. Contoh, ketika gue sedih, gue mendengarkan lagu yang “Eleonora”. Di lagu itu kan ada lirik, menunggu itu tak sesulit yang terbayangkan. Sebenarnya kan menunggu itu sulit, makanya gue butuh orang lain untuk mengatakan itu ke gue. Akhirnya orang yang mengatakan itu ya lagu gue. Gue berkesimpulan, selain ada muatan sosial, gue juga ingin lagu itu menjadi spirit untuk orang-orang. Karena gue yakin setiap orang pasti berjuang. Elo juga berjuang kan?

Iya. Gue bingung karena di mini album lo, ada lagu lirik Bahasa Indonesia dan ada juga lagu dengan lirik lirik Bahasa Inggris. Bagaimana tuh?

Nah, kayak itu tadi. Ini semua seperti puzzle, di luar kuasa gue. Yang gue ciptakan duluan dua lagu Bahasa Inggris yang The Dying Sky dan The Rain is Coming, setelahnya Eleonora. Lagu Eleonora itu kunci dari semua ini. Mungkin kalau enggak baca bukunya Edgar Allan Poe, mungkin gue akan tetap seperti dulu yang nggak tahu mau ke mana. Gue mendapatkan spirit, “Udah deh bertualang saja terus ke laut yang gelap, untuk melihat apa yang elo dapatkan nanti.” Melakukan perjalanan saja terus dan jangan kebanyakan takutnya. Gara-gara itu akhirnya gue bisa buat lagu Naik Ke Laut, The Dying Sky, Elenora, Rain is Coming dan Waktunya Pulang. Setelah punya 5 lagu itu, gue pegang dulu nih. Sampai pada waktu gue berkesempatan untuk ngobrol dengan para nelayan. Itu juga faktor kenapa The Dying Sky gue masukin ke lagu ke dua, setelah gue mendapatkan cerita dari seorang nelayan. Gue nanya begini, “Bapak ketika ada badai takut nggak sih?” Bapak itu menjawab, “Ngapain takut, mending cari pulau terdekat, ketika badainya reda, ya jalan lagi.” The Dying Sky ceritnya kayak gitu juga, akan ada langit yang kelam, tapi bukan berarti ini akhir perjalanan. Makna sama seperti kehidupan, apa sih gunanya kehidupan kalau kita nggak survive? Cerita si bapak nelayan cocok nih dengan perjalanan kedua, yaitu The Dying Sky. Kok melebar kemana-mana ya? (Tertawa)

Membahas genre adalah sesuatu yang menyebalkan. Dengan pemilihan isu yang dekat dengan alam dan sosial, siap tidak seandainya ada yang beranggapan Holaspica itu musisi folk? Atau jangan-jangan elo punya keinginan dibilang musisi folk?

Nggak. Begini, gue nggak pernah bisa membuat orang menilai dari sesuatu yang diinginkan. Misalkan nih, ketika gue memakai baju warna abu-abu, gue akan pernah bisa memaksa elo untuk bilang ini warna abu-bu juga. Mungkin elo melihatnya ini warna merah, kuning atau biru. Begitu juga soal genre bermusik. Terus terang, kalau ada yang bilang gue musisi folk lah, atau balada dan semacamnya, gue akan jujur bilang bahwa gue cuma membuat prosa atas semua ini. Gue malah sempat bilang ke orang, bahwasanya gue lebih suka dengan penyebutan Holaspica sebagai penulis dibanding musisi.

Loh kok gitu?

Gue akan susah menjawab ketika ada yang bertanya siapa yang menginspirasi musik gue. Susah mencari irisannya. Gue dengar musik juga, akan tetapi yang gue gali secara dalam, malah mereka penulis-penulis yang menulis cerita mereka dengan sangat gila. Salah satu contohnya, kenapa gue suka banget sama Edgar Allan Poe, karena ya itu (terdiam sebentar). Gue menemukan dunia baru di tulisan dia, dan dia termasuk salah satu penulis yang gila di generasinya. Analoginya kayak gini, dia itu, di saat semua orang menulis komedi, eh dia malah menulis tentang after life. Kan gila itu. Dia menulis dengan cinta, dan nggak pernah mempedulikan pasar pembaca.

Kemarin elo baru pulang tur tiga kota di Sumatera?

Iya. Gue merasa kalau gue ini orang ini Sumatera. Bagian dari Pulau Sumatera. Sebagai orang Sumatera, gue berpikir gue harus menyambangi saudara terdekat terlebih dulu. Setidaknya gue mencari cerita. Kemarin gue sempat ngobrol sama Felix Dass dan dia nanya, kenapa nggak melihat pasar Jakarta? Ya gue jawab, pasar Jakarta ya pasar Jakarta. Tapi ada juga kok pasar Sumatera dan lain-lain. Itu punya karakter masing-masing. Kita nggak bisa mengambil kesimpulan; ini nih yang paling potensial, nggak bisa kita mengambil kesimpulan begitu. Karena ketika gue melakukan tur kemarin, tiap kota memberikan kejutannya masing-masing. Ketika di Palembang, gue beranggapan lagu gue belum dikenal, eh ternyata mereka pada nyanyi bareng. Begitu juga di Padang dan Medan. Teman-teman, yang gue nggak menyangka, malah mengapresiasi karya-karya gue. Gue ingin membuka jaringan di saudara sepulau dulu. Jadi seakan-akan gini, gue ini orang Sumatera, ya gue harus mengenali dan mengelilingi Sumatera dululah. Ketika orang bertanya, elo orang Sumatera, apakah elo udah kenal dengan teman-teman sepulau, gue udah punya jawaban sekarang (Tertawa).

Jalur darat atau menggunakan pesawat?

Kemarin karena darat nggak memungkinkan, akhirnya gue memilih menggunakan pesawat.

Akan ada keinginan untuk menetap di Jakarta? Beberapa musisi memilih ini lho.

Gue udah feeling elo akan nanya ini (Tertawa). Menurut elo kenapa Holaspica menggunakan kata-kata ikan dan nelayan di setiap ngobrol dan di CD gue?

Apa?

Setelah gue renungi dalam ke dalam diri, ternyata gue ini ikan. Gue bisa ikan, bisa nelayan. Gue bisa pergi dan gue bisa pulang. Gue bisa pergi ke mana saja, gue lebih suka seperti itu. Jadi dengan proses yang sekarang, yang baru merilis mini album dan mengenalkan karya gue, dan lo tanya apakah gue akan hijrah ke Jakarta? Lagi-lagi gue berprinsip kayak tadi. Gue ikan, cuy. Gue harus terus berjalan. Jakarta mungkin tempat yang pas untuk gue singgahi, tapi mungkin untuk hijrah dan menetap, sampai sekarang gue belum ada keinginan untuk itu.

 

Teks dan wawancara: Rio Jo Werry
Foto: Dok. Holaspica/ Yose Riandi (Foto live)

Efek Rumah Kaca Bawakan Ulang Lagu Candra Darusman

Candra Darusman, Signature Music Indonesia dan demajors merilis album kompilasi yang menampilkan karya-karya Candra Darusman: seorang musisi, pencipta lagu, penyanyi dan pemerhati hak cipta Indonesia. Kompilasi ini mengedepankan Efek Rumah...

Keep Reading

Ketika BLCKHWK Gambarkan Sisi Alami Sifat Manusia

Di awal tahun 2022 ini, BLCKHWK telah melepas album debutnya bertajuk Decomposing Rotting Flesh. Untuk memperpanjang nafas album, baru-baru ini unit yang dihuni oleh Arison Manalu (vokal),  Billy Rizki (gitar),...

Keep Reading

Karya Baru dan Rangkaian Tur Musik Isman Saurus

Di sekitar akhir 2021 lalu, solis asal Lumajang Jawa Timur, Ismam Surus telah melepas album penuh bertajuk Orang Desa. Sebagai rangkaiannya, di tanggal 24 Maret lalu ia telah melepas sebuah...

Keep Reading

Nuansa Anime di Karya Terbaru Moon Beams

Inspirasi untuk membentuk sebuah band bisa datang darimana saja, termasuk dari sebuah  anime. Jika kalian pernah menonton anime lawas berjudul BECK tentu tak akan asing dengan original soundtrack-nya bertajuk Moon...

Keep Reading