Helarfest 2020 Kembali Digelar Selama 2 bulan

Bandung, dengan semua keindahan alamnya, juga menghasilkan bibit-bibit unggul di bidang industri kreatif. Hal ini pun sudah diiyakan oleh banyak pihak di luar kota ini. Semua hal bisa ditemukan di sini, tempat produksi pakaian ada, percetakan offset maupun digital jumlahnya tumpah ruah, apalagi bila membahas soal musik, di sinilah kiblat orang banyak. Lengkap, fashion, musik, advertising, semua ada di Bandung. Salah satu geliat yang rajin diadakan di Bandung adalah Helarfest. Gelaran ini pertama kali diselenggarakan di tahun 2008. Alasan dibuatnya Helarfest pun untuk menjadi wadah bagi para komunitas mandiri agar bisa saling berjejaring dan juga mengekspresikan eksistensi dan potensinya sebagai pemberi makna pada dinamika dan perkembangan kota, dalam sebuah event kolektif. Lalu, dalma perkembangannya, Helarfest pun berkembang menjadi sebuah nama baru yaitu Bandung Creative City Forum (BCCF), dan menjadi salah satu program penting bagi BCFF bersama dengan tiga program lainnya, yaitu Simpul Institute, Kampung Kreatif, dan DesignAction.bdg. 

Dalam edisi pertamanya, Helarfest menghadirkan setidaknya 31 event selama Bulan Agustus 2008, kemudian di tahun 2009 Helarfest menampilkan 67 event selama 2,5 bulan. Helarfest tahun 2012 mengambil 4 tema besar berdasarkan elemen khas Kota Bandung, yang masing-masing diintervensi oleh beragam komunitas, yaitu hutan (Lightchestra), kampung (Festival Kampung Kreatif), taman (Ulin.bdg), dan sungai (Cikapundung River Cinema). Helarfest tahun 2015 mengambil momentum peringatan Konperensi Asia Afrika ke-60, berbarengan dengan diselenggarakannya Creative Cities Conference yang menginisiasi terbentuknya Indonesia Creative Cities Network (ICCN) melalui deklarasi 10 Prinsip Kota Kreatif. 

Tahun 2020 ini, Helarfest akan diselenggarakan kembali dengan format hybrid daring dan luring, dengan tujuan menyampaikan pesan utama bahwa potensi kreativitas, ekspresi budaya, serta kekuatan jejaring dapat menjadi solusi strategis bagi kondisi masa kini, sekaligus adaptasi bagi masa depan yang berkelanjutan. Penyelenggaraan Helarfest 2020 antara tanggal 10 Oktober s.d. 27 November 2020 ini akan melibatkan ratusan pelaku ekonomi kreatif di Bandung beserta jejaringnya, dihadiri sekitar 10.000 audiences di platform daring dan luring. Helarfest 2020 dapat disaksikan melalui helarfest.id.

Tema besar Helarfest 2020 adalah CUREyourCITY, merepresentasikan semangat keingintahuan, sekaligus mencari cara untuk tetap berekspresi dan berkarya dalam masa adaptasi dengan kondisi dan tantangan baru. Helarfest 2020 akan dibuka pada Pecha Kucha Bandung Vol. 25, yang akan digelar pada hari Sabtu, 10 Oktober 2020, 14.15 melalui website helarfest.id. Pecha Kucha Bandung Vol. 25 akan menghadirkan 20 komunitas dengan masing-masing 20 slide x 20 detik yang akan mempresentasikan kegiatannya dalam rangkaian Helarfest 2020.

Pecha Kucha adalah format presentasi sederhana di mana Anda hanya menggunakan 20 slide dan masing-masing slide hanya ditampilkan selama 20 detik. Setelah dua puluh detik slide akan berpindah otomatis. Jadi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu sesi presentasi adalah 6 menit 40 detik. Metode presentasi atau format presentasi Pecha Kucha ini dibuat oleh Astrid Klein dan Mark Dytham. Presentasi Pecha Kucha pertama kali diadakan di Tokyo pada bulan februari 2003. Seiring dengan berjalannya waktu metode presentasi Pecha Kucha ini berkembang cukup pesat. Sampai saat ini Pecha Kucha sudah dilakukan di hampir 500 kota di seluruh dunia, termasuk di Indonesia antara lain ada Pecha Kucha Jakarta, Pecha Kucha Bandung dan Pecha Kucha Jogja.

Helarfest 2020 juga akan menjadi salah satu langkah komunitas kreatif dalam menyambut berbagai momentum mendatang, antara lain: 

  • Menjelang disahkannya Perda Ekonomi Kreatif Kota Bandung 
  • Ditetapkannya 2021 sebagai The International Year of Creative 
  • Economy for Sustainable Development oleh PBB 
  • Terselenggaranya World Conference of Creative Economy yang 
  • diinisiasi di Indonesia 
  • Diterimanya Rekomendasi Kebijakan mengenai Inclusive 
  • Creative Economy and The Future of Work oleh komunike U20 (kelompok kerja dalam G20) 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi laman berikut:

Website : helarfest.id / Instagram : @bccfbdg

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Bandung Creative City Forum

Cerita Iblis dan Manusia di Album Kedua Parakuat

Ranah musik elektronik di Indonesia selalu menarik untuk di simak, terlebih geliatnya di arus pinggir. Banyak seniman bunyi muncul dengan coraknya sendiri dan membawa hasil eksperimentasinya masing-masing. Ranah ini terus...

Keep Reading

The Jansen Persembahkan Album Ketiga

Usai melepas nomor “Mereguk Anti Depresan Lagi” yang cukup mencuri perhatian, The Jansen, trio punk rock dari kota hujan Bogor akhirnya meluncurkan album ketiganya bertajuk “Banal Semakin Binal” (29/7) dalam...

Keep Reading

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading