Hijab dan Musik Keras, Salah?

Apa salahnya dengan hijab yang dipakai banyak wanita saat menonton konser musik, khususnya musik keras atau metal. Selera musik setiap individu itu berbeda-beda, begitu juga dengan perempuan yang menyukai alunan musik keras, contoh besarnya datang dariku. Metal tentu saja memiliki ciri khas dengan hentakan suara drum yang begitu cepat, dan ritme yang menghadirkan rasa semangat, karena hal-hal itulah banyak orang menyukai musik metal, tak terkecuali diriku. Yap, di cerita ini aku adalah seorang wanita muslimah berhijab yang sangat cinta dengan musik metal. Tetapi, kadang kala rasa tidak percaya diri juga sering kali menghampiri karena penutup kepala yang ku pakai ini, seakan-akan semua mata tertuju pada perbedaan diriku yang menggunakan hijab, hingga di pikiranku, aku merasa salah menyukai genre musik ini. Tapi apa daya, di hatiku kecilku rasanya ingin sekali menganggukkan kepala dan gabung dengan kumpulan para pria yang sedang asik joget, moshing, dan berteriak hingga berkeringat. Waktu itu ada berita yang sempat viral karena seorang perempuan berhijab yang ikut moshing sampai digotong-gotong saking menikmati sekali alunan musik saat menonton konser band Neck Deep di Indonesia tahun 2018 lalu. Ya, opini sebagian besar orang Indonesia mengatakan bahwa itu hal yang tidak pantas apalagi dilakukan oleh perempuan berhijab.” Tuturnya.

Aku tau persis rasanya, karena terbawa suasana pasti dia melebur dengan alunan musik dan penonton lainnya, tapi hal itu yang membuatku semakin takut, seperti ayolaaahh… Apa salahnya perempuan yang menggunakan hijab asik berjoget menikmati alunan musik yang disukainya? Ada satu fase ketika diriku memutuskan untuk membuka hijab yang ku pakai, untungnya hal itu urung terjadi karena aku memahami bagaimana sulitnya keputusan seperti ini untuk diambil. Ada beberapa teman perempuan yang sepertiku di lingkungan minoritas kerap bercerita sebenarnya mereka tidak betah lagi berhijab, karena terlalu lelah dengan semua konsekuensi yang akan menyertainya. Apalagi omongan masyarakat yang tidak ada habisnya.

Kalian tahu salah satu band metal Indonesia yang personilnya menggunakan hijab? Namanya VoB (Voice of Baceprot). Band ini mematahkan stigma tentang musik metal yang hanya dikhususkan untuk gender pria, band asal Garut ini membuatku terkagum dengan pilihannya menggunakan hijab tak mengehentikan hobi dan kesukaannya, bahkan yang paling keren hal itu turut didukung oleh para orang tuanya, sama halnya dengan keputusan Tantri dari Band Kotak yang menggunakan hijab. Stigma buruk dari pengguna hijab dengan genre musik bukan hanya dari musik metal saja, para K-Popers yang mengidolakan para idol saja terkena stigma buruk. Tidak banyak masyarakat yang bilang bahwa K-Popers yang menggunakan hijab tidak pantas mengidolakan para boyband secara berlebihan, dan biasanya hal itu disangkutkan dengan agama Islam.

Sepertinya menyukai apa yang kita suka rasanya sulit jika memikirkan omongan orang lain, walaupun tidak mengganggu siapa pun. Bahkan dulu aku malu menunjukan daftar putarku kepada orang- orang, karena isinya kebanyakan musik yang biasa didengarkan oleh pria. Pengalaman buruk saat sedang menonton konser musik metal pun sering terjadi, salah satu yang paling membuat trauma adalah saat di suatu gelaran ada banyak penonton (baik itu pria ataupun wanita) yang terus menerus memandangiku dengan pandangan anehnya, hanya karena aku memakain hijab. Yang paling bikin kesal lagi adalah, mereka-mereka ini sering cat calling dengan menggunakan salam secara Islami. Memang itu tidak masalah, tapi seakan-akan aku paling agamais di tempat itu. Bahkan untuk menganggukkan kepala dan menikmati musiknya saja aku merasa tidak nyaman. Berbicara soal hijab tidak akan lepas dari agama Islam dan masyarakat yang menjadikan hijab sebagai norma dan kontrol sosial perempuan, penggunaan hijab selalu dilekatkan dengan perilaku baik, patuh, pasif, sepeti yang biasa ditampilkan dari media televisi atau media sosial.

Jika kalian pernah menonton film “Taqwacores” di sana ada satu tokoh perempuan yang menggunakan hijab hingga niqab atau cadar tetapi dipadu padankan dengan atribut bordiran metal, dari film itu juga menunjukkan bahwa stigma buruk yang dirasakan perempuan yang menyukai musik metal bukan hanya di dalam negeri tetapi terjadi juga di luar negeri. Hal ini terjadi karena kultur dari orangtua kita yang menerapkan Islamisasi sejak dini tetapi tidak menerapkan norma gender dalam pola pengasuhan, sehingga menjadi terkotak-kotakan antara pilihan penggunaan hijab dengan musik keras yang biasa disukai gender pria. Padahal seluruh genre musik berhak dinikmati oleh seluruh gender di dunia.

Aku jadi ingat salah satu pepatah soal Toleransi, bunyinya seperti ini;  

“Toleransi menjadi sulit ketika orang lupa bahwa beragama itu untuk mengatur diri sendiri, bukan mengatur orang lain.”

Yaap, terkadang orang-orang lebih sibuk melihat orang lain daripada melihat dirinya sendiri, aku yakin banyak perempuan berhijab yang merasa seperti diriku, bahkan banyak kasus para perempuan mendapatkan perilaku tidak menyenangkan di konser musik. Banyak perempuan walaupun pakaian tertutup ataupun terbuka, hal itu sama saja bagi para pelaku pelecehan seksual. Perempuan seakan sulit mendapatkan kenyamanan, event di tempat yang ramai seperti saat nonton konser musik. Kami hanya ingin bersenang-senang saja selalu ada kesempatan untuk para pelaku untuk melakukan hal bejat itu.

Untuk para kalian yang membaca tulisan ini, ayolah biarkan kami perempuan merasa aman dan bebas dari perasaan ga pede saat kami menonton, di tulisan ini aku juga berharap, untuk kalian para perempuan berhijab tidak perlu merasa khawatir dengan genre musik yang kalian suka, walaupun kita memilih untuk berhijab hal itu tidak ada kaitannya dengan musik yang kita suka, rangkul kami dan bernyanyi bersama di konser musik metal.

Teks: Novi Anggraeni
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading

Mocca Gelar Konser di Metaverse

Di ranah musik, kini istilah blockchain bukan lagi suatu hal yang asing. Sebelumnya, penjualan karya lewat NFT sudah banyak dilakukan oleh musisi, kini konser musik di metaverse pun menjadi salah...

Keep Reading