Goethe-Institut Indonesien Hadirkan Konferensi Tentang Privasi Data

Seperti yang telah dikabarkan beberapa waktu lalu, bahwa Goethe-Institut Indonesien kini beralih ke jalur digital dalam menghadirkan beberapa acara budaya pilihan. Hal ini menyusul penutupan sementara fasilitasnya di Jakarta dan Bandung akibat pandemi COVID-19. Program pertama dan kedua telah sukses digelar beberapa waktu lalu, kini tiba untuk program Digital Discourses yang akan dilaksanakan pada 25 April mendatang. Program ini merupakan sebuah rangkaian konferensi yang mencoba untuk mencari tahu berbagai dampak transformasi digital terhadap masyarakat, perekonomian, dan lingkungan hidup. Konferensi daring yang akan disiarkan di kanal YouTube Goethe-Institut Indonesien ini akan berfokus pada pembahasan privasi dan proteksi data di zaman kapitalisme data seperti sekarang ini,

Bersama para mitranya, yaitu Center for Digital Society (CfDS), ICT Watch, dan Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat (ELSAM), akan menampilkan beberapa pakar dari Asia Tenggara dan Jerman dalam sesi kali ini. Pembahasan nantinya juga akan menelaah berbagai hubungan antara privasi dan hasrat seseorang untuk melakukan komunikasi, belanja dan mengakses layanan tanpa hambatan. Konferensi daring ini dibuat tentunya dengan tujuan agar orang-orang sadar betul akan pentingnya literasi di lingkungan perorangan yang terhubung dengan privasi suatu data pribadi, dan juga tentang sebuah pentinya regulasi efektif yang harus dicanangkan dan dikeluarkan oleh pemerintah.

“Persoalan privasi data semakin mengkhawatirkan dan menjadi topik pembahasan di seluruh dunia. Edisi terbaru Digital Discourses ini bermaksud memicu perdebatan di Indonesia seputar pentingnya menghormati dan melindungi informasi pribadi,” ujar Dr. Stefan Dreyer (Direktur Goethe-Institut Indonesien).

Program ini nantinya akan terdiri dari dua sesi yaitu; nilai komersial dan politik data pengguna. Dan konsep serta regulasi privasi data. Di antara para pembicara yang tampil dalam program ini akan ada Michael Seemann (penulis buku asal Jerman berjudul Digital Tailspin–10 Rules for the Internet after Snowden) yang akan memberitahu mengenai keynote tentang lima pertanyaan merisaukan yang menyangkut kapitalisme digital. Pada sesi pertama akan hadir enam orang pemateri yang akan membahas dan membedah bagaimana persoalan privasi data ini sangatlah penting. Mereka adalah;

Sesi Pertama

  • Katharina Nocun (seorang aktivis hak asasi manusia dan juga ahli ekonomi dari Jerman)  yang dikenal tentang pergerakannya memimpin kampanye berskala nasional mengenai perlindungan data, akan berbicara tentang bagaimana pengumpulan data oleh pihak pemerintah dan dunia usaha.
  • Alia Y. Karunian (peneliti di ELSAM) yang akan membawakan tentang media sosial dan iklan politik di Indonesia.
  • Jun-E Tan (peneliti independen yang berbasis di Malaysia) yang akan memaparkan dampak kecerdasan buatan terhadap hak asasi manusia.

Sesi Kedua

  • Sutawan Chanprasert (pendiri organisasi hak asasi manusia DigitalReach yang berbasis di Bangkok) akan memberikan ikhtisar seputar tema perlindungan data pribadi dan privasi di Asia Tenggara.
  • Tony Seno Hartono (profesional di bidang TIK) akan berbicara mengenai kedaulatan data dan membahas apakah penting di mana data kita disimpan.
  • Wahyudi Djafar (peneliti di ELSAM) akan berbicara mengenai undang-undang regulasi data di Indonesia.
  • Ingo Dachwitz (ahli ilmu komunikasi dan editor portal berita daring Jerman netzpolitik.org) akan menyajikan pendekatan Eropa terhadap regulasi data.

Banyak bagian kehidupan kita terekam dalam jejak data yang kita tinggalkan di internet. Siapa yang melacak data itu dan bagaimana data tersebut dimonetisasi? Berapa nilai data ini? Apakah kita dirugikan ketika kita menukar data kita secara cuma-cuma demi memperoleh layanan digital dan kemudahan di internet? Ataukah lebih baik kalau dunia pascaprivasi kita terima saja?. Simak semua jawabannya hanya di Digital Discourses persembahan Goethe-Institut Indonesien.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Goethe-Institut Indonesien

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading

Meramu Crossover Hardcore Ke Tahap Terbaru

Dari Sidoarjo, unit Crossover Hardcore yang tergabung dalam Voorstad akhirnya merilis mini album terbaru dengan tajuk Self-titled melalui label Greedy Dust Records. Ini merupakan rilisan kedua Voorstad setelah pada awal...

Keep Reading

Penegasan Warna Terbaru I Punch Werewolf

Penegasan eksistensi I Punch Werewolf melalui video klip lagu terbaru dengan judul Broken. Unit ini terus menggebrak kancah musik dengan beragam rilisannya. Untuk lagu ini sendiri dibuat lebih mengayun, namun...

Keep Reading