Siapa bilang regenerasi musik di kota ini tidak ada? sebaliknya, regenerasi musik di Medan terus muncul dan tumbuh berkembang. Meski diterpa masalah inkonsistensi, namun tak sedikit dari mereka yang mampu menampar para poser yang hanya ngeband agar dibilang keren. Terhitung dari 2016 hingga 2018, nama-nama seperti Garside, Eleanor Whisper, Swurf dan Moongazing and Her sudah terlebih dulu memberi pembuktian. Kalau mereka bukanlah generasi abal-abal. Dengan merilis album, lalu melakukan tur hingga berhasil tampil di beberapa festival ternama, adalah beberapa bukti yang dihasilkan dari mereka.

Selain beberapa nama yang telah dijelaskan di atas, ada juga dari ranah metal. Mereka adalah Gumarapus dan Arcas. Dalam catatan pengkaryaan, keduanya memang belum memiliki rilisan album fisik, namun dari mereka, semangat ekosistem musik metal yang sempat mati suri dapat tumbuh kembali. Tak cukup sampai disitu, tahun ini rasanya tongkat estafet dari yang ada sebelumnya dilanjutkan dengan sangat baik. Sebut saja Caveman (unit power violence) yang rasanya cukup mengajarkan bagaimana tak ada kata basa-basi dalam berkarya.

Meski beberapa personilnya datang dari band yang berbeda namun mereka mampu keluar dari zona nyamannya. Membentuk sebuah band baru, tampil di beberapa gigs, rekaman, merilis single dan akhirnya mengeluarkan mini album dibawah bendera UD Contra. Saat ini Caveman sedang sibuk bermain di gigs-gigs yang ada di dalam kota,  sambil mempersipakan materi terbaru untuk full album dan berencana merilis split bersama salah satu band dari jakarta.

Selain Caveman, ada juga beberapa nama yang hadir dari label Nomads Record. Mereka yang baru saja muncul namun langsung memberikan kejutan, mereka adalah  Pesawat Sederhana dan Apricot. Keduanya sukses merilis sebuah mini album, lalu melanjutkan sebuah split tour ke 6 kota di pulau Jawa. Meski diisi oleh personil yang masih sangat belia, istlah umur hanyalah angka rasanya pantas di tujukan kepada mereka yang berani menunjukkan sebuah pembuktian, yaitu dalam berkarya, kita hanya perlu tetap konsisten sembari menambah referensi agar tidak jatuh membosankan dan monoton.

Di tahun ini, para solois juga mampu memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kancah musik di Medan. Contohnya adalah Nartok dan Diko Saragih. Untuk Nartok sendiri, ia selalu sukses mendapatkan respon positif di setiap dirinya merilis sesuatu. Dibalik sesuatu yang positif, pasti ada karya apik yang dikemas dengan sangat menarik. Itulah yang dihadirkan olehnya. Lalu, untuk Diko Saragih, dia adalah seorang  penyanyi pop multitalenta yang mampu mengaransamen dan menulis lirik bernuansa cinta dengan sangat puitis. Hal seperti ini tentu saja bisa menjadi idola bagi para kaum hawa yang masih remaja.

Dari banyaknya musisi yang tumbuh serta menghasilkan karya-karya keren, hal tersebut sangat cukup memberikan bukti bahwa mereka tidak main-main dalam bermusik, regenerasi di kota ini terus muncul. Setidaknya, dengan hadirnya mereka yang memiliki bakat keren didalam kancah musik Medan, bisa menutup tahun ini dengan rasa bahagia.

Teks: Friend Gultom
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber