Gustra Adnyana: Bali Bukan Hanya Sebatas Pariwisata

Tidak ada yang menyenangkan dari adanya wabah covid-19 di tahun ini. Semua orang bersedih dan menjadi susah atas akibat yang ditimbulkan. Dampaknya pun tak main-main, semua sektor dilibas tanpa pandang bulu. Banyak usaha yang dengan terpaksa tutup, banyak orang yang dengan bersedih hati terpaksa merubah kebiasaannya. Duka saat ini adalah milik kita semua. Seperti kebanyakan tempat di berbagai belahan dunia manapun, Bali juga ikut terdampak. Pulau yang sangat terkenal sekali akan daya tarik pariwisatanya ini juga sedang mengalami masa-masa menghadapi tantangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Industri pariwisata dan kreatif di sana yang kebanyakan sedang berkembang pun terkena imbasnya.

Dari kejadian yang ada, Yayasan Mudra Swari Saraswati (sebuah yayasan nirlaba independen di Ubud, Bali) hadir untuk kembali memberikan inspirasi, menjalin kembali jaringan yang ada, serta merevitalisasai perekonomian dan masyarakat yang ada dengan meluncurkan sebuah program bernama “Kembali 2020: A Rebuild Bali Festival  (KEMBALI20)” yang dijadwalkan akan dihelat pada 29 Oktober hingga 8 November 2020. 

“KEMBALI20” adalah festival sastra, kuliner, seni, dan budaya, yang menyatukan elemen-elemen paling sukses dari UWRF dan UFF. KEMBALI20 akan menjadi perayaan terpenting tahun ini dari seni kreatif dan kekayaan kuliner Indonesia, pilar ketahanan dan kelangsungan hidup manusia. Dalam festival ini, mereka akan menyajikan program-program yang berfokus pada jajaran figur-figur terbaik di industri seni kreatif, dari sastra hingga film, desain, fesyen dan jurnalisme, serta mereka yang berkecimpung di dunia kuliner. Dari Sabang hingga Merauke, Singapura hingga Meksiko, semua acaranya dapat diakses oleh para pengunjung Festival di Indonesia dan negara-negara lainnya di seluruh dunia melalui beragam sesi berbasis donasi. 

Diskusi, lokakarya, peluncuran buku, pembacaan puisi,  dan pemutaran film akan dihadirkan dalam bentuk digital. Beberapa program di lapangan akan dipersiapkan untuk audiens lokal dengan batasan tertentu, mengikuti semua prosedur standar keselamatan COVID-19 yang diwajibkan oleh pemerintah.  KEMBALI 2020 akan menjadi tempat di mana para pencinta sastra, seni, kuliner, dan budaya dapat saling berdiskusi mengenai inspirasi, ide, dan hal-hal yang diperhatikan bersama, dengan Festival daring yang dapat melampaui batas budaya dan geografis untuk menciptakan komunitas yang benar-benar global.

Untuk merayakan KEMBALI 2020: A Rebuild Bali Festival, kami ngobrol panjang lebar bersama program manager dari festival ini. Dia adalah Gustra Adnyana, seorang pegiat kolektif dan juga fotografi. Bagaimana perhelatan ini digelar dengan sesuatu yang beda di tahun ini? Simak obrolannya di bawah.

Halo Bli Gustra, apa kabar? Semoga sehat selalu dan lancar festivalnya. Oh ya ini adalah bentuk baru dari dua buah festival yang digabung menjadi satu. Program baru apa yang ditawarkan?

Kalo orang bilang kan Bali mati banget nih pariwisatanya. Terus akhirnya kita punya satu program, baru tahun ini sih kita buat tentang ‘Stories from the Field’, itu cerita tentang bahwa Bali itu bukan hanya Ubud, Kute, Seminyak, atau Canggu, tapi jauh dari pada itu ada loh Bali yang mereka itu tidak tergantung dengan pariwisata. Kita buat ceritanya kayak dari Bali Utara bener-bener masyarakatnya mengandalkan dari pertanian. Terus banyak banget cerita-cerita tentang yang orang belum tahu, misalnya kemarin kita mengunjungi salah satu dari lima desa yang ada di kabupaten Singaraja. Lima desa ini dikenal sebagai Desa Bali Agraria, dimana masyarakatnya adalah Bali asli. Karena mereka yang lima desa ini dikenal dengan panca desa atau lima desa yang memiliki masing-masing bahasa yang berbeda. Jadi mereka adalah orang Bali yang memang sudah ada di sini sebelum bali bali yang lain gitu. Jadi cerita-cerita itu yang kita lihatin kalo Bali tuh masih punya kepercayaan-kepercayaan Hindu tapi bukan Hindu Bali yang seperti masyarakat lainnya. Mereka masih bisa hidup sampai sekarang dengan menggantungkan hidupnya mereka dengan membuat gula aren.

Selain itu juga dengan adanya virtual ini tidak ada batasan, maksudnya tak ada batasan adalah kita masih bisa untuk berkomunikasi dengan banyak orang. Makanya kemarin program kita akhirnya sama dengan program offline. Sampai nama-nama besarpun gampang untuk kita kontak tanpa harus mereka datang ke Bali, misalnya minta waktu sampai satu setengah jam gitu untuk diskusi, dan itu menarik. Cuman memang banyak yang sangat menyayangkan karena online, karena tidak dapat merasakan bagaimana bertemu dengan idola-idola mereka di Ubud gitu.

Iya sih itu ya yang jadi salah satu tantangan terbesar ketika sebuah event digelar secara online

Iya, makanya kita masih tetep ngadain kayak musik, terus art program kita juga ada, menampilkan kolaborasi-kolaborasi yang memang kita buat sendiri. Sebenarnya kita juga baru baru belajar sih, ini adalah event yang jadinya berbeda gitu, jadi beneran masuk ke digital gitu, caranya komunikasi juga beda, perbedaan waktu juga beda. Sampai jadinya jam kerjapun kayak 24 jam bahkan karena perbedaan waktu itu tadi. Menarik sih.

Untuk persiapannya sendiri sudah dimulai dari kapan?

Menariknya adalah kita tuh dari awal pandemi kan yang Ubud Writers and Readers Festival yang bulan Maret-April itu ketika dibatalkan kita mencoba mencari ide apa yang akan kita buat. Awalnya tim itu sempat “ayo kita buat yang kecil-kecilan aja dulu tetep offline dan ngundang orang nanti kita siarin gitu,” tapi ternyata angka pasien covid sangat tinggi gitu kan, makin parah malah, jadi gak bisa. Padahal waktu itu kita udah mikirin “oh ini saatnya membuat event kecil tapi benar-benar dipikirin, benar-benar kayak jalanin protokol kesehatan, dan lain lain.” Terus programnya beneran gimana audience-nya sedikit tetapi bener-bener intimate gitu, coba kita buat yang beda gitu awalnya ternyata hal itu tidak bisa kita lakukan. Terus kita mencoba virtual, waktu itu awalnya kita gak berani virtual gara-gara kan banyak banget, semua orang virtual gitu kan. Jadi formatnya tuh kita godog banget sampai akhirnya kita memutuskan membuat Kembali20 ini adalah berarti bulan Agustus. Jadi dari tim program hanya punya waktu satu bulan.

Dikebut berarti ya?

Dikebut habis-habisan. Jadi beneran kayak sistem kebut semalam gitu hahaha

Jadi emang kita sebelumnya udah punya koneksi. Di awal tahun (2020, red) sebenarnya kita sudah mempersiapkan siapa yang akan diundang, topiknya apa, temanya apa, tapi itu akhirnya tidak bisa kita pakai karena sistemnya adalah offline gitu. Tapi setelah kita online dan virtual dan kita bilang bahwa Ubud Writers and Readers and Festival diadakan virtual banyak yang merespon kayak “saya ingin tampil” jadi banyak banget kita dapat dukungan dari temen-temen seniman, penulis gitu. Terutama juga banyak kerjasama dari festival-festival di luar yang mau membantu kita.

Para pengisi di Kembali20 ini apakah memang sama dengan para pengisi yang semula direncanakan untuk Ubud Writers and Readers Festival yang akahirnya terpaksa dibatalkan ataukah beda?

Untuk Ubud Writers and Readers Festival itu kemarin kita baru masuk tahap kurasi saja. Karena kan di awal tahun memang banyak banget masuk penulis-penulis, tapi kita baru masuk tahap kurasi. Jadi beda sih. Yang Kembali ini kita baru bener-bener putusin pas yang sebulan itu (Agustus) dengan secepat kilat itu kita coba kontak semuanya dan dengan adanya virtual memang jadinya  konfirmasi bisa lebih cepat gitu.

Termasuk menghubungi David Byrne ya? Sepertinya beliau ini pembicara yang paling ditunggu oleh audience di Kembali20 ini

Iya, sampai dari kita mengundang seorang musisi kayak David Byrne itu hal yang tidak mungkin awalnya kan, dan itu tuh kita juga deg-degan sih diawal kayak “nih coba (hubungi) siapa tahu dia mau” gitu kan. oh ternyata dari si asistennya tuh merespon. Dan dia tuh (David Byrne) orangnya humble dan baik banget.

Kalau proses kurasinya sendiri seperti apa di Kembali20 ini?

Kalau di Kembali20 ini proses kurasinya agak berbeda dengan Ubud Writers and Readers Festival. Karena biasanya kan kita kalau untuk UWRF selalu ada tim tambahan gitu kan karena programnya sangat besar dan venue-nya pun sangat banyak, bahkan ada program di luar Bali. Sedangkan di Kembali20 dengan adanya virtual ini tim-nya tuh hanya sebelas atau dua belas orang gitu. Untuk tim program saja ada 2 orang.

Kembali 2020 juga membuka donasi ya?

Karena Kembali20 ini adalah festival dimana biasanya kan kita jualan tiket gitu kan untuk program utamanya tapi sisanya free. Kalau yang ini kita ‘oke by donation’ gitu, siapapun yang ingin melihat program utamanya kita tuh bisa donasi gitu, terus kita juga mengirim undangannya tuh beneran kita sebar ke link kita semua yang pernah datang, yang belum pernah datang, yang ingin kita datangin di awal itu kita list semuanya kita kirim undangan bahwa kita membuat namanya’Kembali 2020: A Rebuild Bali Festival’ dimana adalah festival untuk penggalangan dana yang nanti akan disalurkan ke yayasan yang fokus membantu anak-anak HIV, yayasan yang fokus membantu komunitas LGBT, yayasan yang fokus membantu anak-anak jalanan, terus untuk salah satu hutan di Kalimantan melalui Friend of the National Park Fondation (FNPF). Jadi banyak yang responnya sangat positif kayak “oh yaudah saya mau bicara”, jadi tiba-tiba list-nya banyak gitu, ada sekitar 140 lebih gitu totalnya. Kemarin juga kayak Gramedia, dari seniman-seniman, terus dari Sun Eater juga sangat mendukung.

Adakah pencapaian tertentu  dengan diselenggarakannya Kembali20 ini?

Hal yang pengen kita capai sih yang titik awalnya bahwa kami ingin membuktikan bahwa dengan adanya pandemi di tahun ini kami itu bisa tetep terus lanjut jalan dan tidak patah semangat, membuktikan bahwa Yayasan Mudra Swari Saraswati masih bisa membantu sesama, masih bisa peduli dengan para seniman, penulis, dan memberikan kesempatan mereka juga untuk tampil, untuk meluncurkan buku. Jadi kan tujuan kita adalah mempromosikan mereka gitu,  termasuk juga dari awal memang yayasan kita ini pada festival ini menjadikan sebagai jembatan antara budaya asing dengan budaya di Indonesia. Kan itu memang sangat susah dari  awal  karena di sisi lain beberapa orang mengatakan bahwa festival kami adalah festival ‘bule’  gitu kan, tapi sebenarnya kami menjembatani hal itu. Jadi bahwa festival kami mempromosikan budaya daerah, seniman, dan penulis juga untuk go internasional, jadi sebenarnya kami masih ingin menjembatani hal itu. Makanya  pembicara di Kembali 2020 ini sekarang lebih beragam, seniman kami masukin lebih banyak, anak mudanya kami masukin lebih banyak  juga, dan dengan adanya digital itu membuat jangkauannya lebih luas lagi. Bukan audience yang sering datang kesini aja.

                     

Kembali20 ini kan gabungan 2 festival ya –Ubud Writers & Readers Festival dan Ubud Food Festival. Nah itu tantangannya kayak gimana sih menggabungkan dua festival menjadi satu?

Kalo dari saya memang di awal-awal sebelum ada Ubud Food Festival sendiri memang dulu tuh di Ubud Writers and Readers Fetival ada program culinary. Ketika ada Ubud Food Festival program itu diubah menjadi Food Festival yang lebih besar, dan Ubud Writers and Readers Festival gitu. Tantangan kemarin adalah ketika membuat  food festival menjadi virtual itu yang sempet bikin kami berpikir banyak, karena kan kalo ngomongin makanan tentu saja ada bau, rasa, dan tentu memunculkan rasa lapar gitu. Jadi kami mengontak beberapa chef yang pernah bekerjasama dengan kami, termasuk kemarin kita mengadakan virtual cooking bersama ibu Susi Pudjiastuti dan nanti juga tanggal 7 kita akan ada sama Kaka Slank, kita akan ada masak ala vegetarian gitu.Tantangan utamanya adalah karena audience tidak merasakan bau ya jadi bagaimana caranya agar interaktif itu masih tetap ada.

Yayasan Mudra Swari Saraswati ini kan dibentuk untuk merangkul kebutuhan kreatif yang ada di Indonesia, terkhusus Bali. Saat ini sudah sejauh mana festival ini merangkul industri kreatif di sana?            

Selama ini sih karena saya juga kebetulan di yayasan aktif di bagian community program juga, jadi kalau dari kami memang seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa kita selalu bilang bahwa ‘kita adalah jembatan’. Untuk kebutuhan festival, dengan program kami misalkannya program penulis muda yang kita seleksi setiap tahun, penulis-penulis muda ini kita seleksi dari sekian ratus yang mengirimkan karya-karyanya untuk kita seleksi dan kita hadirkan di Ubud dan untuk bertemu dengan orang-orang kita hadirkan, entah itu penerbit atau apa. Terus karena kita juga punya link dan kita selalu bekerja sama dengan festival-festival di luar,  kita selalu berupaya bagaimana agar adanya pertukaran seniman atau pertukaran penulis. Itu yang sering kita lakukan. Sama Australia (pertukaran) yang sering kita lakukan, karena memang paling dekat dan memang banyak sekali festival yang ada di sana.

Terus yang untuk kuliner memang kita selalu ingin mempromosikan kuliner-kuliner yang ada di Indonesia. Kita sering bekerjasama dengan pemerintah-pemerintah dari kota lain, karena menurut mereka Bali adalah pintu promosi yang sangat  hebat, jadi kita selalu bekerjasama dengan mereka dan mendatangkan mereka ke Bali dengan audience kita yang beraneka ragam jadi mereka (audience) tahu ada Ternate, di Semarang ternyata menarik, di Aceh juga makanannya luar biasa.

Di Indonesia sendiri setiap hari banyak banget penulis-penulis muda yang muncul ke permukaan, terus ada pertanyaan bagaimana sih caranya biar karya mereka tuh bisa ditampilkan di Ubud Writers and Readers Festival?

Untuk itu kita selalu setiap tahun mengadakan seleksi penulis emerging Indonesia yang selalu kami adakan di  awal tahun, itu adalah salah satu jalan yang bisa dilakukan dan hal itu tuh sangat ada proses karena ada free kurasi dan ada  kurasi dimana kurator yang kami undang adalah selalu berubah-ubah setiap tahun, jadi orang tidak tahu siapa kurator tahun ini, jadi itu membuat karya-karya yang masuk dikurasi oleh orang yang berbeda. Itu salah satunya. Yang kedua adalah kami selalu memberikan peluang kepada orang-orang yang ingin meluncurkan bukunya di Ubud Writers and Readers Festival, itu pun dikurasi oleh tim program sendiri, karena dengan diluncurkan di sini tentu audience-nya sangat berbeda sekali. Itu dua hal yang biasa kita lakukan.

Tapi yang paling spesial adalah seleksi penulis emerging Indonesia, tahun kemarin kita pilih 5 penulis tapi tahun sebelum-sebelumnya kita pilih sampai 15 orang. Yang dipilih pun harus kita harus beragam, dari seluruh Indonesia mewakili Indonesia Tengah, Timur, dan Barat, dan itu pun mereka nanti harus datang ke Ubud, mereka juga harus tampil dengan penulis-penulis besar sebagai pelatihan yang di mana nanti penulis-penulis ini akan kami persiapkan karya-karyanya untuk kami terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Kami konsen banget dengan terjemahan karena itu adalah satu-satunya jalan cerita-cerita penulis Indonesia untuk bisa dinikmati oleh dunia. Kalo di Indonesia sendiri banyak banget curhatan dari teman-teman, misal “kalo gak di Jakarta kita nggak bisa nih jadi penulis” gitu. Makanya dengan bekerjasama dengan penerbit-peerbit kecil dan komunitas-komunitas itu kami selalu mengirimkan informasi untuk seleksi. Itu yang kami utamakan.  

Teks dan Interview: Adjust Purwatama dan Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Yayasan Muda Swari Saraswati

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading