Hikayat Post-Punk dalam Dua Album Klasik

“Kesinisan dan pekikan”, dua rupa yang sudah mandarah-daging dalam post-punk itu telah mengoyak serta merobek “nada perlawanan” yang jadi identitas punk, genre musik yang mengandungnya: di akhir 70’an, post-punk lahir dari rahim punk dan menjungkirkan “nada perlawanan” itu ke arah lebih eksperimental, yang mereka anggap sebagai pembaruan. Inilah hikayat post-punk dalam dua album klasik yang sangat berpengaruh.

Suicide – Suicide (1977)

Banyak penggemar punk yang benci grup musik Suicide. Ketika band beranggotakan duo asal Amerika Serikat, Alan Vega dan Martin Rev, itu tampil di sebuah gigs di Brussels, Belgia, pada 1978, setelah mereka melantunkan salah satu track di album Suicide, “Ghost Rider”, ramai suara ejekan dari penonton yang diarahkan pada mereka. Malah, menurut kabar yang beredar, cemoohan sebetulnya telah dilontarkan sebelum mereka naik ke atas panggung. Usai memainkan “Rocket U.S.A”, track kedua album Suicide, penonton kembali berteriak mengolok-olok sambil memanggil-manggil nama “ELVIS! ELVIS!”. Elvis Costello – solois Inggris beraliran punk –, nama yang dipanggil-panggil saat itu, memang dijadwalkan tampil sesudah Suicide di panggung gigs tersebut. Cibiran penonton muncul lagi setelah Suicide menyanyikan track ketiga Suicide berjudul “Cheree” dan “Dance”, sebuah lagu dari album studio kedua mereka Suicide: Alan Vega and Martin Rev.

Ulah penonton semakin menjadi-jadi di waktu Suicide menembangkan “Frankie Teardrop”, track keenam Suicide. Bahkan, mikrofon yang dipegang Alan Vega dirampas oleh salah seorang dari mereka yang naik ke atas panggung. Tak lama kemudian, musik berhenti dan promotor datang, memberi peringatan keras jika mereka tidak mengembalikan mikrofon, pertunjukan musik tidak akan dilanjutkan. Saat sorakan tampak mereda, Vega maju ke depan panggung sembari mengumpat pada penonton. Setelah menerima mikrofon, ia meneruskan kidung “Frankie Teardrop” yang belum rampung dinyanyikan itu. Tapi, umpatan Vega sepertinya menyulut kemarahan penonton kembali. Benar saja, lagu belum selesai, gemuruh cemoohan penonton keluar lagi dan kian tak terkendali. Vega merespons. Ia berteriak: “DIAM! INI TEMBANG TENTANG FRANKIE!”. Beberapa saat kemudian, ada tepuk tangan meriah saat Suicide meninggalkan panggung.

Usut punya usut, Suicide menghentikan penampilannya lantaran hidung Vega mengalami cedera. Tulang hidungnya patah ketika insiden perampasan mikrofon. Konon, seraya merebut alat pengeras suara itu, hidung sang vokalis juga dipukul. Elvis Castello, yang tampil sesudah Suicide, hanya bernyanyi sebentar. Ia marah kepada penonton atas apa yang dialami Vega. Pertunjukan musik akhirnya dihentikan. Peristiwa unik yang menjadi bagian tur album Suicide itu kemudian diceritakan dengan rinci lewat lagu berjudul “23 Minutes Over Brussels”. Lagu ini dimasukkan dalam album Suicide saat dirilis ulang pada tahun 2000 silam.

Meski banyak iringan kontroversi, Suicide yang meluncur di tahun 1977 itu dianggap satu di antara sekian album yang paling berpengaruh dalam perkembangan berbagai genre musik, termasuk post-punk, synthpop, dan industrial punk. Jurnalis musik berpaspor Inggris Tony Fletcher bahkan menyatakan album studio pertama milik Suicide itu dapat disejajarkan dengan album penting yang dirilis band-band punk macam Horses, Ramones dan Marquee Moon. “Album yang akan dijadikan rujukan utama bagi band lain,” tulis Fletcher dalam bukunya bertahun 2009, All hopped up and ready to go: music from the streets of New York, 1927-77, itu. 

Penilaian serupa juga diutarakan New Musical Express alias NME. Beberapa waktu lalu, majalah musik Inggris itu menulis bila Suicide, bersama album yang judulnya sama dengan nama bandnya itu, bisa dibilang sebagai grup musik yang benar-benar mahir dengan post-punk bahkan sebelum genre post-punk sendiri hadir dan dikenal publik, serta yang mempengaruhi bentuk musik no-wave hingga industrial techno. Begitu pula menurut Henry Rollins. Di tahun 2017 lalu, pada sebuah channel YouTube The Sound Of Vinyl, vokalis band Black Flag dan Rollins Band itu mengatakan “Frankie Teardrop”, yang menjadi bagian album Suicide itu, merupakan lagu yang paling sering ia putar di rumahnya. 

Magazine – Real Life (1978)      

Dibentuk di Manchester oleh Howard Devoto setelah kurang-lebih setahun menjadi vokalis band punk Inggris Buzzcocks, grup musik Magazine memilih genre post-punk untuk mengarungi karier di belantara musik dunia. Magazine beranggotakan John McGeoch pada gitar dan saksofon, Barry Adamson sebagai penarik senar bass, Bob Dickinson menjadi pemain keyboard, Martin Jackson yang sebelumnya anggota band punk the Freshies diplot sebagai penggebuk drum, serta Devoto sendiri menjadi frontmannya. Band yang mengawali bermusiknya di panggung gigs di Rafters, Manchester, pada 28 Oktober 1977 itu aktif selama empat tahun hingga 1981. 

Mereka reuni kembali pada 2009 dan berakhir pada 2011 dengan personel yang masih sama kecuali John McGeoch yang telah meninggal pada 2004. Pertemuan kembali usai berpisah cukup lama itu ditandai dengan rangkaian tur di sejumlah negara Britania Raya dengan posisi McGeoch digantikan musisi multi-instrumental, Noko. Reuni mereka itu juga menghasilkan rilisan album kelima dan terakhir, No Thyself, di Oktober 2011, yang kemudian diikuti tur singkat di beberapa negara Ratu Elizabeth II itu. 

Magazine menjalani debut rekamannya lewat album studio Real Life satu tahun sesudah didirikan di tahun 1978. Sembilan lagu Real Life, semua liriknya dibuat Devoto kecuali “Parade” ditulis seorang komposer soundtrack film, Dave Formula. Pada track kesembilan itu, Dave bekerja sama dengan Barry Adamson. Di kemudian hari, Dave menggantikan peran Bob Dickinson sebagai keyboardist. Gubahan aransemen musik Real Life diciptakan melalui kombinasi tangan Devoto dan McGeoch. Real Life direkam ulang pada 2007 dengan tambahan tiga lagu lainnya, termasuk “My Mind Ain’t So Open”, “Touch and Go”, dan “Goldfinger” yang merupakan lagu versi cover milik John Barry, Leslie Bricusse, dan Anthony Newley. Sebelum didaur ulang Magazine, “Goldfinger” adalah lagu untuk soundtrack sekuel film James Bond di tahun 1964.

Real Life mendapat sambutan positif dari kritikus musik dan disebut pula jadi satu di antara album penting yang memunculkan genre post-punk. Ritme musik dengan perpaduan chord dan permainan gitar yang rumit, bisingnya suara yang padahal hanya keluar dari solo saksofon, dengung synthesizer yang diputar dan ditekan ke sana-ke mari, Real Life dianggap pula masuk ke dalam genre no-wave dan art rock bahkan ikut mengilhami perkembangan dua jenis musik yang disebut terakhir itu. Dalam reviewnya, majalah NME menilai bahwa post-punknya Real Life punya ciri yang berbeda dengan Suicidenya Suicide. Bila album yang disebut pertama lebih bernuansa humor sekaligus melodrama dan absurd, maka lirik-lirik Suicide lebih terlihat sinis. Adapun “Shot by Both Sides”, track ketiga album Real Life, kerap dicover musisi dunia, di mana Radiohead, Mansun, dan Jarvis Cocker adalah salah satunya. Malahan, pada lagu “Just” yang dirilis di 1995 oleh Radiohead, riff gitarnya dibuat sama persis dengan “Shot by Both Sides”-nya Magazine. 

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber                           
 

Video Musik Bintang Massa Aksi .Feast

Abdi Lara Insani yang merupakan single utama dari album teranyar .Feast berjudul Bintang Massa Aksi ini ternyata masih memiliki keberlanjutan dengan dirilisnya sebuah video klip resmi di kanal YouTube .Feast (22/11/22). Video klip ini melibatkan...

Keep Reading

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading