Di tahun 2016, rapper asal Papua, Joe Million merilis Vulgar, debutnya. Album itu, diproduksi bersama dengan bantuan tangan dingin nabi hip hop lokal, Senartogok. Materi-materi yang sama, juga sontak membuatnya menjadi omongan di scene hip hop lokal. Morgue Vanguard, orang super penting di scene hip hop Indonesia, bahkan langsung menempatkannya sebagai album rap terbaik tahun 2016.

Ada benang merah yang menyatukan Morgue Vanguard dan Joe Million. Mereka mencampuradukkan etos punk dan hip hop di dalam napas berkaryanya. Morgue Vanguard, hidup di hampir semua kepala orang hip hop lewat karya-karyanya bersama Homicide yang telah dimatikan satu dekade yang lalu itu. Mereka tidak pernah menolak tunduk pada keadaan yang mengelilingi. Semangat kemandirian digenggam erat menerabas banyak kemungkinan. Sementara, yang dilakukan oleh Joe Million berkelindan erat dengan kemandirian yang diwariskan oleh Homicide. Tentu, tidak bisa disamakan persis. Tapi, ada di garis yang relatif sama.

Salah satu contohnya adalah keputusan untuk berkeliling memainkan musik dan menemui banyak aktivis musik lintas genre di berbagai kota di Indonesia. Berbeda dengan kebanyakan penyanyi rap lokal, Joe Million yang kini bermukim di Sukabumi ini, melakukan hal yang dirasa jauh dari gambaran skena Hip Hop di Indonesia, tur secara mandiri. Sendirian. Ini mirip seperti apa yang lazim dilakukan banyak band di scene hardcore/ punk/ metal. Bedanya, ia seorang rapper dari scene hip hop.

Sukabumi mengambil peran penting. Dari sana, keberanian yang sekarang menjadi kebiasaan itu dimulai.

“Selama di Sukabumi saya banyak berinteraksi dengan teman-teman band. Suatu ketika Abah (pemilik Sukabumi Music Store) ingin mengadakan tur open trip bagi musisi. Sistemnya adalah Abah yang merancang perjalanan dan membuat dokumentasinya lalu dia mengontak para band. Mereka yang ikut harus membayar transport dan akomodasi masing-masing,” kenangnya.

Joe Million menjadi salah satu pengisi di Tur Kelas Bunga Matahari yang digelar 20-24 Juli 2018 di Cirebon, Bandung, Subang dan berakhir di Sukabumi.

Kelar tur, ia kemudian berdiskusi dengan Malik (Mesin Suara/Rumah Mesra) dan Allan Soebakir (Sinema Pinggiran) untuk menyelenggarakan tur secara mandiri bagi dirinya sendiri dengan jumlah kota yang lebih banyak. Dipilihlah Bombardir! sebagai nama tur ini. Bombardir! merupakan album khusus Records Store Day 2018 yang merupakan kolaborasi khususnya dengan Dangerdope. Selama bulan Agustus 2018, ia berkeliling ke sepuluh kota menjalankan tur mandiri ini, dimulai dari Sukabumi dan diakhiri di Jogjakarta.

Dari satu pengalaman, lahirlah pengalaman berikutnya. Ia mengulang formula yang dipraktekkan Abah ketika mengorganisir Tur Kelas Bunga Matahari. Dimulai dengan mengontak teman-teman band yang pernah bermain di Sukabumi untuk secara gantian mengadakan gigs bagi Joe Million di kota mereka masing-masing.

Keberadaan juru kunci kota Sukabumi, Malik, membuat semua terasa lebih mudah. Lelaki yang juga berperan sebagai road manager Joe Million, secara khusus bertugas meminta bantuan kawan-kawan di sejumlah kota untuk mengorganisir gigs di tur ini.

Tidak hanya itu, cara pengorganisiran juga dijaring lewat kenalan virtual via Instagram. Di beberapa kota yang belum punya jaringan, ia menyebar undangan terbuka untuk mengajaknya bermain di kota mereka. Gayung bersambut, tentu saja.

Dua pendekatan ini membuatnya melangsungkan tur mandiri, sesuatu yang idenya belum menyebar merata di scene hip hop lokal.

“Jadi daripada menunggu sukses dulu, saya memilih untuk mengejar sendiri tur ini dan mengadakannya dengan gaya punk yang terbukti oleh sudah berhasil selama puluhan tahun,” lanjutnya.

Di sepanjang perjalanan, ia juga berhasil membuka jaringan baru sekaligus mengajak sejumlah talenta dari kota-kota yang dikunjungi untuk sekalian naik panggung. “Sebagian besar kontak yang saya hubungi secara otomatis akan menawarkan untuk menambah jumlah performer lokal. Hal ini sangat membantu karena di beberapa kota tersebut saya tidak mempunyai kenalan. Namun khusus untuk Jakarta karena saya sudah punya banyak teman maka saya menghubungi mereka semua untuk ikut memeriahkan gigs di Jakarta. Total ada 14 performer di Jakarta,” ungkapnya.

Ketika dirunut, setidaknya ada empat tips yang bisa dijalani dari pengalaman Joe Million mengorganisir tur mandiri.

“Yang pertama adalah terbuka tentang rencana kamu ke semua teman-teman karena merekalah yang akan membantu, kedua pilih kota dan tentukan tanggal yang realistis yang sesuai dengan budget dan kesiapan tempat mengadakan gigs, ketiga terbuka dengan saran dari berbagai pihak dan utamakan selalu keberhasilan tur dibanding ego pribadi, keempat galang dana dengan menjual rilisan atau merchandise yang ongkos produksinya murah dan profit besar,” repetnya.

Faktor yang terakhir membuatnya harus berhitung dengan cermat. Di ujung cerita, dengan kreativitas yang terus bergulir sepanjang perjalanan, ia berhasil menjual sekitar 100 cd dan 45-an kaos. Plus, ada beberapa pertunjukan di mana ia mendapatkan honorarium dan pembagian dari penjualan tiket. Memutar otak, adalah suatu keharusan ketika memutuskan untuk mandiri dalam perkara mengorganisir tur.

“Sebagai musisi kita dituntut untuk kreatif. Terus memikirkan tontonan apa yang menarik untuk disuguhkan ke khalayak. Menurut saya, pasar rela membayar suatu penampilan jika memang penampilan tersebut menghibur dan memiliki standar yang baik. Kita sebagai musisi harus berani untuk mengadakan acara semacam ini (yang menghibur dan memiliki standar yang baik – ed) dan memikirkan dengan matang mengenai pembiayaannya secara detil. Jangan malah lari dari aspek ekonominya,” jelasnya.

Ketika tur dijalankan, ada banyak hal yang bisa dilakukan di antaranya. Terutama bertemu kawan-kawan baru dan berburu makanan. “Makanan yang paling berkesan bagi saya adalah angkringan di Jogja dan nasi Jamblang di Cirebon,” kenangnya.

Setelah Bombardir! Joe Million pun kembali mengorganisir perjalanan serupa. Bersama dengan kolektif Spacekidz yang berisikan sembilan orang rapper dan seorang beatboxer bernama sama, mereka menggelar tur spartan lima hari di lima tempat di Jabodetabek sepanjang Oktober-November yang lalu. Tur bertajuk First Trip Ever dijalankan sebagai sarana mengenalkan musik mereka, memperluas aktivitas hip hop di Indonesia, dan membentuk jaringan perkawanan di daerah-daerah yang menjadi tujuan perjalanan.

Rasanya, ia tidak bisa berhenti. Sama seperti betapa produktifnya ia menghasilkan karya. Sulit untuk menghitung secara pasti berapa banyak karya yang telah dihasilkan olehnya. (*)

Oleh: Indra Menus
Foto: Dok. Joe Million